By: M. Ridwan
Ibrahim hidup sekitar tahun 2169 SM. Artinya, sekitar 2700 tahun kemudian, barulah Nabi Muhammad dilahirkan. Sehingga jarak masa hidupnya dengan masa Nabi Muhammad lebih panjang dibandingkan jarak hidup kita dengan Nabi Muhammad. Kalau kita sih, kira-kira 1500 tahun.
Ibrahim hidup pada masa kekuasaan Namruz, salah satu penguasa Babilonia yang zalim. Sama dengan keadaan Musa di era Fir'aun. Namruz dan Fir'aun setali tiga uang. Kedua-duanya mengaku menjadi Dewa atau Tuhan. Namun, Namruz memiliki media lain berupa berhala atau batu-batu. Uniknya, si pemahat patung yang terkenal masa itu adalah Azar, keluarga Ibrahim sendiri.
Oh ya, ada dua pendapat tentang si Azar ini. Ada tafsir yang mengatakan bahwa ia adalah ayah kandung Ibrahim namun ada yang berpendapat bahwa ia adalah paman Ibrahim karena tidak layak rasanya seorang nabi mulia dilahirkan oleh ayah yang kafir. Dan nabi Muhammad dilahirkan dari keturunan Ibrahim. Kalau saya sih lebih cendrung ke pendapat kedua bahwa si Azar adalah paman nabi Ibrahim yang merawatnya sejak kecil dan sudah dianggap sebagai ayah. Ayah tiri maksudnya. Terserah kita mau pilih yang mana.
Dari Babilonia (Irak) Ibrahim pindah ke Mesir dan kemudian bermukim di Palestina. Panjang kisahnya, dan unik. Terutama berkaitan dengan berbagai ujian yang diberikan Tuhan kepadanya.
Ibrahim hidup dengan penuh penderitaan batin. Ia tidak mengenal tuhan. Tidak mengenal Tuhan itu adalah penderitaan terbesar, lho. Bayangkan, ia harus mencari keberadaan Tuhan seorang diri dan hidup dengan ayah/paman yang kafir tadi. Si paman yang sudah dianggap sebagai ayah tadi bahkan tega membiarkannya dibakar di hadapan massa karena menghancurkan berhala-berhala tadi. Azar adalah contoh orang tua tak patut dicontoh...!!!. Bandingkan dengan ayah/paman kita yang sejak kecil mengajarkan tauhid dan mengenal Allah. Bersyukurlah...Doakan ayah dan ibu kita, ya...
Sebagai suami, Ibrahim itu penuh dengan berbagai ujian. Sangat berat.
Dia terancam tak punya keturunan. Dan, Allah memberinya kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan seorang anak. Ismail lahir dari rahim Hajar, seorang budak hitam yang dinikahinya atas izin isterinya, Sarah.
Namun, ujian hidupnya belum berakhir. Kali ini ujian juga menimpa Hajar, isterinya. Lengkaplah sudah ujian buat eluarga ini.
Atas perintah Allah, Ia harus meninggalkan anak dan isterinya, Hajar di Bakkah, nama awal kota Mekkah. Ia harus menempuh perjalanan lebih 800 km dari kediamannya di Palestina menuju ke sana. Syukurlah, Hajar dan Ismail mampu bertahan hidup, dengan bantuan Allah tentunya, karena keluarga ini sangat yakin akan perintah Allah. Keyakinan mereka sudah sempurna.
Kisah Zam Zam dan terbentuknya kota Mekkah bermula dari sini. Sehingga, kalau ada yang bertanya, siapakah wanita pembangun kota pertama di dunia?. Maka, jawabannya adalah Hajar. Super Women....!!!. Kota yang dibangunnya bahkan menjadi pusat kunjungan dan ibadah manusia di dunia sampai saat ini. Adakah perempuan yang mau mendapatkan ujian seperti Hajar saat ini?.
Namun, ujian berikutnya masih berlanjut. Dan, lebih besar lagi.
Ibrahim akhirnya mengunjungi Mekkah yang kini ramai. Betapa bahagianya ia menyaksikan Ismail tumbuh menjadi remaja cilik yang ganteng dan sholeh. Si ibu berhasil membentuknya menjadi pribadi yang sholeh. Kerinduannya terpenuhi. Ia memeluk si anak dengan tangisan bahagia. Tapi tak lama setelah pertemuan itu, ujian besar itu menghampiri.
Anak yang baru bersua itu harus pula dikorbankan untuk Tuhan. Tidak tanggung-tanggung. Kali ini harus disembelih.
Apakah Ibrahim mau melakukannya? Syukurlah, ia mau dan ikhlas menerima perintah itu. Kali ini keyakinannya kepada Allah sudah berada pada titik tertinggi. Yang jelas, ujian menimpa keluarga ini kembali. Sangat berat. Seperti tidak ada habis-habisnya ya...
Dan, mereka berhasil melewatinya karena ikhlas. Si Super Son, Ismail sangat ikhlas dan tidak kabur dari rumah dengan mengendarai unta misalnya. Apalagi curhat ke teman-temannya. "Wahai, ayahku, laksanakan saja apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insyallah aku akan menjadi anak yang sabar. Ismail itu manusia lho, bukan malaikat. Bisa sesabar itu...Subhanallah.
