By: M. Ridwan
Berat rasanya menggunakan judul di atas. Penggunaan kata "kita" tidak bermaksud menyatakan bahwa saya dan Anda terlibat dalam kegilaan ini. Saya memasukkan kata "kita" hanya untuk mewakili spesies manusia saja. Moga saja prilaku manusia yang mengeruk kekayaan dari derita jamaah umrah yang terkatung itu tidak terjadi pada diri kita. Amin.
Tadi pagi, di mushalla kecil kami, kajian subuh membahas topik harta yang diperoleh dari jalan yang zalim. Pembahasannya panjang. Tidak cukup sekali pertemuan saja. Intinya, kita harus memastikan harta yang kita peroleh itu bersih dari kezaliman.
Zalim adalah tindakan menyimpang dari ketentuan Allah. Lawannya adalah adil. Kezaliman itu banyak memiliki banyak jenis termasuk di dalam mencari harta. Kezaliman itu bisa terkait atas hak Allah, hak manusia tertentu dan hak masyarakat keseluruhan. Dalam kasus travel umrah, kezaliman ini bisa dimasukkan dalam kategori ketiga yaitu menzalimi hak masyaraka.
Zalim adalah tindakan menyimpang dari ketentuan Allah. Lawannya adalah adil. Kezaliman itu banyak memiliki banyak jenis termasuk di dalam mencari harta. Kezaliman itu bisa terkait atas hak Allah, hak manusia tertentu dan hak masyarakat keseluruhan. Dalam kasus travel umrah, kezaliman ini bisa dimasukkan dalam kategori ketiga yaitu menzalimi hak masyaraka.
Tapi, saya tidak membahas aspek akad dan instrumen penipuan ini. Kasus First Travel ini memang menyita perhatian publik. Bahkan bisa dimasukkan ke dalam White Colar Crime itu. Soalnya, pelakunya berpenampilan necis dan kayak selebgram sih. Namun, kali ini saya lebih suka membahas tentang "kegilaan" atau Money Madness itu saja. Pinginnya, supaya prilaku itu tidak menulari diri ini. Katanya sih, kegilaan itu bisa menular, sama seperti semangat dan kebahagiaan. Coba saja kalau tidak percaya. Hehe..
Kembali ke First Travel.
Modus "penipuannya" sebenarnya tidak canggih-canggih amat. Sama seperti perusahaan investasi bodong yang menawarkan produk murah meriah dan biasanya tidak logis. Skema yang digunakan adalah Ponzi. Saya pernah menulis tentang skema ini di tulisan-tulisan terdahulu dimana modusnya berupa dana nasabah terdahulu dibayar dari nasabah berikutnya. Seperti piramida dan saling terkait, Satu bagian runtuh, maka runtuhlah semua bangunan. Sayangnya, bisnis berskema Ponzi selalu muncul. Pelakunya tidak ada kapoknya. Kali ini produknya adalah "Umrah Murah". Siapa sih yang tak tertarik?. Si pelaku ini sangat nekat. Mereka berani berurusan dengan Tuhan, menipu tamu Allah, maka wajar kena "hukuman langsung", bukan?.
Modus "penipuannya" sebenarnya tidak canggih-canggih amat. Sama seperti perusahaan investasi bodong yang menawarkan produk murah meriah dan biasanya tidak logis. Skema yang digunakan adalah Ponzi. Saya pernah menulis tentang skema ini di tulisan-tulisan terdahulu dimana modusnya berupa dana nasabah terdahulu dibayar dari nasabah berikutnya. Seperti piramida dan saling terkait, Satu bagian runtuh, maka runtuhlah semua bangunan. Sayangnya, bisnis berskema Ponzi selalu muncul. Pelakunya tidak ada kapoknya. Kali ini produknya adalah "Umrah Murah". Siapa sih yang tak tertarik?. Si pelaku ini sangat nekat. Mereka berani berurusan dengan Tuhan, menipu tamu Allah, maka wajar kena "hukuman langsung", bukan?.
Logika sederhananya, tidak mungkin biaya umrah semurah itu (14,3 juta). Biaya segitu tidak masuk akal menurut Kemenag. "Berapa lagi keuntungan yang bisa diambil perusahaan dengan angka seminim itu?" demikian pertanyaan awal pemerintah dan travel lain melihat "harga promo" gila-gilaan dari First Travel (FT) ini.
Sayangnya, logika ini tidak sepenuhnya bisa mengubah niat konsumen. Mereka tentu tidak salah. Siapa sih yang tak tergiur?. Ada izinya pula. Ada artis juga yang jadi endorswment. Lagi-lagi, si artis juga mungkin tidak salah. Ia bisa jadi korban juga. Berabe, bukan?
Sayangnya, logika ini tidak sepenuhnya bisa mengubah niat konsumen. Mereka tentu tidak salah. Siapa sih yang tak tergiur?. Ada izinya pula. Ada artis juga yang jadi endorswment. Lagi-lagi, si artis juga mungkin tidak salah. Ia bisa jadi korban juga. Berabe, bukan?
