By: M. Ridwan
Saya tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi negeri ini kecuali hanya dengan kata “bertaruh”. Ya, meski kata “bertaruh” lebih berkonomotasi negatif karena biasanya terkait dengan perjudian, spekulasi dan zero sum game, namun dengan terpaksa saya menggunakannya.
Saya tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi negeri ini kecuali hanya dengan kata “bertaruh”. Ya, meski kata “bertaruh” lebih berkonomotasi negatif karena biasanya terkait dengan perjudian, spekulasi dan zero sum game, namun dengan terpaksa saya menggunakannya.
Saya berani mengatakan bahwa negeri ini sedang bertaruh
terkait dengan masa depannya. Negeri ini seharusnya sudah berdiri sejajar
dengan negara lain yang berumur lebih dari 50 tahun. Seharusnya, kita sudah menjadi negeri yang disegani
dan kalau perlu “ditakuti” oleh bangsa lain. Di tahun 1980-1990-an, kita mengenal istilah “Macan Asia” untuk menggambarkan
betapa pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kita cukup tinggi, atau “The Asian
Miracle” untuk menunjukkan keajaiban capaian Indonesia. Namun, sepertinya,
macan itu sudah muai ompong ya?. Keajaiban yang ditunjukkan hampir tak pernah
diingat lagi.
Ketika negeri lain, sibuk dengan pencapaian teknologi dan
peningkatan swasembada produksinya, negeri kita masih berkutat pada masalah
emosi dan kesenjangan yang cukup mencolok. Krisis ekonomi di tahun 1998 sebagai titik awalnya. Tahun itu membuka mata
kita bahwa keberhasilan kita sebelumnya hanya bagus di atas kertas. Kita ternyata lupa memperhatikan infrastruktur dan mempersiapkan SDM tangguh melalui pendidikan. Akibatnya, kekuatan riil Indonesia ternyata semu dan tak berakar kuat, seperti enceng gondok. Di
atas permukaan, begitu menawan, namun akar tak menginjak dasar.
Lengkaplah sudah, negeri enceng gondok dan bertaruh pula.
Ya, warga negeri ini suka sekali bertaruh apalagi ketika
ada pilkada. Dengan iming-iming uang yang tak seberapa, kita mungkin memilih
menyerahkan kekuasaan kepada figur yang secara tampilan menawan dan selalu
menghiasi TV. Kita tak peduli kalau idelisme dan mungkin pula keimanan kita
terjual. Kata orang luar sih, bangsa ini lugu-lugu, pelupa dan bermental inlander. Hati kita mudah tertawan
dengan pencitraan dan kebaikan semu. Bahkan, kita tidak peduli kalau pemimpin
kita itu pemarah, tidak sholat, koruptor, atau bodoh. Hehe, saya tidak sedang
marah, lho. Saya hanya mentertawakan diri saya yang mungkin juga telah tertipu.
Saya pernah bertemu seorang Bapak yang dengan bangganya
menyatakan bahwa calon bupati pilihannya baik hati. Katanya, si calon suka
memberi uang kepadanya 50-100 ribu. Lalu, saya katakan, apakah si calon akan
menjamin bahwa anaknya nanti bisa gratis sekolah dan keluarganya mendapat layanan kesehatan
yang terbaik setelah calon itu terpilih. Ia menggeleng tak yakin, namun katanya, ia
membutuhkan uang itu untuk makan. Whatever. Yang jelas, si Bapak itu sedang
mempertaruhkan masa depan anaknya dengan uang senilai hanya 50 ribu, bukan?.
Dan, denger-denger, bupati itu di kemudian hari ditangkap karena korupsi. Lho?
Beberapa bulan ini, Indonesia heboh. Awalnya
ada kasus penistaan agama. Yang punya mulut sih tak menyangka bahwa
kata-katanya itu akan menggerakkan jutaan manusia yang protes. Mungkin karena
terlalu biasa mengobral kata-kata dan hobby narsis, maka ia menuduh bahwa
aksi bela Alquran adalah hanya bernuansa politis dan bayaran. Alhasil, jutaan
manusia tumpah ke jalanan Jakarta tanggal 4 November dan 2 Desember 2016 lalu.
Pribahasa “mulutmu adalah harimau-mu” betul-betul terbukti. Apa mau dikata.
Eh, bukannya selesai. Kasusnya semakin bergulir. Puncaknya
minggu lalu, ketika dalam sidang kasus ini, si empunya mulut tak bisa menahan
diri untuk tidak menyerang kembali. Tak tanggung-tanggung, ketua MUI Pusat kena
semprotan dan tuduhan telak. SI Kyai dianggap mempolitisi dan mendapat orderan
fatwa. Wah, tambah berabe. Padahal, MUI
adalah simbol Islam Indonesia. Fatwa itu keluar melalui mekanisme yang ketat.
Saya haqqul yaqin bahwa MUI sangat independen dalam mengeluarkan fatwa itu.
Tuduhan itu tak ayal membuat umat Islam kembali marah
terlebih warga NU. Soalnya, ketuanya KH. DR. Ma’ruf Amin, adalah Rais Am ormas
terbesar di Indonesia ini. Permintaan
maaf kembali disampaikan oleh si empunya mulut itu. Tapi, kali ini mungin tidak
digubris lagi ya. Seperti cerita penggembala yang berbohong tentang srigala yang akan memangsa kambingnya. Karena seringnya berbohong, maka penduduk kampong pun mulai kesal dan akhirnya tidak percaya lagi kepadanya meski saat itu srigala beneran datang menerkam kambingnya.
Saya mengatakan kita ini sedang bertaruh. Soalnya,
semua kita merasa benar dan merasa terzalimi. Umat Islam merasa terzalimi, si
empunya mulut dan kelompoknya juga merasa terzalimi. Partai politik yang mengusung para calon Pilkada juga bertaruh. Bangsa ini mempertaruhkan
persatuan dan kesatuannya dengan sikap hati kita yang mudah panas. Katanya pula, para bandar juga bertaruh beneran menentukan para penguasa di suatu daerah terlebih lagi DKI. I don't know.
Tapi, kalau bicara "taruhan", maka sebenarnya kita di dunia inipun sedang bertaruh, bukan?. Kita mempertaruhkan hidup di dunia yang fana dengan akhirat yang kekal. Kita mungkin mempertaruhkan idealisme dan kesucian hati kita dengan "tawaran" dunia yang terlihat lebih menggiurkan. Benar juga ya..
Mudah-mudahan, cerita negeri ini tidak seperti yang saya bayangkan. KIta berdoa, moga para penguasa, calon penguasa, para pemilih, dan tokoh bangsa ini, tidak suka main taruh-taruhan lagi. Insyaflah.....:). Wallahu a'lam
Tapi, kalau bicara "taruhan", maka sebenarnya kita di dunia inipun sedang bertaruh, bukan?. Kita mempertaruhkan hidup di dunia yang fana dengan akhirat yang kekal. Kita mungkin mempertaruhkan idealisme dan kesucian hati kita dengan "tawaran" dunia yang terlihat lebih menggiurkan. Benar juga ya..
Mudah-mudahan, cerita negeri ini tidak seperti yang saya bayangkan. KIta berdoa, moga para penguasa, calon penguasa, para pemilih, dan tokoh bangsa ini, tidak suka main taruh-taruhan lagi. Insyaflah.....:). Wallahu a'lam


0 Comments