By: M. Ridwan
"Indonesia adalah masyarakat ke-2 di Asia dimana penduduknya mengalami gangguan
kejiwaan. Penyebabnya adalah masalah ekonomi dan kesehatan". (Survey
Far Estern Economics Review, Singapura, 2002)
Sejak bumi ini ada,
kita membaca kisah para penguasa yang zalim, arogan maupun nyeleneh alias gila. Dalam kisah Yunani pernah dikisahkan tentang
prilaku kaisar Nero yang - terganggu jiwanya- akhirnya membakar seisi kota.
Selain dirinya, Fir’aun juga bisa dikategorikan penguasa yang mengalami sakit
jiwa dengan mengaku dirinya Tuhan. Selidik punya selidik, klaim ini dilakukan
karena ia tidak pernah mengalami sakit selama hidupnya. Akibatnya, ia ke-geer-an sendiri dan mengklaim dirinya
sebagai Tuhan yang harus disembah.
Ada pula Kaisar Romawi yang sangat senang melihat
pertarungan sampai mati para gladiator dan perkelahian manusia dengan hewan.
Para penguasa Romawi saaat itu sangat senang melihat darah bertumpahan dan
korban-korban terbunuh. Bukti peninggalan mereka masih dapat kita saksikan di Italia.
Semua penguasa tempo dulu yang saya sebutkan di atas
sebenarnya layak dipertanyakan kadar “kegilaan” atau “kewarasannya”. Soalnya,
hanya orang yang terganggu jiwanya yang mampu melakukan tindakan aneh dan
nyeleneh di atas. Orang waras biasanya akan mudah tersadarkan karena
rasionalitas dan nuraninya masih mendominasi tindakannya.
Sayangnya, penguasa nyeleneh dan “tidak waras” inipun ada di jaman modern. Lihat apa
yang dilakukan Hitler dengan aksi genosida-nya. Apa pula yang dilakukan Pol Pot
pemimpin Khmer Merah terhadap rakyat Vietnam. Dan, saksikan apa yang dilakukan
Stalin atau Musolini dengan rakyatnya. Lebih mengerikan, bukan?
Nah, beberapa hari ini, dunia menyaksikan tindakan nyeleneh yang dilakukan presiden Amerika
–Donald Trump- yang melarang kunjungan warga dari 7 negara muslim datang ke
Amerika. Tindakan ini sebenarnya memalukan karena menyimpang dari konstitusi Amerika yang terbuka dan
demokratis. Tiba-tiba Amerika menjadi negeri penakut dan paranoid.
Akibatnya, Donald Trump tidak hanya dikecam dari luar negeri,
bahkan rakyatnya sendiripun menentang tindakan nyeleneh-nya. Berita yang saya baca –kemarin- menyebutkan bahwa
lebih dari 600 ahli jiwa Amerika
berkumpul dan mendiskusikan kesehatan mental sang Presiden. Analisis awal
mereka menyebutkan bahwa sang Presiden terindikasi mengidap gangguan narsis
akut dan anti sosial yang kuat. Donald Trump dianggap sebagai presiden dengan
emosi yang tidak stabil, membahayakan dan bisa melakukan tindakan-tindakan
jahat. Nah, lho?
Tapi, tidak usah jauh melihat Amerika sih. Kalau indikator yang
dipakai adalah tindakan nyeleneh atau
ekspresi marah dan anti sosial, saya kira, penguasa seperti itu juga ada di
negeri kita ya?. Malah mungkin banyak. Di Indonesia, kita tidak akan kesulitan
melihat penguasa yang kerjanya banyak marah-marah dan suka menghujat, bukan?.
Padahal, menurut Survey
Far Estern Economics Review yang bermarkas di Singapura, menyebutkan bahwa
Indonesia adalah masyarakat ke-2 di Asia dimana penduduknya mengalami gangguan
kejiwaan. Penyebabnya adalah masalah ekonomi dan kesehatan. Ganggunan jiwa biasanya
ditandai dengan suka melamun atau menyendiri, suka marah atau naik pitam, atau melakukan
bunuh diri. Mungkinkah penguasa kita mengalami gangguan jiwa saat ini?. Who knows?
Yang jelas, saya mengkhawatirkan jika publik Indonesia
beberapa bulan ini tanpa sadar telah terkontaminasi oleh ke-gilaan’ dan ke-nyelenehnya para penguasa negeri ini. Masyarakat kita mungkin saja meniru priilaku marah-marah
dan suka menghujat yang ditampilkan penguasa. Masyarakat kita mungkin pula secara
tidak sadar mengalami masalah kejiwaan –baik ringan ataupun berat- karena
pemberitaan jelang pilkada atau kisruh
tak bermutu lainnya, terlebih sihir media digital yang setiap menit membius
pikiran dan hati warga negeri ini. Peace man…
Lalu, bagaimana mengatasinya?
Saya kira, meniru Amerika, sudah selayaknya, para ahli jiwa
di negeri ini berkumpul untuk menakar kadar kewarasan penguasa negeri ini
kembali. Jangan-jangan, para penguasa
dan calon penguasa yang akan pilih nantinya mengidap gangguan jiwa pula. Bisa berabe bukan?.
Lalu, bagaimana pula untuk yang merasa belum terganggu
jiwanya?, Hmm, kata ustaz di tempat saya, silahkan banyak berzikir dan membaca
Alquran. Insyallah akan membantu, setidaknya mengurangi potensi kegilaan kita. Wallahu
a’lam


0 Comments