By: M. Ridwan
Pernah tidak sih kita membayangkan memiliki uang sebanyak satu trilyun?. Wow, jumlah yang fantastis sekali. Angka nolnya saja sampai 12 buah. Banyak sekali. Saya memang pernah membaca berita sebuah keluarga yang mendapatkan angka 1.2 trilyun di rekeningnya. Termasuk juga berita beberapa waktu lalu, tentang seorang warga Kerinci yang mendadak mendapatkan uang 99 trilyun di rekeningnya. Bagaimana rasanya?. Hehe, mereka kaget dan polisi langsung datang ke rumah mereka, bro. Diselidiki. Khawatir ada dana dari pencucian uang.
Apakah uang sejumlah 1 Trilyun itu bisa menyelesaikan semua masalah hidup kita sekaligus menciptakan kebahagiaan?. Pertanyaan itu kami bahas di pengajian ibu-ibu di kompeks perumahan kami, minggu lalu.Kebetulan kali ini giliran saya sebagai pemateri. Ini adalah rutinitas dwi mingguan di komplek kecil kami.
Namun, sebelumnya saya mempertanyakan ke peserta. "Apa hal yang paling membuatmu bahagia". Jawaban para peserta cukup ramai. Kalau ditabulasi kira-kira begini urutannya:
1. Bahagia kalau memiliki sejumlah uang dan terpenuhi semua kebutuhan hidup.
2. Bahagia jika memiliki pasangan dan keluarga yang harmonis.
3. Bahagia kalau karier dalam bekerja meningkat.
4. Bahagia jika kehormatan dan harga diri diakui orang lain.
5. Bahagia jika masa depan anak terjamin.
2. Bahagia jika memiliki pasangan dan keluarga yang harmonis.
3. Bahagia kalau karier dalam bekerja meningkat.
4. Bahagia jika kehormatan dan harga diri diakui orang lain.
5. Bahagia jika masa depan anak terjamin.
Selain pertanyaan tentang kebahagiaan, pertanyaan dilanjutkan dengan "Sebaliknya, apa yang membuatmu tidak bahagia? Atau "Apa yang menjadi masalah dalam hidupmu saat ini?. Jawaban untuk pertanyaan ini juga cukup beragam. Kalau diurutkan sebagai berikut:
1. Masalah uang.
2. Masalah pasangan hidup, dan keluarga
3. Masalah dalam pekerjaan.
4. Masalah hubungan sosial seperti bertentangga.
5. Kekhawatiran akan masa depan anak
2. Masalah pasangan hidup, dan keluarga
3. Masalah dalam pekerjaan.
4. Masalah hubungan sosial seperti bertentangga.
5. Kekhawatiran akan masa depan anak
Nah, lalu iseng-iseng saya mengajukan pertanyaan di awal tadi "Lalu, sekiranya, masing-masing kita diberikan uang sebanyak 1 Trilyun, apakah masalah-masalah di atas akan hilang dan bisa menumbuhkan kebahagiaan?.
Dan, hampir semua peserta mengatakan "iya". Menurut mereka, uang sejumlah 1 trilyun mampu menghadirkan kebahagiaan karena setidaknya berhasil memberikan penyelesaian atas berbagai masalah di atas. Masalah ekonomi itu complicated ya..
Diskusi kami berjalan hangat sampai jam 11.00. Ibu-ibu pengajian ini memang cukup aktif berdialog. Permasalahan uang 1 trilyun tadi lalu kami bedah. Dipenuhi senyum. Maklum, tidak semua orang pernah membayangkan memiliki uang 1 trilyun, bukan?. Kalaupun pernah membayangkan, mungkin hanya dipendam di dalam hati. Takut tidak terwujud ya...:)
Misal, permasalahan hubungan dengan pasangan suami isteri.
Apa penyebabnya?. Ternyata biasanya karena masalah intensitas komunikasi dan rutinitas pekerjaan yang membuat masing-masing pasangan kehilangan waktu untuk bercengkerama. Nah, kalau pasangan ini memiliki uang 1 trilyun, bukankah masalah pekerjaan akan segera hilang?. Si suami dan isteri akan memiliki banyak waktu karena tidak perlu repot lagi sibuk bekerja dan diburu waktu lagi, bukan? Masuk akal juga bukan?
Kalau masalahnya terkait kualitas pendidikan anak dan seabrek rutinitas hariannya. Maka, uang 1 Trilyun tadi akan bisa mengatasinya. "Sekalian saja bangun sekolah yang sesuai dengan keinginan kita". Atau, kalau khawatir tentang masa depan pekerjaan anak, "kenapa tidak dirikan saja perusahaan dimana anak kita bisa bekerja di situ?". Mudah bukan?. Soalnya, kita memiliki uang 1 trilyun, bukan?
Semua peserta akhirnya setuju. Saya kira Anda juga menyetujuinya. Uang 1 trilyun memang bisa mengatasi banyak masalah dan memunculkan kebahagiaan seperti di atas tadi. Kendati memang, memiliki uang sejumlah itu cukup sulit di dunia nyata.
Namun, kalau kita mau jujur dengan diri kita ini, ada kesimpulan tragis yang sebenarnya terjadi. Kesimpulan ini kami dapatkan di akhir diskusi pagi itu. Apakah itu?
