Malang benar nasib warga Sulawesi yang dimangsa ular, minggu lalu. Saya sempat menyaksikan detik-detik python pembunuh itu dibedah. Benar, warga malang itu memang berada di perutnya. Sangat mengerikan. Saya tak menyangka bahwa ular python sanggup memangsa manusia yang justru melebihi ukuran badannya.
Berbagai analisis mencoba menjelaskan penyebabnya. Salah satu ditengarai karena penyempitan habitat hewan tuli berdarah dingin ini. Mangsa alamiah mereka berkurang. Tak ayal, rasa lapar membuat mereka berpindah ke pemukiman warga. Apa saja dilahap termasuk manusia. Lapar memang mampu membuat gelap mata. Tidak hanya manusia karena kali ini dialami oleh makhluk yang memang memiliki penglihatan jelek ini. Yang jelas, kita berharap kejadian ini tidak terulang kembali. Amin.
Ular itu hewan unik. Ada yang berbisa dan tidak, seperti ular python. Ada yang tinggal di darat maupun air. Mangsanya adalah hewan lain bahkan sesama ular. Dulu, ketika masa kecil di desa, kami biasa bermain dan menangkap berbagai jenis ular seperti python dan kobra, yang sering kami sebut ular sendok. Anak-anak suka menggoda ular itu, yang beberapa kali bahkan mampir ke dapur rumah kami. Entah dimana rasa takut kami saat itu. Tapi, saat ini, ular-ular itu sudah menghilang, sama seperti hilangnya keberanian kami bermain-main dengan ular kembali. Syukurlah.
Uniknya, pengertian ular kemudian diperluas sebagai simbol karakter. Katanya, ular sering diidentikkan dengan prilaku licik, tukang tipu atau manusia yang suka memangsa dan mengorbankan orang lain. Konon, iblis dulu menjelma menjadi ular ketika menggoda Adam. Kendati kisah Iblis menjadi ular ini tidak disebutkan dalam Alquran, namun masyarakat dunia menyakini seperti itu. Makanya, ular dianggap simbol kejahatan dan tipu menipu. Makanya, tukang sihir Fir'aunpun memamerkan sihir berupa ular pula.
Di dunia kedokteran, ular digunakan sebagai simbol medis. Katanya sih, simbol ini berarti bahwa obat pada satu sisi mampu menyembuhkan namun akan menjadi racun ketika dikonsumsi secara berlebih, seperti bisa ular. Whatever-lah.
Saya tertarik membedah karakter ular yang licik tadi.
Kalaulah kelicikan adalah karakter ular dan manusia yang memiliki karakter ini juga bisa dianggap ular, berarti banyak "ular" di negeri ini, dong?. Soalnya, banyak manusia saat ini yang gemar mengorbankan orang lain. Ada prilaku saling memakan, membunuh dan menelan apa saja yang ada di depannya. Karakter dingin, kalem namun ganas adalah karakter yang mungkin biasa saat ini. Diam-diam mengerikan. Tak salah saya menyebut negeri ini sebagai negeri "ular" bukan?.
Banyaknya fenomena ular yang keluar dari sarangnya saat ini boleh jadi mengingatkan kita bahwa prilaku licik ala ular harus dijauhi. Kita harus membuang karakter ganas dan asal telan. Apalagi menelan yang bukan hak kita. Kita harus bisa dipercaya dan bukan menyerang dari belakang seperti yang dilakukan python kepada warga Sulawesi di atas.
By the way, meski ganas, ular itu hewan yang tidak serakah-serakah banget, lho. Pencernaannya lambat, sehingga dia akan tidur selama berhari-hari setelah memangsa korbannya. Satu mangsa sudah cukup. Nah, beda banget dengan manusia yang justru tidak pernah merasa kenyang. Semua dimakan dan tanpa henti. Manusia lebih ular dari ular ya..? Wallahu a'lam.


0 Comments