By: M. Ridwan
Pada masa kanak-kanak, saya lazim bertengkar dengan adikku, Fauzi, tatkala bermain catur. Permainan yang awalnya mengasyikkan ini sering "berantakan" bahkan porak-poranda. ketika salah satu dari kami memenangkan permainan. Entah itu ketika saya kena "skakmat" atau giliran dia yang tidak bisa lagi menggerakkan sang raja alias skakmat juga.
Berantakan yang saya maksud adalah ketidaksiapan kami menghadapi kekalahan dan kemenangan. Biasanya, pertarungan catur dilanjutkan dengan pertengkaran lanjutan dan sering berakhir dengan tangisan atau aksi destruktif seperti membanting catur. Makanya, bidak catur sering hilang.
Saya sering tertawa ketika mengingat kejadian ini. Kalau diingat-ingat, malu juga sih, "kok, sesama saudara bisa bertengkar hanya karena permainan yang harusnya menyenangkan, bukan?".
Nah, biasanya, ketika terjadi pertengkaran, ayah kami, selalu mengingatkan untuk bisa bermain fair dan saling menghargai. Menurutnya, kami harus sportif, menghargai yang kalah dan mau menerima kekalahan. "Permainan itu harus melatih kalian menjadi dewasa yaitu menjadi pemenang yang rendah hati dan menjadi pihak kalah yang baik. (Be a humble winner and good looser).
Kedewasaan adalah kata kunci yang sering ditekannya. Dia biasanya tertawa melihat reaksi kami. Namun, tak jarang ia juga marah ketika kami melakukan aksi tak terpuji pasca pertarungan catur itu. Biasanya, papan catur akan ia simpan sebagai hukuman atas sikap tidak sportif kami.
Lucunya, bagi kami, yang saat itu masih anak-anak, kedewasaan itu tak bisa kami pahami dengan utuh. Ketika permainan berakhir, yang muncul hanyalah perasaan "telah mengalahkan" dan "dikalahkan". Tidak heran, ketika permainan catur itu usai, pihak yang menang biasanya tertawa senang dan tak jarang mengejek, sedangkan pihak yang kalahpun tak bisa menerima kekalahan secara baik. Ada saja yang disalahkan. Entah itu gerak langkah yang khilaf atau pihak lawan yang super curang. Sakitnya tuh di sini.
Perlu waktu puluhan tahun bagi kami, untuk mampu memahami arti kedewasaan yang dimaksudkan sang ayah. Syukurlah, seiring bertambahnya umur, perasaan menang dan kalah tidak ada lagi bersemi di hati kami. Dan, telah digantikan dengan perasaan persaudaraan yang kuat. The brotherhood of family itu ternyata lebih mengasyikkan. Kini, kami hanya akan mentertawakan "kebodohan" waktu itu dan tiba pula giliran menasehati pentingnya arti persaudaraan kepada anak-anak kami. Anda pasti memiliki pengalaman yang tak jauh beda dengan kami, bukan?
Nah, beberapa hari ini, saya teringat kembali dengan kata-kata ayah saya. "Be a humble winner and a good looser" adalah jargon yang saya kira tepat sekali digunakan untuk menyikapi keadaan pasca pilkada DKI saat ini.
Betapa tidak, jujur harus kita akui bahwa pilkada DKI beberapa minggu lalu betul-betul menguras tenaga pikiran dan energi kita, tidak hanya bagi warga DKI, namun juga warga seantaro negeri.
Ibarat bermain catur, saya kira, semua langkah telah diperhitungkan masing-masing paslon dan timses secara matang, untuk memenangkan jagoannya. Semua langkah dan strategi dilakukan. Bentuknya macam-macam. Dari mulai pencitraan positif maupun kampanye negatif, dari pengerahan masa sampai pemberian sembako dan tentunya mengobok-obok media sosial.
Saya tidak tahu pasti, berapa biaya riil yang telah habis untuk "permainan orang dewasa"" bernama pilkada ini. Katanya sih, biaya kampanye dari masing-masing paslon hanya puluhan milyar. Tapi, saya yakin, biaya yang telah dikeluarkan pasti sangat banyak. Belum lagi kalau kita menghitung cost atas pikiran galau atau hati kotor yang muncul. Wah Bbsa puluhan trilyun, lho. Kalau dibelikan papan catur, bisa dapat berapa buah ya? Jutaan, kali...:)
Nah, biasanya, semua pihak yang terlibat pemenangan pilkada, merasa benar dengan apa yang telah dilakukannya. Karena semua pihak berorientasi kemenangan, dan yakin dengan keberhasilan strategi langkahnya, maka ketika hasil akhir diumumkan, maka berjuta perasaan dan sikap tak dapat dielakkan. Sang pemenang bisa menjadi pongah dan tertawa puas. Maklumlah, energi sudah terkuras habis. Sebaliknya, perasaan pihak yang kalahpun tentunya tak kalah tragis. Hati tercabik, gundah gulana dan mungkin merasa terzalimi membuncah dan bercampur-baur.
