Ticker

6/recent/ticker-posts

Menakar Kesehatan Mental Para Penguasa (Bag. 2): Fenomena OGB

By: M. Ridwan



Akhirnya, para pakar Neuroscience dari berbagai kampus dan lembaga ternama di USA dengan tegas menyatakan bahwa Donald Trump, sang Presiden USA, mengidap penyakit mental (mentality disorder). Sebut saja, Howard Gardner dari Harvard University atau George Simon. Menurut mereka, Donald Trump mengidap penyakit mental akut sebagaimana banyak diidap para pemimpin diktator dunia lainnya, katakanlah Napoleon Bonaparte atau Hitler.


Kesimpulan ini setidaknya mereka cermati dari hobby sang Presiden yang sangat suka mencaci maki, merendahkan harga diri orang lain dan marah-marah. Para ahli ini bahkan membuat petisi dengan mengajak para ahli lainnya untuk menlaah kesehatan mental sang Presidden. Sampai saat ini, petisi telah diisi oleh lebih dari 20 ribu masyarakat. Menyedihkan ya..?


Bukan apa-apa sih. Seandainya kesimpulan mereka benar, maka warga USA pantas bersedih. Berarti mereka salah pilih dong. Artinya, mereka memilih presiden yang sangat berbahaya -sebagaimana dikatakan bos Google. Donald Trump berpotensi besar "merusak dunia". Saya kira, bukan tidak mungkin, Perang Dunia III bias terjadi di era kepemimpinan dirinya. Mudah-mudahan tidak ya...Amin.


Di tulisan sebelumnya, ada menyebut Kaisar Nero ya?. Dia itu Kaisar Romawi yang gila. Sebenarnya ia bukan dari keturunan raja. Namun karena kelicikan ibunya yang menikahi kaisar, maka ia bisa menjadi Kaisar. Si Ibu meracun Kaisar yang setelah sebelumnya "rela" menjadi permaisuri raja. Sejarah menyebutkan bahwa ibu si Nero cantik jelita, namanya Agrippina Minor, adik Kaisar Caligula yang suka mesum itu.


Siapa yang menabur, dia menanam, Si Ibu pun akhirnya tewas dibunuh oleh Nero. Soalnya, si ibu dianggap menjadi pesaing Nero. Soalnya, meski menjadi Kaisar, kendali kekuasaan banyak berada di tangan si ibu. Nero merasa di-jengkali. Ia tidak mau diatur-atur. Makanya, ia membunuh ibunya sendiri. Kisah yang tragis ya. Menggambarkan politik yang sangat kotor. .


Makanya, kita harus jeli sih. Mencari pemimpin itu jangan seperti membeli kucing dalam karung. Kesehatan mentalnya harus diperhatikan juga lho. Jangan mentang-mentang sosok yang dipilih punya tampilan yang aduhai, menawan dan terkesan meyakinkan, lalu dicoblos tanparasa berdosa. Padahal, lalu masa depan rakyat atau kekuasaan diserahkan bulat-bulat kepada orang yang tidak berkompeten atau terkena gangguan jiwa tadi. Takutnya, kita mendapat pemimpin ala Nero pula. Takut.....


Nah untuk terhindar dari proses salah pilih pemimpin ini, maka indikator kesehatan jiwa yang dipakai tentukah harus benar. Terkait permasalahan sakit mental ini, Alquran menggunakan beberapa kata, seperti "Majnun: (Gila), "Maftun", "Qalbun Maridh" (Hati Yang Sakit) atau "Orang yang kerasukan Setan". Nah, kita menemukan beberapa fakta menarik ari ayat-ayat Alquran tentang itu. Misalnya,


1. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 10 disebutkan bahwa orang-orang yang mengidap penyakit hati ini adalah orang-orang yang mengingkari hukum Allah, orang zalim atau orang dengki. Mengapa mereka disebut berpenyakit?. Tidak lain karena hati mereka penuh dengan kebohongan, dan perasaan benar sendiri.


2.  Dalam Surat Al-Maidah ayat 52 justru ada fakta menarik. Lihat saja bunyi ayatnya: "maka kamu akan melihat orang-orang yang hatnya berpenyakit akan segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata," Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasikan dalam diri mereka (Al-Maidah ayat 52).
Saya menyebut fakta ini menarik, karena orang yang berdaulat kepada kaum Yahudi dan Nasrani justru disebut berpenyakit hati. Artinya, pemilih mereka juga dianggap berpenyakit yang sama bukan?. Anda boleh berkesimpulan lain, tapi saya kok meyakini kesimpulan ini.


Lalu bagaimana cara menyembuhkan penyakit jiwa ini?
Kalau Ibnu Sina dalam kitabnya Asy-Sifa menyebutkan bahwa terapi utamanya dengan membersihkan hati. Orang yang membersihkan hati dari sifat-sifat sombong, narsis, dengki atau putus asa akan terhindar dari "Kegilaan" ini.


Hal ini senada dengan At-Razy dalam kitab At-Thib Ruhaniy-nya yang mengatakan bahwa seseorang akan terhindar dari penyakit mental dan jiwa jika menerapkan kehidupan sufistik dalam kesehariannya. Ia harus berakhlak mulia. Misalnya, bersikap sederhana, mengendalikan kata dan perbuatan sesuai panduan ilahi dan berpegang pada syariat Allah.  Al-Ghazali juga menyatakan hal yang senada.


Saya kira, untuk kondisi saat ini, pemicu penyakit mental atau jiwa ini sangat banyak. Semua fenomena dan dinamika kehidupan bisa memicu munculnya OGB (Orang-orang Gila Baru) atau calon OGB. Hal ini ditandai dengan hobby mencaci maki, mencari lawan tanding, menyebarkan rasa permusuhan akut atau mungkin pula pesimis dan apatisme tingkat tinggi.


Ya, sikap apatis juga indikator penyakit mental. Sikap ini mematikan harapan. Pengidapnya cendrung akan menyalahkan keadaan, selalu berpikiran negatif dan biasanya menyalahkan dirinya.


Untuk Indonesia, kita berdoa yuk, mudah-mudahan para pemimpin yang akan berkuasa di negeri ini tidak berpotensi mengidap penyakit kejiwaan ala Donald Trump yang hobbinya ternyata suka mencaci dan menyerang pribadi orang lain. Semoga dunia diselamatkan dari prilaku tak terpuji lainnya terutama yang muncul dari diri kita sendiri.


Kita selalu memiliki waktu untuk memperbaiki keadaan. Pilihlah pemimpin yang bermental sehat dan berhati bersih. Apakah pemimpin seperti itu masih ada saat ini?. Wallahu a'lam. Amin. 















Post a Comment

0 Comments