By: M. Ridwan
Hari ini, kita memperingati HUT RI ke 72. Seperti biasa, momen ini pasti diperingati dengan meriah. Dari Ibukota sampai pedalaman Papua, Dari Merauke sampai ujung Sabang, selebrasi moment HUT RI pasti dengan mudah ditemukan. Tentu saja, moment seru perlombaan panjat pinang, lari dgn memggunakan sarung atau goni, adalah pemandangan rutin tahunan. Di kampung saya, perlombaan dayung sampan telah dilakukan puluhan tahun. Seru....
Seperti biasa pula, berbagai tulisan menyoroti HUT RI berseliweran, entah itu media cetak atau online, baik bernada optimis dan tentu saja ada yang pesimis. Nada pesimis biasanya mengkaitkan kondisi Indonesia yang "katanya" belum merdeka, masih dijajah asing, terkebelakang dan lainnya. Pokoknya, bernada keprihatinan, gitu. Saya tersenyum geli membaca beberapa meme unik, misal,
" Tambang emas, batubara, dan timah kita dicaplok asing, kita hanya kebagian tarik tambang". Atau sebuah stiker di beca berbunyi "Indonesia Tanah Airku, tapi tanah dan air harus kubeli". Kreatif dan lucu sekali.
" Tambang emas, batubara, dan timah kita dicaplok asing, kita hanya kebagian tarik tambang". Atau sebuah stiker di beca berbunyi "Indonesia Tanah Airku, tapi tanah dan air harus kubeli". Kreatif dan lucu sekali.
Bahkan, ada yang mempertanyakan tradisi panjat pinang. Katanya, tradisi itu adalah warisan penjajah. Konon, penguasa Belanda saat itu ingin menghibur diri. Maka dibuatlah acara panjat pinang dimana ratusan pribumi berebutan hadiah yang digantung di puncak pinang yang telah dilumuri minyak. Nah, menurut sumber ini, aksi memanjat dan terkadang injak kepala sambil jatuh menjatuhkan menjadi kegembiraan para Belanda saat itu. Kata si empunya info, tradisi panjat pinang harus digantikan dengan sesuatu yang lebih kreatif.
Saya juga tidak tahu apakah info ini benar atau tidak. Namun, yang jelas, menurut saya, momen HUT RI pasti memberikan kegembiraan tersendiri. Momen HUT RI pasti tak tergantikan dengan acara lain, maka saya kira terlalu jauh jika lantas mengkaitkannya dengan warisan Belanda segala. Take it easy, saja.
Lantas bagaimana dengan meme tarik tambang tadi? Benarkah tambang kita dimiliki sepenuhnya oleh asing?
Saya kira tidak juga. Migas dan non migas kita memang cukup banyak. Namun, untuk mengekplorasinya butuh investor dan kontraktor. Nah, hasil dari penggalian para kontraktor nanti baru dibagi dengan pemerintah. Dikurangi cost recovery dulu, yaitu biaya ekplorasi. Barulah dilakukan pembagian 85:15 %. Jumlah ini 85% untuk pemerintah lho.
Jadi kalau, investor dan kontraktor tidak menemukan sumber minyak dan gas dalam jangka 6 tahun, maka rugilah mereka. Gigit jari. Artinya, mereka salah hitung dan Indonesia tidak rugi. Nah, siapa bilang Indonesia milik asing?. Kita yang punya lho. Asing hanya "menguasai'.
Saya kira sih, jangan terlalu cepat percaya meme atau broadcast medsos apalagi ikut mem-viral-kannya Ada baiknya lakukan riset dan cross-check dulu. Lagipula, apa kita mau hidup dalam dunia yang tertekan dan stress terus? Bisa pula dosa kita bertambah jika infonya tidak benar. So, jangan sering buat orang stress ya :)
Lalu, apakah kita sudah merdeka saat ini?
Tentu sudah lah. Buktinya, tiap tahun diperingati. Sudah 72 kali pula. Jalan-jalan raya penuh sesak dengan berbagai perayaan. Warna-warni bendera merah putih begitu indah terlihat.
Tentu sudah lah. Buktinya, tiap tahun diperingati. Sudah 72 kali pula. Jalan-jalan raya penuh sesak dengan berbagai perayaan. Warna-warni bendera merah putih begitu indah terlihat.
Kalau masih tidak percaya. Lihat saja, di mall dan pusat perbelanjaan. Bukankah, kita bebas merdeka memilih dan membeli apa saja, bukan? Paling-paling kita cuma tidak merdeka membawa barang-barang itu pulang, maklum uang untuk membelinya ngak ada. Laporan BPS menyatakan daya beli mayarakt Indonesia menurun di semester awal 2017 ini, bro: ), makanya banyak mall mulai tutup. Tambah miskin ya. Merdeka..!!
