Ticker

6/recent/ticker-posts

SINTA: Mengukur Kehebatan Peneliti Indonesia

By: M. Ridwan


 
Tahun 2017 ini, Kemenristek Dikti memperkenalkan SINTA yang merupakan singkatan dari Science and Technology Index. Namanya keren, ya?. Tapi, singkatan ini tidak ada sangkut pautnya dengan tokoh perempuan dalam cerita pewayangan yang terkenal itu.  Sehingga, kita tentu tidak akan menemukan kisah heroik Pandawa atau derita pilu si Kumbakarna yang harus mati berperang melawan Pandawa karena melindungi negaranya. Padahal, saudaranya Rahwana nyata-nyata menculik si Sinta. Kisah ini pernah saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Menyedihkan, sekaligus mencerminkan sikap bela negara seorang warga negeri yang setia.

SINTA merupakan portal yang memadukan 3 (tiga) pengukuran sekaligus yakni kinerja peneliti, jurnal dan institusi. Setelah dicek langsung di sinta.ristekdikti.go.id saya cukup tertawan dengan tampilannya. Icon SINTA tokoh wayang itu terlihat jelas. Wah, membanggakan nih. Tapi, saya yakin, para dalang mungkin tidak suka mampir ke sini :).

Terus terang, publik Indonesia memang menunggu portal indeks made in Indonesia meluncur. Selama ini memang ada sih, namun tidak komplit seperti SINTA ini.  Kalau tidak salah, ada portal yang bernama Garuda. SINTA lebih lengkap dari itu. Produk luar negeri juga ada, katakanlah Academia, Risearch Gate, dan tentunya Scopus yang terkenal itu.

SINTA sendiri lahir dari kolaborasi Kementerian Ristekdikti dan LIPI. Kedua lembaga ini memang sangat intens mendorong para peneliti Indonesia untuk mengejar ketertinggalan negeri ini dari sisi riset. Harapannya,. sebagaimana kata Prof. Nasir -Menristek Dikti- para peneliti Indonesia semakin bersemangat mempublikasikan karyanya.

Bukan rahasia umum lagi, bahwa Indonesia memang tertinggal dibandingkan negara lain bahkan oleh tetangganya sendiri. Kita masih hobby ngomong dan cuap-cuap sih, bukan menulis apalagi meneliti. Betul apa betul..?. Belum lagi cerita paten - mematen-kan hasil karya, kita kalah jauh dari Malaysia. Makanya bendera kita mereka buat terbalik, ya...Hehe...Ngak ada hubungan tuh...

Nah, berbicara masalah karya nih.
Perguruan Tinggi adalah salah satu pemasok utama produk penelitian selain lembaga-lembaga riset lainnya. Kehadiran SINTA pasti juga menjadi tolak ukur peringkat perguruan tinggi Indonesia. Maka, bagi pengelola perguruan tinggi tentu saja kehadiran SINTA ini bisa menjadi tantangan tersendiri. SINTA akan menjadi tolak ukur "kehebatan" perguruan tinggi Indonesia, meskipun yang diukur dari sisi penelitian atau publikasi ilmiahnya saja. Namun, bukankah produk perguruan tinggi selain mahasiswa adalah hasil penelitiannya?

Memang, perguruan tinggi sebagai institusi tentu bukanlah produsen penelitian langsung. Para dosen dan penelitinya-lah berperan sebagai garda terdepan. Sehingga, tanpa peran peneliti dan dosen yang dimiliki, maka perguruan tinggi tentu saja akan mandul. Maka sayangi peneliti ya...:) 

Sayangnya, SINTA tentu tidak akan mengecek bagaimana sebuah institusi pendidikan menghasilakn penelitian. Dia tidak akan mengukur apakah alokasi anggaran penelitian yang diberikan kepada sebuah institusi pendidikan besar atau kecil.  SINTA juga tidak mau tahu bagaimana environment dan kebijakan yang dimiliki sebuah institusi pendidikan.  SINTA hanya tahu berapa banyak produk penelitian itu di-publish dan dikutip. Bahasa kerennya di-sitasi. Tapi, jangan takut. SINTA justru bisa menjadi peluang bagi perguruan tinggi untuk menunjukkan kehebatannya mski minim sarana dan prasarana. 

