Ticker

6/recent/ticker-posts

UINSU dan Martabat Dunia (bag. 2)

By: M. Ridwan

Berita bahagia ini kami terima. Tepat pada tanggal 1 September 2016 hari ini, Rektor UINSU pengganti almarhum Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis, (Allahu yarhamhu) telah resmi dilantik oleh Menteri Agama RI. Beliau adalah Prof. Saidurrahman, MAg. Beliau bahkan mencatatkan diri sebagai Rektor Termuda dalam sejarah UINSU. Bayangkan, usia 46 tahun, lho. Dahsyat...

Kegembiraan ini tentu saja harus bisa dirasakan seluruh kita tak hanya civitas UINSU, mengingat proses terpilihnya rektor UINSU kali ini juga berjalan cukup mulus dan zero konflik. Kita yakin hal ini dikarenakan para kandidat rektor yang berjumlah 5 (lima) orang itu adalah para tokoh kharismatik nan arif di UINSU. Mereka sangat mumpuni dalam menata hati. 

Sehingga, kita yakin para calon yang tidak terpilih-pun pasti telah memberikan doa ikhlas mereka dan akan siap membantu bagi kebaikan UINSU yang kini dinahkodai Rektor Muda, yang enerjik ini. Apresiasi kita kepada para Guru Besar lain yang sukses memberikan contoh yang baik bagi para insan kampus dalam berpolitik santun dan bermartabat. Tentunya, selamat kepada keluarga besar UINSU, moga Allah memberikan keberkahannya kepada Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, kebanggaan Sumut ini.

Kita yakin, ini adalah pergiliran amanah saja. Seperti yang diungkapkan Allah dalam Alquran. "Hari-hari itu, kami pergilirkan antara manusia". Dalam konteks ayat ini, Allah tidak mengatakan menang dan kalah, lho. Artinya, semua harus bahagia sekaligus tertantang, bagaimana mewujudkan UIINSU agar menjadi kampus yang melahirkan insan terdidik dan pencerah dunia?

Judul tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya "UINSU dan Martabat Dunia". Namun, mohon maaf, tulisan yang pertama ini belum di-publish di saat ini. Saya sudah men-set-jadwal publish-nya di blog saya untuk terbit tanggal 1 September 2035. Lho?. Hal ini dikarenakan sifatnya futuristik, sih..Bisa dianggap gaya-gaya juga.:)

Kita fokus ke hari ini saja ya.
Inilah realita. Allah telah mendesain cerita ini sejak zaman azali dulu. Tugas kita sebagai manusia untuk terus bersyukur dan melakukan hal terbaik dalam hidup ini.

Dan, saya tidak membincangkan tentang cerita menang dan kalah dalam sebuah pertarungan. Biarlah itu menjadi kavling rekan-rekan yang kemarin baru pulang dari Olimpiade Rio di Brasil. Saya lebih tertarik membincangkan tentang sebuah kampus dan perannya dalam menata dunia. Tepatnya, menyinari dunia supaya menjadi bermartabat. Mungkinkah?

Sebelumnya saya mau ungkapkan dikit bahwa menurut info dari dari www.collegestats.org ada 10 perguruan tinggi tertua di dunia. Tahukah Anda bahwa ternyata 3 perguruan tinggi di dunia berasal dari Universitas Islam. Urutan 3 (tiga) besarnya adalah Universitas Qarawiyyin di Maroko (859 M), Al-Azhar di Mesir  (970 M) dan Al-Nizamiyyah di Iran (1065 M).

Urutan ke-4 s/d 10 berikutnya, barulah dipegang oleh kampus-kampus di Eropa yang saat ini sangat terkenal seperti  Universitas Bologna di Belgia (1088 M), Universitas Paris (1096 M), Oxford di Inggeris (1097 M), Universitas Montpelier, Perancis (1150 M), Universitas Cambridge di Inggeris (1209 M), Universitas Salamanca Spanyol (1218 M), dan Universitas Padua, Italia (1222). Setelah mereka, barulah kampus-kampus lain berdiri di seantaro dunia termasuk Harvard di Amrik. Ternyata, Durham University di Inggeris juga tidak setua yang saya bayangkan. Saya sempat mikir, siapa ya mahasiswa dan rektor pertama di dunia?. :)

Apa arti urutan perguruan tinggi di atas?
Jelaslah, bahwa inspirasi berdirinya perguruan tinggi dunia berasal dari peradaban Islam. Misalnya, Universitas Al-Qarawiyyin atau Karoeine -kata orang Eropa- pernah mendapat rekor dunia dari Guinness Book of World Records pada tahun 1998 sebagai kategori universitas tertua yang menawarkan gelar sarjana. Bahkan, sebelumnya, Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 secara menarik menuliskan kisah berdirinya Universitas Al-Qarawiyyin dalam tulisan berjudul Renaissance in Fez. Mereka menyatakan bahwa Universitas Qarawiyyin memiliki peran besar bagi perkembangan Eropa, karena banyak ilmuan muslim maupun non muslim yang belajar di universitas ini kemudian melakukan pencerahan bagi masyarakat Eropa pada abad ke-15 M. Ternyata, begitu ya ceritanya. Bangga-lah. 

Tidak hanya Eropa. Kampus-kampus Islam dunia juga menginspirasi China, India bahkan Rusia. Penyebaran kebaikan dalam bentuk ilmiah dan akademis menjadi corak Islam periode abad pertengahan. Tak terhitung berapa juta karya dan penemuan ilmuwan muslim yang menjadi rujukan dunia. Sayang, saat itu beum ada jurnal online  atau media seperti researchgate, academia.edu, atau google scholar ya. :). Dan belum ada hak paten yang bisa dikomersilkan. Niat ilmuawan dan scholar-nya tulus untuk kebaikan dunia.