Perasaan ini mungkin sama dengan perasaan kami ketika bermain catur pada masa anak-anak itu, ya, dimana pemenang pada permainan kami sering pongah, tidak rendah hati bahkan sering mengejek, sementara pihak yang kalah pastilah tidak rela dengan kekalahan itu. Entah siapa yang memulai. Mudah-mudahan, ini hanya asumsi pikiran saya saja ya.
Namun, kalau dilihat dari dinamika di media sosial, pasca pilkada, terlihat bahwa warga warga DKI bahkan mungkin seantaro negeri belum bisa move on dari pilkada ini. Baca saja tulisan di berbagai media yang mengupas tentang ini. Ada bully, nada sinis, saling ejek, masih terlihat ramai dan terkadang bisa membuat hilangnya pertemanan di media sosial ya,,hehe.
Maka, saya kira, kedewasaan kita mutlak diperlukan saat ini. Untuk memahami arti sebuah pesta demokrasi mungkin butuh puluhan tahun lagi. Sama seperti ketika kami bermain catur pada masa kanak-kanak. Saat itu, kami ngotot dengan pendirian masing-masing tentang siapa yang layak menang dan kalah. Karena masih anak-anak kami tidak tahu arti kedewasaan bersikap sebagaimana dikatakan orang tua kami. Yang kami tunjukkan adalah sikap ngotot dan merasa benar sendiri.
Sekarang, kami memahami bahwa kedewasaan itu ternyata identik dengan berkurang atau hilangnya ke-ngototan antara sesama saudara dan berganti dengan sikap tepo seliro, mengalah dan memperlakukan pihak lain sebagai saudara. Kalaupun ada sikap ngotot, boleh saja. Tapi tentunya ngotot berupa sikap menjaga pesaudaraan dan membaguskan masa depan keluarga, yang dalam konteks ini, adalah keluarga besar bernama Indonesia.
Saya kira di situlah kuncinya. Sederhana namun berat. Perasaan bersaudara adalah indikator kedewasaan itu. Banyak permasalahan yang akan selesai jika faktor persaudaraan dikedepankan. Tentunya tulus dari hati dan bukan hanya klise. Kita tentu tidak akan melakukan pilihan lain misal, wilayah DKI kita bagi menjadi dua. Satu wilayah utk 2,3 juta pemilih Ahok-Djarot dan wilayah lain untuk 3,2 juta pemilih Anies-Sandi. Ngak lucu, bukan?. Kita harus membuang pernusuhan, bersaudara kembali. Tidak ada yang lain.
Dalam kasus pilkada DKI, persaudaraan ini sebenarnya telah muncul. Ya, persaudaraan sesama pendukung, baik pendukung Ahok maupun Anies. Sesama pendukung pasti merasa bersaudara ketika bergerak memenangkan calon masing-masing, bukan?. Ada perasaan senasib sepenanggungan untuk memenangkan calon. Bahkan, mungkin ada pemakluman jika ada satu dua orang timses yang menyimpang dari strategi fair, bukan?. Kenapa dimaklumi?, jawabannya karena sesama saudara toh, jangan dipermasalahkan. "Kalaupun salah, toh mereka adalah saudara kita dan bertujuan untuk keluarga kita". Bukankah demikian?
Maka, saya bersyukur, pilkada DKI berakhir. Seandainya waktu pilkada bertambah satu atau dua bulan lagi, niscaya mesin negeri bernama "persatuan Indonesia" mungkin saja akan overheating, ngadat atau meledak. Pilkada DKI- meminjam istilah Imam Besar New York, Syamsi Ali- memang cukup brutal.
Sekarang pilihan berada di tangan kita. Akankah kedewasaan itu akan kita kedepankan dan menggantikannya dengan terus bersikap permusuhan? Ataukah kedewasaan itu mulai kita tumbuhkan dengan ikhlas dan tulus. Sejujurnya, bukankah lebih asyik dan tentram melihat sesama kita duduk rukun dan saling tersenyum dan tidak terus memperuncing perbedaan suku, agama, ras dan pilihan politik?.
Apakah kita masih akan terus asyik ngotot mempertahankan sikap kekanak-kanakan yang suka sekali "bertengkar", ataukah kita berjuang dengan aksi produktif dan mengayomi sesama saudara?.
Hanya waktu yang bisa menjawab dan hanya Tuhan yang menjadi saksi bagi kita yang pintar dan cerdas-cerdas ini. Ayo tunjukkan Indonesiamu..!!!. Wallahu a'lam.


0 Comments