Ticker

6/recent/ticker-posts

Perginya Ilmuwan Pencinta Buku

By: M. Ridwan

Tears are Words that Need to be Written (Paulo Coelho)



Perlu beberapa kali, bagi saya, untuk menyakinkan diri ketika membaca broadcast di WA yang menginfokan bahwa DR. M. Iqbal, dosen Fakultas Syariah UINSU, telah meninggal dunia. Baru setelah dikonfirmasi oleh DR. Syafruddin Syam, Wadek 1, Fasih, info menyedihkan ini benar adanya. Dosen yang baik hati dan menginspirasi ini telah menghadap Khalik-nya.
Saya kira, pasti bukan hanya saya yang terkejut dengan berita ini. Seluruh sivitas UINSU dan orang yang mengenal beliau pasti tidak menyangka bahwa dosen kalem dan rajin menulis ini, telah berpulang ke rahmatullah, dalam umur yang cukup muda, di saat bersamaan ia sedang menantikan gelar professor yang sudah dipenuhi segala persyaratan.

Dr. M. Iqbal adalah sosok yang penuh inspirasi, khususnya dalam konsistensinya melakonkan peran dosen penyampai ilmu, dengan memaksimalkan kekuatan tulis dan karya.

Ya, beliau dikenal sebagai dosen yang berintegritas, jujur dan sederhana. Setiap orang yang berkenalan dengannya pasti merasakan aura kenyamanan dan kebersahajaan. Beliau menampilkan sosok pa adanya, namun penuh isi.
Selain itu, publiknya mengenalnya sebagai dosen dengan produktifitas tinggi dalam hal baca tulis. Ia adalah ilmuwan pencinta buku. Berbagai karya tulis beliau, baik dalam bentuk buku, makalah maupun artikel bertaburan dan dapat diakses dengan mudah. Karya beliau diakui memiliki mutu yang tinggi dan konsistensi penulisan yang ketat. Tak heran, jika ia selalu menjadi tempat bertanya rekan sejawat terkait tulis baca atau mempercayakan karya mereka diedit oleh sosok tangguh ini.

Saya punya pengalaman berkesan dengan almarhum semasa hidup. Suatu ketika, dalam Acara Pekan Karya Dosen UINSU, -sekitar tahun 2015- ia menjumpai saya dan menawarkan barter atau tukar menukar buku. Tradisi ini tidak biasa. Lebih kaget lagi, karena ternyata ia ingin memiliki buku "The Handbook of Iblis" yang saya tulis. "Judul dan isinya unik, out of box. Saya sudah baca sebagian" katanya saat itu. Kebetulan buku itu sedang dibedah kala itu.

Yang aneh, ia ingin melakukan barter dengan bukunya yang terkenal berjudul Ibnu Rusyd dan Averroisme (edisi revisi). Buku ini fenomenal dan padat isi, yaitu menjelaskan posisi Ibnu Rusyd antara pertarungan agama dan akal di Barat. Pemikiran lebih sering disebut Averroisme. Buku ini juga mengisyaratkan bahwa doktrin agama yang dipahami secara eksklusif oleh kelompok tertentu tanpa memberi ruang penafsiran lain yang dapat dipertanggungjawabkan hanya akan menjadikan agama tersebut kehilangan peran vitalnya sebagai penggerak peradaban. Pokoknya, buku keren.

Makanya, kala itu saya tertawa setengah tak percaya.
"Buku ringan ini tak layak ditukar dengan buku "berat" karya abang. Buku saya ini hanya bacaan pengantar tidur saja bang. Saya beri gratis sajalah. Toh, buku ini bukan bacaan manusia sih" tegas saya, setengah bercanda.

Memang, buku saya bukan dimaksudkan untuk dijual. Waktu itu, saya dan isteri mendedikasikannya hanya untuk Aisha dan Raifa -puteri kami-  yang terlihat sangat gemar membaca. Niatnya, untuk menginspirasi mereka dengan karya ayah bundanya.

