“Do all the good you can. By all the means you can. In all the ways you can. In all the places you can. At all the times you can. To all the people you can. As long as ever you can.”(Wise Words)

Saya kira, hidup di negeri ini mengasyikkan. Alamnya indah, subur dan permai. Silahkan ekplore di berbagai wilayah Indonesia. Ada pantai putih nan bersih. Ada taman laut dan pegunungan yang menggoda. Ada budaya dan kearifan lokal yang menawan. Sungguh eksotis dan tak terlupakan. Pokoknya asyik untuk selfi, wefi dan youfi,,:)
Maka, sebutan "zamrud khatuliswa" itu tidak berlebihan untuk negeri tropis ini. Atau, seperti kata orang Arab yang pernah berkunjung ke mari, "Indonesia adalah surga yang diceritakan di dalam Alquran itu, ". Ada sungai yang mengalir, kebun hijau dan subur, dan buah-buahan berlimpah. Wah, seharusnya kita merasa tersanjung. Makanya, saya yakin bahwa menjadi warga negeri ini adalah sebuah anugerah, it is a gift and blessing from God. Believe it or not.
Tapi, mungkin tidak semua setuju dengan pernyataan saya di atas. Setidaknya jika dilihat dari kekhawatiran yang terlihat. Ada kekhawatiran memuncak terkait masa depan negeri ini. Ada pula ketakutan mengenai fenomena sosial politik dan ekonomi yang terjadi. Termasuk perasaan tentang ketidakadilan, ketidakberdayaan, kezaliman dan kebimbangan. Dari mana kita merasakannya?. Lihat saja, berita-berita di berbagai media. Bahkan, tragisnya ada yang meramalkan bahwa negeri ini tidak akan bertahan lama menjadi negeri berdaulat. Penyebabnya?, adanya pertarungan negara-negara besar dunia yang akan menjadikan Indonesia seperti pelanduk di tengah pertarungan singa dan harimau.
Karena kekhawatiran yang membuncah, maka kita pun tidak sulit menemukan orang-orang yang mengeluh di Indonesia. Sama seperti mudahnya kita berpapasan dengan orang yang kehilangan harapan atau asa. Katanya sih, gara-gara itu, makanya acara yang paling digemari masyarakat adalah hiburan terutama di media elektronik. Istilah kerennya, eskapisme, atau melarikan diri dari pahitnya hidup.
Saya suka melakukan riset kecil-kecilan. Hanya dengan bermodalkan kata "Gawat ya,?". Beberapa orang yang saya temui, dari berbagai kalangan -tidak peduli kaya, miskin, berkuasa atau tidak- jika diajukan pernyataan "gawat ya?," maka biasanya langsung merespon dengan pembenaran, keluhan bahkan kecaman. Lucu ya?,
Padahal, mungkin ukuran kegawatan yang dimaksud tidak jelas, bersifat "katanya", atau sekedar "hoax". Namun, setidaknya fakta ini menunjukkan bahwa ada masalah yang terjadi di sebagian besar warga negeri ini. Mungkin, masalah itu mungkin belum terjawab di diri kita. Hehe, silahkan dicoba saja ya...Tapi jangan hoax, provokatif dan mengandung ujaran kebencian ya...
Lalu, bagaimana membaikkan negeri ini?, atau setidaknya meredam kekhawatiran dan keputusasaan yang mungkin ada?.
Kendati pertanyaan di atas sangat berat dijawab. Saya kira, jawabannya bisa dimulai dari adanya niat baik. Yes, bahasa kerennya adalah good willing. Niat suci dan ikhlas. Lalu, bagaimana caranya?