Dan, tentunya, karena kampus yang didirikan pertama kali di planet ini berada di pusat peradaban Islam, maka dapat dipastikan kampus-kampus itu telah mengintegrasikan ilmu dan nilai Islam. Pasti tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan umum. Kampus adalah pusat studi dunia atau Islam sekaligus. Saya menyebut kondisi ini sebagai Integrasi Ilmu Tahap-2. Tahap-1 sudah dilakukan ketika Rasul datang dan menyebarkan ajaran Islam. Artinya, ketika membicangkan sebuah ilmu atau penemuan ilmiah, maka nilai Islam pasti embedded di dalamnya. 

Makanya, aneh saja sih, jika perkembangan pendidikan tinggi dunia kemudian kok minus nilai agama?.  

Tapi, sudahlah. Tak perlu meratapi nasib masa lalu.

Di hadapan kita saat ini telah berdiri ribuan universitas dunia. Entah itu di negeri Eropa terlebih lagi di dunia Islam sendiri. Universitas Al-Azhar di Mesir masih berdiri megah, Al-Qarawiyyin masih ada di Maroko, IIUM Malaysia terus berkembang dan IIUM Islamabad juga eksis termasuk juga perguruan negeri dan swasta di negeri ini dan teristimewa UIN-UIN yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Termasuk UIN Sumatera Utara yang kini rektornya dipegang oleh Professor muda yang cerdas dan aktifis dunia spiritual dan per-suluk-an ini.

Artinya, kita tinggal menuju era tinggal landas saja nih. Era integrasi ilmu tahap ke-3 sudah terjadi dan akan terus menemukan tempatnya. Makanya, keberadaan UINSU patut diperhitungkan.

Saat ini, UINSU telah memiliki 8 Fakultas dengan lebih dari 13 ribu mahasiswa. Transformasi IAIN SU menuju UINSU berjalan mulus. Saat ini di Indonesia sudah berdiri 11 UIN, 23 IAIN dan 19 STAIN.  Seandainya semua IAIN dan STAIN itu menjadi UIN, maka jumlah UIN tentu saja akan menjadi 53 buah. Suatu jumlah yang cukup untuk mengemban amanah pendidikan terintegrasi di Indonesia.

Memang ada yang bertanya, bagaimana sih posisi UIN ketika dihadapkan dengan kampus-kampus seperti UI, UGM, Unpad atau Brawijaya?.

Kondisinya harus diakui sedikit pelik. Soalnya, universitas yang saya sebutkan di atas berada di bawah yurisdiksi Kemenristekdikti sedangkan UIN berada di bawah Kementerian Agama. Terlihat ada dua otoritas yang berbeda bukan?. Kendati, dalam hal kurikulum dan akreditasi, UIN tetap berada di bawah Kemenristekdikti, namun memang idealnya, perguruan tinggi di Indonesia lebih baik berada di bawah naungan satu atap. Entah itu Kemenristek atau Kemenag. Tapi ya begitulah.

Makanya, prodi-prodi yang berada di bawah UIN bisa berkiblat kepada dua kementerian. Misal, Saintek yang memiliki prodi Ilmu Komputer akan berkiblat kepada Kemenristekdikti sedangkan Prodi Pendidikan Islam, misalnya, bernaung di bawah Kemenag. Sampai sejauh ini, hanya ini yang bisa dilakukan. Tapi, sudah berjalan sangat baik. Menariknya, prodi di pergiruan umumpun sudah banyak yang tertarik membuat prodi bercorak Islam. Keren juga.

Kalau ada yang bertanya. Sampai kapan kondisi ini terjadi?
Wallahu a'lam. Yang jelas, UIN-UIN yang ada di Indonesia saat ini terus berpacu keras menyamakan posisi dengan universitas umum yang sudah duluan berlari. Dan, antara sesama UIN pun juga terlihat saling berlari, menyalib dan mencari posisinya masing-masing. Berlomba menuju kebaikan. Siapapun pemenangnya pastilah memberikan kebaikan untuk kita semua. 

Nah, dalam kondisi dan speed yang tinggi ini Rektor UIN yang baru terpilih. Momentum yang tepat, bukan?

Amanah besar dan misi UIN kini berada di pundak Prof. Saidurrahman. Namun, saya sangat yakin, dia tidak akan sendiri. Sinerji dan kerjasama seluruh keluarga besar UINSU, apakah para pengelola, dosen maupun mahasiswa dan stakeholder lainnya akan mampu mewujudkan UINSU yang bermartabat dan berwibawa di negeri ini. Saya haqqul yaqin, UINSU akan segera melejit dan berhasil. Secepat Fast and Furious 8 (edisi film ini belum keluar dirilis), lho. Insyallah. Doakan ya..

Selamat menahkodai bahtera UINSU, Prof. Saidurrahman. Insyallah visi dan misi segera terwujud. Saya yakin Rektor UINSU kali adalah pilihan terbaik yang diberikan Allah untuk mengemban amanah berat ini. Sama seperti ungkapan haru sang isteri, Kakanda Dr. Chuzaimah Batubara, "Dik, amanah ini berat sekali,. Di pundaknya banyak harapan dan mimpi digantungkan. Doakan abang mampu dan dilindungi Allah ya,"., pintanya dengan ikhlas. Insyallah...

Semoga, Allah terus memberkahi dan memberikan ma'unah kepada siapapun yang berniat baik dengan institusi ini. Menjadi perantara cahaya Allah dan perantara kearifan di persada negeri. Amin. Wallahu a'lam



    


Post a Comment

0 Comments