Tapi, disitu terlihat bagaimana seorang Iqbal mengapresiasi sebuah karya, bernama buku.
"Tidak, Ridwan". Saya suka buku seperti itu. Itu buku pasti "berat" tapi  disampaikan dengan ringan" katanya memuji. Ia malah menyamakannya dengan buku "Kyai Kocak Vs Liberal" yang dimilikinya. Lagi-lagi, saya tersipu. Nah, karena itu pula, setelah pertemuan itu, saya mencari buku Kyai Kocak Vs Liberal yang dimaksud dan menemukannya di sebuah toko buku. Sampai kini, saya selalu teringat kenangan dengannya manakala menatap  2 buku "Kyai Kocak Vs Liberal dan Ibnu Rusyd" itu di lemari buku saya. Lucunya, malah buku "The Handbook of Iblis" yang saya tulis sudah tidak ada di lemari kami.

Sepertinya, bagi seorang Iqbal, setiap buku sepertinya memiliki nafas sendiri. Buku baginya, selalu memiliki cerita tersendiri. Makanya, ia memperlakukan buku begitu spesial. Tak pernah mengeluh berhadapan dengan buku karena baginya selalu mengasyikkan. Agaknya, ia melihat bahwa buku, meski dibatasi ruang dan waktu sang penulis, namun jangkauannya bisa melebihi batas horison bumi dan waktu sehingga selalu layak diapresiasi. Ini penilaian saya terhadap apresiasinya terhadap sebuah buku.

Kini, Dr. Iqbal telah meninggalkan kita semua. Bagi keluarga besar UINSU, sosok beliau dikenang sebagai orang yang sangat baik. Kalangan sejawat selalu merasa nyaman jika berdialog dengannya. Tawanya yang khas pasti susah dilupakan. Saya menyebutnya dengan "tawa akademis", menggelitik dan menginspirasi logika. Bagi saya, ia adalah sosok dosen senior yang mengayomi. Karakternya rendah hati, karena itu, ia tak pernah malu bertanya kepada para juniornya.

Maka, tidak berlebihan jika saya sudah menganggapnya professor meski gelar resmi itu belum turun. Kapasitas dan kapabilitasnya sudah diakui oleh insan UINSU. Meskipun akhirnya Allah memutuskan lain.

Dr. Iqbal memang  telah tiada. Meninggalkan kita semua dengan pesan mungkin tanpa kata, namun  pasti dengan karya. Ia meninggalkan keluarga yang begitu mencintainya dan anak yang berkualitas hasil didikan dan disiplin yang kuat. Lagi-lagi saya teringat dengannya manakala ia menegaskan bahwa di rumahnya tidak ada TV karena ia ingin waktu keluarganya lebih produktif. Dan ini terbukti dengan prestasi gemilang yang dicapai anak--anaknya. Tradisi ini pula yang coba ditiru keluarga kami meski tak sekonsisten dirinya.

Darinya, kita belajar tentang arti sebuah komitmen dan kesetiaan kepada ilmu. Ia mendedikasikan hidupnya dengan ikhlas dan setia pada pengabdian. Tanpa banyak bicara dan wacana, sosoknya menjadi contoh yang baik bagi intelektual kini.

Selamat jalan Bang Iqbal. Kami tentu akan merindukan dirimu. Kami doakan engkau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhanmu, bertemu dengan Nabimu dan mungkin bertemu dengan Ibnu Rusyd yang engkau kagumi.
Kami sangat berduka dengan kepergianmu. Air mata menetes sudahlah pasti. Namun, sebagaimana ungkapan Paulo Coelho, "Tears are words that need to be written". Air mata adalah kata-kata yang perlu dituliskan, hanya itulah yang kami mampu lakukan.

Moga Allah mengampuni, menyayangimu dan melindungi keluarga yang kau tinggalkan, amin.

Post a Comment

0 Comments