Akhirnya, Ismail tidak jadi disembelih dan ia digantikan dengan seekor biri-biri gemuk dan besar. Ada riwayat mengatakan bahwa biri-biri yang dijadikan pengganti Ismail ini adalah biri-biri hasil kurban anak Adam yaitu Habil. Subhanallah...ternyata cerita para nabi dan aulia ini tersambung terus ya..
Kita yang hidup di jaman ini sebenarnya mendapatkan semua kemudahan. Cukup enaklah. Kita cukup hanya membaca cerita-cerita di atas dan mengambil hikmahnya. Kita tidak mesti menjadi aktor semua kisah di atas, bukan?
Karena, kalau perintah dan ujian itu diberikan ke kita-kita ini, pastilah kita akan kabur, bukan?. Wong disuruh sholat dan Qurban saja masih mikir-mikir dan berat hati, konon pula mau ninggalin anak di tanah gersang apalagi menyembelih buah hati kita. Ayo ngaku..?:)
Hajar dan Sarah itu perempuan hebat.
Dari rahim mereka, para Nabi banyak dilahirkan. Si Sarah yag tua pun akhirnya melahirkan Ishaq yang kemudian melahirkan Yakub. Makanya, wajar Ibrahim disebut bapaknya para Nabi.
Hajar adalah model isteri yang rela menerima titah sang suami, apapun risiko. Sama hebatnya dengan Ismail yang juga sami'na wa ata'na dengan si ayah. Beda jauhlah dengan anak-anak sekarang. Ismail tidak pandai bergaya seperti anak-anak sekarang. Tidak pandai medsos, selfie dan pacaran :)
Tak salah kalau kita menyebut mereka keluarga hebat. Super family. Si ayah dan ibu super, si anak juga. Triple Super.
Tak salah pula, jika Allah sangat sayang dengan Ibrahim dankeluarganya sehingga dari keturunannya pula Muhammad berasal.
Ibrahim menjadi sebutan manusia sepanjang masa, sama seperti doanyayang terkenal. "Ya Tuhanku, berikanlah aku hikmah dan kumpulkan aku dengan orang yang sholeh. Serta jadikanlah aku tutur kata yang baik di akhir masa". Doanya makbul, Ibrahim menjadi terkenal karena kualitasnya di hadapan Tuhan, dan bukan hasil dari proses karbitan ala tokoh dan selebriti di media dan TV.
Nah, Tuhan tidak memberikan kita semua cobaan ala Ibrahim dan family. Kita gak bakalan sanggup menerimanya, yakinlah.
Sebagai gantinya, Tuhan hanya menyuruh kita melakukan ibadah yang dilakukan Ibrahim. Sehingga, tak perlu repot-repot mencari Tuhan dengan melihat bulan, bintang dan matahari lagi. Cukup baca dan amalkan ajaran para nabi dimana Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul. Prihal ajaran Tuhan sudah dijelaskan di situ. Kita hanya diperintahkan memantapkan keimanan itu di tengah dunia yang mulai ragu dengan Tuhan. Mudah atau sulitkah?
Kita juga tak perlu repot meninggalkan keluarga di hutan hanya untuk dapat perintah haji. Cukup berupaya kumpulin uang dan insyaallah pergi naik pesawat ke sana. Enak teunan. Bisa selfie lagi: )
Tentunya pula, kita tidak akan diperintahkan menyembelih anak kita untuk dikurban-kan. Kita akan dianggap orang sinting dan ditangkap polisi nantinya. Nah, sebagai gantinya, kita cukup berupaya berkurban dengan sapi, atau kambing. Sekitar 2 jutaan/orang (kurs 2016). Kita disuruh berkuraban dengan harta, tenaga, pikiran dan juga perasaan bukan?
Nah, kalau dengan semua kemudahan di ataspun, kita masih ogah dan ragu-ragu, entah itu untuk bertuhan atau untuk sujud dan beribadah, apakah artinya kita ingin benar-benar kepingin mendapat ujian seberat Ibrahim?
"Apakah kita harus dipimpin Namruz atau Fir'aun dahulu baru mau ikhlas sholat dan ibadah?.
"Apakah kita mau Allah menggersangkan bumi kita dahulu baru kita mau menghilangkan syirik dan kelalaian?".
Makanya, mending dipikirkan ulang deh. Kita gak bakalan sanggup nanti. Syukurlah, ujian kita sudah diwakilkan oleh Ibrahim dan Nabi-Nabi lain. Bersyukurlah.
Kita sudah banyak dapat kemudahan dari Tuhan, bro. Diskon hidup kita banyak sekali. Kalau dalam kehidupan serba mudah inipun, level kita tidak meningkat di hadapan Tuhan maka wajar tidak, jika Tuhan enggan menjawab doa-doa kita, bukan?.
Hari ini kita merayakan Idul Adha. Mengingat kisah 4200 tahun lalu. Para ustaz mengatakan, "Seharusnya kita bertanya kepada diri masing-masing",
"Apa sih sebenarnya yang aku mau dan cari dalam hidup ini?"
"Ibadah seperti apa sih yang menggembirakanku?"
"Hidup seperti apa yang kita dambakan?"
Karena bro, jangan-jangan, dengan tingkah kita saat ini, dimana kita selalu ogah-ogahan untuk beribadah dan menjadi orang baik, bukankah artinya kita mungkin tidak rela dengan Tuhan dan mungkin tanpa sadar sedang mencari Tuhan yang lain?. Na'uzubillah. Selamat Idul Adha. Wallahu a'lam.

0 Comments