Saya suka melakukan riset kecil-kecilan. Hanya dengan bermodalkan kata "Gawat ya,?". Beberapa orang yang saya temui, dari berbagai kalangan -tidak peduli kaya, miskin, berkuasa atau tidak- jika diajukan pernyataan "gawat ya?," maka biasanya langsung merespon dengan pembenaran, keluhan bahkan kecaman. Lucu ya?,
Padahal, mungkin ukuran kegawatan yang dimaksud tidak jelas, bersifat "katanya", atau sekedar "hoax". Namun, setidaknya fakta ini menunjukkan bahwa ada masalah yang terjadi di sebagian besar warga negeri ini. Mungkin, masalah itu mungkin belum terjawab di diri kita. Hehe, silahkan dicoba saja ya...Tapi jangan hoax, provokatif dan mengandung ujaran kebencian ya...
Lalu, bagaimana membaikkan negeri ini?, atau setidaknya meredam kekhawatiran dan keputusasaan yang mungkin ada?.
Kendati pertanyaan di atas sangat berat dijawab. Saya kira, jawabannya bisa dimulai dari adanya niat baik. Yes, bahasa kerennya adalah good willing. Niat suci dan ikhlas. Lalu, bagaimana caranya?
Sederhananya begini.
Kalau sekiranya semua manusia di negeri ini benar-benar bersepakat membangun negeri ini, bersama-sama. Dengan niat tulus dan ikhlas, pasti Indonesia sudah lama terangkat martabatnya. Atau, jika orang-orang cerdas dan memiliki skill mumpuni negeri ini ngotot berjuang untuk kebaikan negeri ini siang dan malam tanpa pamrih, pasti Indonesia telah lama menduduki posisi terhormat di dunia. Gemah Ripah Loh Jinawi itu pasti terwujud.
Atau,
Andaikan orang kaya dan berkuasa di negeri ini berani mengambil tindakan nyata -keluar dari kenyamanan (comfort zone) dengan berbagi kekayaan dan mengajari orang cara mendapatkannya, maka kita tentu tidak terus direpotkan dengan permasalahan kemiskinan, kesenjangan sosial, angka Gini Ratio yang meningkat, kebodohan dan seabrek masalah lainnya. Benar, bukan?. Tapi saya kok pakai kata "andai" ya, seperti ngak yakin gitu....hehe
Lawan dari niat baik adalah niat jahat atau tidak memiliki niat memperbaiki keadaan.
Nah,, tidak berniat atau malas baik juga berbahaya. Bayangkan jika seseorang malas mengambil inisiatif, apatis dan terus mengeluh. Lengkaplah sudah. Niat buruk plus malas berniat baik. Jika ini dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan dan kemampuan, saya tidak dapat membayangkan kerusakan yang akan terjadi. Orang seperti ini berpotensi menciptakan neraka. Dan, jangan-jangan itu adalah kita. Why not?
Lawan dari niat baik adalah niat jahat atau tidak memiliki niat memperbaiki keadaan.
Nah,, tidak berniat atau malas baik juga berbahaya. Bayangkan jika seseorang malas mengambil inisiatif, apatis dan terus mengeluh. Lengkaplah sudah. Niat buruk plus malas berniat baik. Jika ini dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan dan kemampuan, saya tidak dapat membayangkan kerusakan yang akan terjadi. Orang seperti ini berpotensi menciptakan neraka. Dan, jangan-jangan itu adalah kita. Why not?
Berita buruknya.
Dalam sejarah, jumlah orang yang berniat baik itu memang sedikit. Komunitas orang yang gemar melakukan perbaikan itu memang minim. Alquran menyebut mereka dengan "muslih" atau orang yang gemar melakukan perbaikan, ngotot bertindak produktif, kreatif dan kontributif. Az-Zarqani dalam Kitab "Manahilul 'Irfan" menyatakan islah itu bisa mencakup perbaikan pada akidah (islah al-'aqaid), ibadah (islah al-ibadah), akhlak (islah al-akhlak), kemasyarakatan (islah al-ijtimaiy), dan politik (islah al-siyasah). Silahkan saja dipilih yang disuka.