Mungkin, ada orang yang protes. Kenapa sih harus selalu tergantung kepada pemeringkatan? Pusing....
Satu sisi benar juga, tapi banyak salahnya. Dunia sekarang mengutamakan pengukuran apalagi bagi institusi pendidikan tinggi yang dianggap berperan memajukan sebuah negara.  Lagipula, jika dilakukan dengan metode dan alat ukur yang tepat, maka sebuah indeks akan mendapatkan produk yang bagus dan bermutu. Jadi ngak perlu repot-repot.

Makanya, suka atau tidak suka, institusi peneltian harus masuk dan terlibat serius di dalam proses indeksasi apapun yang ada. Semua SDM dan pikiran harus dikerahkan terlebih untuk SINTA ini.
Lalu, apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan peringkat "bagus" di SINTA ini?. Hehe, peringkat perguruan tinggi saya belum termasuk 50 besar. Maklum, yang terdaftar baru 30 an orang. Tunggu, pembalasan kami...:)

Pertama, pastikan semua peneliti melakukan digitalisasi hasil penelitiannya. Hasil ini kemudian di-upload ke berbagai jurnal online atau repository institusi masing-masing.

Kedua, daftarkan diri di Google Scholar. Ini adalah portal yang disediakan Google untuk mengumpulkan par ascholar seluruh dunia. Link di Google Scholr akan digunakan sebagai salah satu syarat untuk mendaftar., Syukur-syukur ada Scopus-nya.

Ketiga, kunjungi, web resminya. sinta.ristekdikti.go.id.
Pastikan Anda memiliki email resmi institusi ya. SINTA akan mengirimkan kode konfirmasi ke email ini. Ikuti instruksinya lebih lanjut atau tanyakan kepada rekan Anda yang telah berhasil diverifikasi. Mudah, kok.

Sampai saat tulisan ini dibuat (22 Agustus 2017) sudah ada 304,233 dokumen dari 30,344 peneliti/penulis di Google Scholar. Jurnal yang sudah diindeks SINTA sebanyak 959 buah dengan artikel Scopus sebanyak 25,710. Tidak itu saja, SINTA juga telah mengindeks  2,080 Book Chapters dan 10,587 Conference paper. Sebuah jumlah yang cukup untuk tahun ini :). Asyik sekali mempelototi berbagai tulisan dan karya para peneliti Indonesia ini. Lupa makan dan minum tuh..

Peringkat pertama dipegang oleh ITB diikuti UGM, IPB, ITS, UI, LIPI, UNDIP, UNAND, UB, UNS. Saya lihat, Perguruan Tinggi Islam di bawah Kemenag belum termasuk 10 besar ini. Termasuk 10 besar sitasi di Google Scholar yang juga dipegang perguruan tinggi umum. Mudah-mudah ke depan -dan saya yakin- perguruan tinggi Islam pasti akan bisa mengejarnya. 

Saya mengacungkan jempol buat SINTA ini. Kendati diakui oleh menteri bahwa SINTA masih banyak kekurangan, namun saya kira ini bisa menjadi pelipur lara bangsa ini untuk berkiprah memberikan kontribusi bagi dunia, minimal untuk skala Indonesia saja. Loading-nya kok agak lama ya..?

Yang jelas, keberadaan SINTA membuat banyak peneliti menjadi tertantang dan "panas". Ini masalah harga diri dan tolak ukur kehebatan, lho. Moga saja SINTA bisa dimanfaatkan sebaik mungkin dan perguruan tinggi di Indonesia khususnya unit penelitiannya memberikan perhatian penuh terhadap si cantik SINTA ini. Semoga...Selamat ber-SINTA ria...:). Tunjukkan merah putihmu...

Post a Comment

0 Comments