By: M. Ridwan
Kearifan itu mahal harganya. Pemiliknya akan mampu melihat dunia dalam spektrum yang sangat luas. Horizonnya melampaui Timur dan Baratnya bumi. Tentu saja lah. Namanya juga mendapatkan limpahan pengetahuan dari Tuhan -Sang Pemilik Ilmu. Si pemiliknya menjadi manusia bijaksana dan bisa mencerahkan. Lalu, apakah kita bisa memperoleh kearifan dari sebuah lembaga pendidikan?
Tentu saja bisa. Dan, seharusnya memang bisa. Ilmu yang diajarkan di lembaga pendidikan bisa memunculkan kearifan jika proses belajar dan mengajarkannya juga berniat untuk memperoleh kearifan. Not only science or knowledge. Apalagi sekedar untuk cari duit dan kerja. Bisa berbahaya. Seperti riset yang pernah dilakukan universitas Ohio bahwa ternyata orientasi kampus di Amrik hanya mencetak pekerja dan bukan orang terdidik dalam makna seutuhnya. Mungkin sama dengan di Indonesia ya?
Seperti kata Kek Min yang mengungkapkan kekagumannya kepada para pendidik yang akan mendapatkan limpahan pahala karena mencerdaskan bangsa. Dalam pikirannya, sekolah dan belajar ya seharusnya bernuansa ibadah dan hikmah.
Belajar dan mengajar itu memang mengasyikkan. Aktifitas itu telah menjadi rutinitas semua manusia di planet ini. Dari Eropa Timur sampai semenanjung Arab, pesisir Amerika sampai Australia, dataran Tiongkok dan pedalaman Indonesia, melakukan hal yang sama.
Saya pernah berpapasan dengan segerombolan siswa-siswa Inggeris yang tampak bergembira menenteng tas dan bernyanyi-nyanyi. Kelihatan bahagia sekali. Sama seperti bahagianya bocah-bocah komplek saya ketika berangkat sekolah.
Ada sensasi bahagia dalam belajar, dan tentu juga serangan stress. Bayangkan, bagaimana ribetnya prosesi keberangkatan seorang siswa atau bingungnya seorang mahasiswa yang belum memgerjakan makalah suruhan dosennya.
Dan, tentunya, sensasi bahagia dan stress juga bisa menimpa para pendekar pendidiknya sendiri. Guru yang bahagia atau dosen yang happy itu banyak, namun tentu jumlah pendidik yang "tertekan" juga tak kalah banyak. Entah apa saja pemicunya. Bisa terkait kesehatan, kemacetan, dan tentunya kesejahteraan alias duit sebagaimana disampaikan oleh peserta pelatihan wirausaha bulan lalu yang merupakan guru-guru. "Tunjangan sertifat gurunya tidak cukup pak," kata mereka tersenyum. Lho?
Wajar sih, secara manusiawi seorang pembelajar atau pengajar bisa juga tertekan. Namanya juga hidup di dunia. Apalagi masalah duit tadi, ya. Namun, tekanan dan semrawutnya pikiran jangan sampai membuat hati menjadi kusut. Karena, hatilah pembuka kearifan atau hikmah itu. Demikian kata Ustaz Arifin Ilham.
Saya setuju.
Soalnya, Musa, Khaidir, Luqmanul Hakim dan Muhammad adalah contoh manusia yang mampu memiliki hikmah yang tinggi tanpa menginjakkan kaki di lembaga pendidikan, bukan?. Apa yang mereka sampaikan bahkan menjadi rujukan para pembelajar di lembaga pendidikan selama ribuan tahun. Aneh bukan?. Apa sebabnya?, tidak lain karena mereka tahu cara menggunakan hati dan menyelaraskannya dengan pikiran. Lalu, bagaimana kita saat ini?
Maka, seharusnya siapapun kita, terlebih orang yang berkutat di dunia pendidikan seharusnya bisa menjadi sosok yang arif bahkan melebihi kearifan manusia tempo doeloe. Kita seharusnya bisa menjadi pemilik hikmah di era digital dan modern ini. Kita tinggal pilih model siapa yang ditiru. Mudah dan gampang, bukan? :)
Lalu, kearifan seperti yang kita harapkan?
Bisa saja dalam bentuk kearifan ketika melihat diri sendiri. Misal, merasa fakir di di hadapan Tuhan, merasa bodoh dengan secuil ilmu yang dimiliki dan selalu rendah hati dalam bertindak.
Secara sosial, seorang yang arif akan memiliki kepekaan sosial yang tinggi, dan peduli dengan sesama. Rasa sayangnya menghilangkan benci dan dendamnya. Interest pribadinya dikalahkan sikap adil dan mengayomi. Dia sibuk mengumpulkan permata hati, berinvestasi pada tambangnya dan tentu berbagi kekayaan hati.
Kita yakin, bumi pertiwi kita masih penuh dengan manusia pemilik kearifan ini. Menemukan mereka adalah "rejeki" mahal. "Bersua" dengan mereka adalah karunia. Dan, seharusnya kita bisa dengan mudah menemukan mereka di lembaga pendidikan negeri ini.
Ketimbang sibuk mencari Pokemon, bukankah lebih baik mencari manusia arif ini?.
Atau, jangan-jangan, Andakah orang 'arif yang saya maksudkan dalam tulisan ini?. Amin. Wallahu a'lam.

0 Comments