Sebaliknya, orang yang gemar melakukan kerusakan disebut "mufsid", tukang buat onar atau berkotribusi destruktif (merusak). Tragisnya, dalam Alquran disebutkan bahwa orang mufsid itu terkadang tidak menyadari bahwa mereka itu sedang melakukan keburukan. Artinya, banyak pelaku keburukan menganggap bahwa mereka sedang melakukan kebaikan, padahal tidak sama sekali. Gawat ya?. Yang jelas, kalau banyak kerusakan pada 5 (lima) kategori islah versi az-Zarqani di atas, berarti hanya sedikit orang yang melakukan kebaikan bukan?.
Sebaliknya, orang yang gemar melakukan kerusakan disebut "mufsid", tukang buat onar atau berkotribusi destruktif (merusak). Tragisnya, dalam Alquran disebutkan bahwa orang mufsid itu terkadang tidak menyadari bahwa mereka itu sedang melakukan keburukan. Artinya, banyak pelaku keburukan menganggap bahwa mereka sedang melakukan kebaikan, padahal tidak sama sekali. Gawat ya?. Yang jelas, kalau banyak kerusakan pada 5 (lima) kategori islah versi az-Zarqani di atas, berarti hanya sedikit orang yang melakukan kebaikan bukan?.
Syarat niat baik adalah keinginan untuk menyelamatkan masyarakat. Bukan mencari selamat sendiri. Bukan hanya berupaya memperkaya keluarga, atau mencari kenyamanan diri semata tanpa memperdulikan orang lain. Misal, terus memperbanyak tanah dan properti, padahal banyak orang lain yang kesulitan memilikinya. Atau, terus memperbanyak deposito dan saham tanpa berzakat, padahal kekayaan kita justru berasal dari sistem yang kita buat sendiri. Sikap hedonis dan individualis itu pantang dilakukan.
Apakah ada contoh orang yang tulus ikhlas berjuang memperbaiki keadaan?
Ada sih, tapi saya kira sekarang tidak banyak, atau saya tidak tahu. Maklum, orang yang begini-an tidak suka diekspos. Kalau dulu sih banyak. Para pejuang kita itu contohnya Mereka berjuang tanpa pamrih, ikhlas. Jangankan harta, nyawa sekalipun diserahkan untuk perjuangan. Lihat, bagaimana masyarakat Aceh yang menyumbangkan emas untuk membeli pesawat pertama RI -bernama Seulawah- untuk perjuangan negeri ini. Kalau main-main ke Banda Aceh, silahkan mampir di Lapangan Blang Padang. Bukti pesawat itu masih ada di sana. Masih banyak pejuang lain. Yang jelas, mereka berniat tulus. Tidak ada maksud mengkvaling tanah dan air negeri ini atau kaya sendiri. Good willing dan ngotot-nya jelas dan harus ditiru.
Sekarang, ukur saja diri masing-masing. Apakah kita termasuk orang memiliki niat baik bagi perbaikan masyarakat atau tidak. Apakah kita bagian dari pemecahan masalah yang dihadapi negeri ini, ataukah justru menjadi bagian dari masalah negeri atau orang lain?.
Aa Gym bilang, kebaikan harus dimulai dari sekarang, dari diri sendiri, dan dari hal-hal kecil, termasuk dengan tidak mengumbar kata-kata dan status yang berpotensi membuat "rusuh" :) atau menganggu para pejuang lain. Jika ini sanggup dilakukan, maka kebaikan akan terwujud di rumah, di tempat kerja terutama di negeri ini.
Sebaliknya, tanpa niat baik, tanpa ke-ngotot-an, dan lebih senang mencari selamat sendiri-sendiri saja. Maka, bersiaplah jika negeri ini secara pasti akan terus "sakit", "sekarat" dan perlahan "mati" kendati jumlah penduduknya semakin hari semakin hidup dab bertambah. Semoga tidak, wallahu a'lam.

0 Comments