Kisah First Travel berakhir sudah.
Bos FT dan isterinya ditangkap. Tidak tanggung-tanggung, uang yang berhasil di-tilep mencapai 700 Milyar. Jumlah yang fantastis. Hampir sama dengan kasus BLBI beberapa tahun lalu. Korban yang berjatuhan sudah berada pada kisaran 70 ribu orang.Wajar saya masukkan kata "kegilaan" dalam judul di atas, bukan?
Bos FT dan isterinya ditangkap. Tidak tanggung-tanggung, uang yang berhasil di-tilep mencapai 700 Milyar. Jumlah yang fantastis. Hampir sama dengan kasus BLBI beberapa tahun lalu. Korban yang berjatuhan sudah berada pada kisaran 70 ribu orang.Wajar saya masukkan kata "kegilaan" dalam judul di atas, bukan?
Dulu, di Medan ada beberapa perusahaan investasi bodong sejenis ini.
Yang paling terkenal adalah BMA. Saya lupa apa kepanjangannya. Kejadiannya pada akhir 90-an dan awal tahun 2000. Perusahaan ini memakan ratusan ribuan korban. Ketika berdiri, perusahaan ini memunculkan "kegilaan massal". Betapa tidak, semua masyarakat berebut membiakkan uangnya. Berlomba menjadi OKB dan membanggakan betapa bamyaknya uang yang bisa diperoleh. Perusahaan turunannya juga bermunculan, lengkaplah "kegilaan" ini.
Yang paling terkenal adalah BMA. Saya lupa apa kepanjangannya. Kejadiannya pada akhir 90-an dan awal tahun 2000. Perusahaan ini memakan ratusan ribuan korban. Ketika berdiri, perusahaan ini memunculkan "kegilaan massal". Betapa tidak, semua masyarakat berebut membiakkan uangnya. Berlomba menjadi OKB dan membanggakan betapa bamyaknya uang yang bisa diperoleh. Perusahaan turunannya juga bermunculan, lengkaplah "kegilaan" ini.
Bukan itu saja, kalangan agamawan dan cerdik pandai saat ini juga terpecah, menjadi kubu pro dan kontra. Antara yang membolehkan dan mengharamkan. Tentu saja, money wins, uang selalu menang. Masyarakat selalu memilih fatwa yang membolehkan. Ketahanan iman masyarakat saat itu digoyang dan hampir berada pada titik nadir. Semua takluk di hadapan uang yang bertimbun.
Saat itu, kesuksesan mulai dinilai dari kemampuan mengambil porsi terbanyak dari produk BMA. Orang yang membeli produk tersenyum riang. Sedangkan, orang tak memiliki uang, siap-siap gigit jari menyaksikan satu persatu nasabah BMA membawa pulang uang. Mimpi kaya terbayang di pelupuk mata. Nilai pendidikan dan kerja tergerus. Seperti tak ada nilainya.
"Kalau kalian kuliah untuk kerja dan mencari uang, maka beginilah caranya. Buat apa kuliah repot-repot, kalau ujung-ujungnya mencari uang. Lebih bagus, uangnya dimasukkan saja ke BMA," ujar seorang Bapak kepada kami para mahasiswa yang saat itu masih asyik mengkaji kitab kuning dan buku.
Kondisi saat itu betul-betul mabok.
Saya katakan mabok, dan kisruh. Saat itu, kita tidak aneh melihat ibu-ibu yang menjinjing uang banyak atau koper berisi uang. Membawanya ke perusahaan yang terletak di Jalan Kapten Muslim itu.
Mungkin, ada satu dua orang "waras" yang masih bisa bertanya, "Darimana perusahaan bisa membayar hasil investasi yang kisarannya 80-90% itu?. Namun, suara itu pasti tak terdengar. Kalah riuh dengan gelombang OKB dan teriakan kegembiraan mereka ketika uangnya berhasil beranak pinak di BMA.
Dengar-dengar sih, kalangan terpelajar dan para bankir yang pintar "menghitung uang", saat itu juga, banyak yang mencoba peruntungan nasib di BMA. Betul-betul mabok, bukan?
Syukurlah, BMA akhirnya ditutup dengan korban ratusan ribuan orang. Hampir 1,2 Trilyun hilang dilarikan pemiliknya. Raib entah kemana, seperti ditelan bumi. Para "pemenangnya" memang ada. Menurut mereka kiatnya adalah "Tahu timing yang tepat kapan masuk dan keluar". Sama seperti pesan karikatur di tulisan ini. Jumah mereka sedikit dan kini tertawa merdeka. Makan tuh, uang haram.
Seandainya, BMA tetap ada sampai sekarang, maka dapat dipastikan akan banyak perguruan tinggi yang tutup. Akan ada ribuan karyawan yang resign, dan akan ada ratusan ribuan hektar tanah dan sawah tergadai dan dijual. Syukurlah, kondisi masyarakat "mabok" saat itu tidak berlanjut. Mabok duit dan kekayaan terhenti sendirinya dengan kaburnya si pemilik BMA, sampai kini.