Kita juga merdeka kok, untuk memajang photo selfie dan update status apapun. Paling-paling, polisi akan menangkap kalau kita update photo dan status yang mengandung SARA, hate speech atau porno. Serulah. Kita terlena di depan gadget dan miskin karya.
Kita merdeka, bukan?
Mau bukti lagi?
Para pelajar dan generasi muda kita merdeka untuk menuntut ilmu. Paling-paling sebagian mereka sudah tercekoki dengan narkoba. Maklum, para bandar narkoba pun saat ini juga merdeka meloloskan ber-ton narkoba lainnya. Akibatnya, kita pun masih merdeka dan bebas menyaksikan satu persatu masa depan remaja kita dirampas oleh para bandar narkoba karena hukuman untuk mereka masih ringan. Merdeka...!!!
Kurang bukti apa lagi?
Buktinya, kita masih bebas memilih berita koruptor mana yang menarik untuk disimak. Soalnya banyak sih. Mereka juga masih merdeka kok. Hukumannya minim sih. Kurang merdeka apa kita?
Siapa bilang, kita tidak merdeka?
Kita sangat merdeka saat ini. Masih bisa bernafas tanpa membayar. Makan dan tidur tanpa menyewa mulut dan mata. Masih bisa korupsi dengan ganjaran hukuman minimalis. Masih bisa tertawa riang meski hutang menumpuk dan masih bisa tidur enak, kendati bingung cara memiliki rumah dan tanah atas nama sendiri dan membayar pajaknya.
Kita sangat merdeka saat ini. Masih bisa bernafas tanpa membayar. Makan dan tidur tanpa menyewa mulut dan mata. Masih bisa korupsi dengan ganjaran hukuman minimalis. Masih bisa tertawa riang meski hutang menumpuk dan masih bisa tidur enak, kendati bingung cara memiliki rumah dan tanah atas nama sendiri dan membayar pajaknya.
Termasuk, kita masih bisa
merdeka bertengkar setiap hari, saling ejek dan cemooh dan setia
mempelototi TV dan gadget kendati biaya pulsa dan listrik terus naik.
Merdeka..!!!!
Bahkan, kita merdeka untuk memilih mau masuk surga atau neraka. Masalahnya, hidup di dunia dengan pola modern seperti ini, maka kita memang lebih mudah "tergiring' dan "terdorong" untuk ikut kloter ke neraka, lho. Tidak percaya?, intropeksi saja apa kerja mata, telinga, lisan, tangan, hati dan pikiran kita setiap detiknya. Lebih banyak untuk surga atau untuk neraka, ayo...hehe
Nah, kurang apa merdeka apa lagi kita di negeri ini.
Kita sudah merdeka kok bro, buktinya, pesawat N219 bisa mulus terbang dan mendarat, kendati komponen lokal baru 40% dan IMF pernah menghentikan program N290 karena dianggap high cost. Tapi Indonesia bisa bukan?
Yang terakhir,,
Kita telah merdeka kok.
Buktinya, sebagian besar warga negeri ini masih bisa merokok bebas kendati tercantum larangan di kemasannya. Kita merdeka untuk tidak mempedulikan ancaman penyakit akibatnya.
Lalu, apa makna kemerdekaan bagiku?
Saya kira, yang paling harus dikejar adalah kemerdekakan batin dan jiwa kita dari segala belenggu, keresahan dan keterasingan. Memerdekan diri dari perbudakan nafsu tamak, sombong dan zalim. Tanpa itu, mungkin saja kita tampak merdeka secara lahir, di mata manusia dan negara lain, namun nun jauh di relung jiwa, ternyata kita masih terjajah oleh nafsu angkara dan kehinaan. Bisa saja, kita sudah meraih kemerdekaan Indonesia dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, tapi mungkin saja ajaran Tuhan sudah tidak merdeka dipraktikkan.
Wah, sampai sedalam itu ya bro?
Ya iyalah...
Ya iyalah...
Makanya, ngak usah terlalu banyak mikir. Nikmati saja HUT ke-72 ini dengan bahagia dan ikuti perlombaan pajat pinang itu. Simpel bukan? Kemerdekaan itu ya begitu saja, bro. MUdah-mudahan, kita masih bisa merayakan hal-hal ini di tahun-tahun mendatang.
Wallahu a'lam.
Merdeka...!!!!
Wallahu a'lam.
Merdeka...!!!!


0 Comments