Ternyata, sejujurnya, sumber kebahagiaan kita selama ini ternyata "bukan karena dekat dengan Allah". Termasuk sumber masalah kita ternyata "bukanlah karena jauh dengan-Nya". Inilah yang disebut pseudo-happiness. Seperti kebahagiaan tapi ternyata bukan.
Artinya begini.
Ternyata, kita merasa lebih bahagia jika memiliki uang 1 trilyun ketimbang diberi kesempatan melakukan sholat dan membaca Alquran tanpa gangguan.
Ternyata, kita lebih yakin bahwa masalah kita akan selesai dengan uang 1 trilyun ketimbang jika kita berzikir dan memiliki Allah.
Berarti "nilai" Allah kalah dengan nilai 1 trilyun, bukan?. Ayo ngaku?. Kami mengakuinya saat itu dengan malu-malu. Iya juga ya....Kok Tuhan dikalahkan 1 trilyun tadi?
Kita mungkin akan membela diri dengan mengatakan bahwa untuk menyelesaikan masalah terkait duit ya harus pakai duit. Apakah sholat dan membaca Alquran bisa membayar hutang dan kewajiban finansial lainnya?. Mungkin kita berkata, "Jangan bercanda ah. Masak sih, orang yang terbelit hutang dan kesulitan ekonomi disuruh rajin sholat, membaca Aquran, zikir dan berdoa? Uangnya dari mana?". "Aku yakin Tuhan adalah pemberi jalan keluar, tapi sekarang yang kubutuhkan adalah UANG". Begitu ya...
Kalau ada ungkapan seperti itu berarti ya "Kita tidak yakin bahwa Allah bisa menyelesaikan masalah, bukan?".
Maka saya teringat dengan ungkapan seorang ustaz tentang kesyukuran. Sehingga...
Bersyukurlah karena tidak memiliki uang 1 trilyun saat ini. Mengapa?
Karena, ternyata "belum memilikinya-pun kita sudah melupakan Allah" dan sangat yakin bahwa sumber kebahagiaan itu adalah uang itu. Bagaimana pula nanti jika benra-benar memilikinya?. Saya yakin, kita pasti panik dan stress ala pemenang lotere yang sering diberitakan di Amerik. Bukannya bahagia, kehidupan mereka justru banyak yang berakhir dengan depresi dan bunuh diri. Orang miskin yang mendadak kaya ternyata tidak bisa mengendalikan uang dan perasaan hati mereka. Foya-foya dan lupa diri.
Jadi, apa yang harus dilakukan?
Yah, ketimbang membayangkan memiliki uang 1 trilyun dan banyaknya kebahagiaan yang bisa "dibeli" dengannya. Mengapa tidak berbahagia dengan berbagai pemberian yang telah nyata-nyata diberikan Allah kepada kita saat ini?. Misal, berbahagia dengan udara yang dihirup, air yang diminum, makanan sederhana yang kita asup, rekan kerja yang menyenangkan, atau senyuman keluarga kita yang tulus. Nilai semua hal di atas puluhan trilyun, lho.
Atau, ketimbang terus memikirkan masalah yang memang tak pernah habis dari kehidupan ini. Mengapa tidak mempermasalahkan kedekatan kita dengan Tuhan yang mungkin semakin jauh dari hari ke hari. Misal, mempermasalahkan shiolat kita yang tidak khusyuk, atau Alquran yang tidak pernah disentuh atau zikir kita yang sangat minimalis?
Saya tidak sedang mengecilkan masalah yang kita hadapi, bro.
Kita semua pasti memiliki masalah yang beragama. Tapi mbok ya sesekali kita bertanya kepada hati nurani kita. Wajar tidak, jika Allah bertanya kepada kita. "Mengapa masalah terbesar kalian selalu tentang dunia yang Kuciptakan ini?. Kok, tidak ada yang mempermasalah hubungan kalian dengan-Ku?
Atau "Kalian lebih mempercayai uang sebagai sumber kebahagiaan ketimbang Aku sebagai pencipta kebahagiaan dan uang kalian itu?. Kenapa kalian tidak berbahagia dengan bisa dekat dengan-Ku dan melaksanakan suruhan-Ku?. Dalam ya bro..?. Arifin Ilham sering sampaikan hal ini, lho.
Saya teringat dengan sebuah hadis Qudsy yang sering disampaian Ustaz Zul di komplek kami. Bunyinya:
"Milikilah waktu untuk beribadah kepada-Ku. Niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan menjauhkan kemiskinan dari dirimu. Namun, jika kamu tidak sudi melakukan itu, maka Aku akan sibukkan hatimu dengan berbagai kesibukan (stress/panik -pen) dan Aku tidak akan menghilangkan kemiskinan dari dirimu."
Ternyata bro.
Berdasarkan hadis di atas. Jangan-jangan, kepanikan di hati kita selama ini terhadap kemiskinan dan kesusahan hidup adalah tanda bahwa waktu yang kita berikan kepada Allah sangat-lah kurang. Atau, ibadah kita kepada-Nya belum berkualitas tinggi. Iya kan?
Selamat menjalani kehidupan. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita. Amin. Wallahu A'lam.

0 Comments