Seolah tidak kapok. Para pendamba kekeyaan instan terus bermunculan. Puluhan perusahaan sejenis muncul bak jamur di musim hujan. Saya menghitung siklusnya 5 tahun sekali. Baik yang terang-terangan maupun tersamar. Ada Koperasi Langit Biru, Pandawa, dan First Travel ini. Semua pendirinya terlihat "mabok duit", dan menularkan "kemabokan" ini. Tentunya, mereka juga bermental "tega"dan tidak belas kasihan. Mereka pintar memanfaatkan naluri terdasar manusia, yaitu serakah, ingin cepat kaya dan mencari keuntungan maksimal.
Maka, selayaknya, kita mengambil pelajaran dari fakta ini. Saatnya kita menakar dan mengukur ke-"gilaan" kita terhadap harta dan duit. Maaf, saya menggunakan kata itu untuk memudahkan peresapan saja ya:).
Maka, selayaknya, kita mengambil pelajaran dari fakta ini. Saatnya kita menakar dan mengukur ke-"gilaan" kita terhadap harta dan duit. Maaf, saya menggunakan kata itu untuk memudahkan peresapan saja ya:).
Nabi mengatakan, bahwa akan datang suatu jaman, dimana manusia tidak peduli lagi darimana uangnya diperoleh. Apakah dari jalan haram atau halal. Jaman yang diramal nabi pasti sudah terjadi kini. Lihat saja, apa yang dilakukan manusia dalam mencari harta. Semua jalan ditempuh dan disikat. Tak heran jika Mahatma Gandhi mengatakan, "Earth can satisfy everyone need, but not every man greed". Artinya, "Bumi ini pasti bisa memuaskan setiap kebutuhan manusia, namun ia tidak mampu memuaskan satu orang serakah".
Apa pesan tulisan ini?
Pertama, sebagaimana nasehat guru saya dulu. Banyak-banyalah berserah diri kepada Tuhan?, Lho, kok begitu?. Saya kira, di tengah kondisi dunia seperti ini sangat memungkinkan bagi siapa saja untuk terjerembab ke dalam kondisi mabok dalam mencari harta. Tanpa bantuan Tuhan yang memberikan hidayah, maka kita pasti akan jatuh ke dalam jurang yang sama. Maka bertemanlah dengan orang yang waras dan normal saja. Demikian, katanya yakin dan tentunya membuat saya bingung.
Kedua, tahan pandangan. Untuk apa pula?. Ini nasehat Ibnu Qayyim, lho. Menurutnya, pandangan mata itu melahirkan keinginan. Semakin banyak dilihat, maka semakin banyak keinginan. Maka kurangi dan hindarkan mata dari banyak melihat, apalagi yang haram dan menggoda. Dalam kaitan dengan harta, kurangi tuh melihat kendaraan orang lain, rumah orang, pelesiran mereka dan tentunya isteri orang ya.:). Kalau tidak ditahan, nanti kepingin-nya banyak. Orang pesiar ke Paris, kita juga pingin. Mereka berfose di depan mobil Ferrari, Moge, kita juga demen. Padahal, kita tidak tahu apakah mobil dan rumah itu kredit atau numpang mejeng doang. Hehe..bisa berabe.
Ketiga, perbaharui mindset tentang eksistensi.
Nasehat ini saya baca dari sebuah tulisan. Lupa tuh dimana sumbernya. Menurutnya, saat ini, demi eksistensi diri, manusia memaksa diri untuk tampil beda, wah dan biar dianggap sukses. Pingin dianggap eksistensinya ada. Mumpung ada medsos dan media, why not?. Apakah benar demikian?, wallahu a'lam. Ukur saja diri masing-masing. Kalau saya sih memang mengakuinya, Soalnya sering juag melakukannya. sih......Upppss....
Makanya, jangan sering nonkrong di mall dan di depan TV ya,,apa hubungannya ya? :),
Hehe,,ini pasti sulit sih. Soalnya, dunia saat ini penuh dengan pemandangan indah. Perhiasannya banyak. Hiburannya beragam dan rasanya juga nikmat. Weleh-weleh..
Ketiga, banyak-banyak bersyukur dan bersedekah. Ini nasehat para orang tua dulu. Melihatnya harus ke bawah, jangan ke atas. Terkait amal ibadah dan kebaikan, maka harus melihat orang yang lebih baik dan taat. Namun, untuk harta, lihatlah mereka yang lebih susah dari kita, supaya mudah bersyukur. Nasehat tua yang pantas kembali diresapi.
Moga kita terhindar dari apapun "kegilaan" yang muncul saat ini. Berserah diri kepada Tuhan dan besyykur, itu jawaban pastinya. Wallahu a'lam.
Selamat Menuju Kewarasan dan Merdeka dari kegilaan. Semoga...!!!


0 Comments