
By: M. Ridwan
Judul di atas bukan judul film. Memang sih, ada banyak artikel tentang cahaya dan permasalahannya. Terutama terkait masalah energi listrik yang sering melanda negara-negara berkembang tak terkecuali Indonesia. Apalagi Medan ya.., It's so complicated, buktikan saja sendiri. :)
Judul di atas memisahkan dua kata yaitu "Masalah" dan "Cahaya". Why?
Saya terinsipirasi dari berbagai petuah para guru bahwa sumber masalah itu bukan sesuatu di luar diri kita. Menurut mereka, munculnya masalah dikarenakan masalah "cahaya" di hati manusia. Simpel saja. Jika cahaya di hati seorang manusia sedang terang benderang, maka dipastikan problem hidup tak terlihat karena kalah dengan terangnya hati. Sebaliknya, jika cahaya hati itu sedang redup redam apalagi sampai gelap dan tertutup kotoran, maka dipastikan problem hidup akan menerpa manusia seperti ini.
Problemnya adalah....
Secara kasat mata, kita tidak pernah melihat lampu di hati itu menyala, bukan?. Sehingga kita tidak bisa dengan mudah "mengganti" bola lampu hati, atau membersihkannya langsung dengan air. Kalau bisa terlihat kasat mata seperti lampu di dada super Hero -seperti "Iron Man" dan "Ultra Man"- tentu mudah bagi kita untuk menentukan sikap. Kita tinggal pantau saja. Ketika lampunya redup kita bisa ganti dan ketika terang lalu kita beraksi. Namun, cahaya yang kita maksud di sini adalah cahaya tak terlihat. Ia hanya bisa dirasakan sehingga bagaimana cara menggantinya?. Benar bukan?
Lawan kata terang adalah adalah gelap. Dengan demikian, semua pemasalahan hidup dipastikan diawali dengan gelapnya hati, demikian kata Al-Ghazali dalam kitabnya Misykat al-Anwar. Samalah seperti kata Steven Covey dan para trainer motivasi bahwa sebuah permasalahan itu bukan terletak pada masalahnya, namun lebih kepada bagaimana cara kita melihat dan menyikapinya.
Masalah hati dan cahayanya, entah itu terang dan gelap biasanya diminati para pengkaji dan praktisi tasawuf. Saya melihat fenomena ini semakin menjamur dan sangat bagus tentunya. Meskipun, seseorang yang mengkaji saja belum tentu bisa merasakan cahaya hati itu. Harus dilakukan latihan dan praktik terus-menerus, harus banyak zikirnya baik zikir lahir atau batin, demikian kata para mursyid.
Dalam hidup ini dipastikan berbagai masalah akan muncul. Untuk konteks manusia modern, permasalahan itu lebih berjibun. Ada masalah ekonomi, politik, sosial budaya, lingkungan atau masalah kejiwaan. Tidak semua manusia benci dengan masalah, lho. Ada yang justru mencari-carinya. Misalnya, seorang mahasiswa yang sedang berupaya membuat skripsi. Dia pasti sibuk cari masalah bukan?, atau seorang jurnalis yang berburu berita yang biasanya adalah berbagai masalah sehari-hari. Bahkan, sebuah masalah itu bisa menjadi duit juga lo yaitu ketika seseorang bisa mencarikan solusi atas masalah orang lain. Kreatif dan invatif-lah. Hehe..
Sampai kapan sebuah masalah akan hilang?
Jawabannya tidak ada. Karena dunia memang bertugas untuk menampilkan berbagai masalah. Sebuah masalah mungkin saja hilang atau lenyap pada diri seseorang namun masalah yang sama bisa menimpa orang lain. Katakanlah, kita mungkin tidak yang sedang menghadapi masalah ekonomi dan kelaparan, namun apa yang terjadi dengan sebagian manusia lain?
Hasil kesimpulan pengajian kami minggu lalu (lho ternyata materi pengajian ya..:) bahwa fokuslah terhadap cahaya hati kita bukan pada permasalahan itu sendiri.
Cahaya hati yang terang tidak akan membuat pemiliknya stress dan panik dengan berbagai permasalahn yang dihadapi baik dirinya atau masalah orang lain. Itu penjelasan logisnya.
Lalu bagaimana membuat cahaya hati menjadi terang?
Banyak cara sih. Bisa dengan berzikir atau membaca Alquran, dan khuyusk dalam beribadah. Kalau tidak mampu melakukannya dengan baik silahkan berguru dengan para mursyid atau guru tarekat. Mereka akan memberikan teknik dan cara untuk melakukan zikir yang memang sudah teruji dari abad ke abad.
Indonesia tanpa "cahaya" itu sangat mengerikan.
Bayangkan, dengan adanya iman saja, cahaya itu mungkin redup redap di negeri ini, bayangkan pula jika iman itu hilang di hati penduduk negeri ini. Makanya cari pemimpin yang beriman dan suka berzikir ya..:). Cari pemimpin yang suka mencari petunjuk Tuhan dan bukan sekedar mengandalkan logika dan katanya memiliki intelektualitas. Hemat saya, di negeri kita ini pemimpin beriman, jujur dan tidak korup masih banyak sehingga tidak perlu sih menggunakan "tidak ada rotan akar pun jadi" misalnya "Biarlah cari pemimpin yang tak beriman (muslim) tapi jujur". Hehe, pasti Anda mengatakan saya bicara politik DKI ya.
Tapi okelah, saya komentar dikit tentang politik dan kaitannya dengan iman tadi.
Cukup berbahaya jika muncul ungkapan " Lebih bagus memilih pemimpin kafir namun jujur" ketimbang memilih "pemimpin muslim namun korup". Ini cukup berbahaya lho, karena membandingkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Tidak apple to apple.
Perbandingannya seharusnya "Lebih bagus memilih pemimpin muslim yang jujur" ketimbang "Pemimpin kafir yang jujur". Bukankah ini perbandingan yang ideal?
Kalau perbandingannya salah, akan muncul ungkapan aneh lain lho.
Misal, "Lebih baik memilih suami kafir namun baik hati" ketimbang "Suami muslim yang tidak baik". Seharusnya bandingannya "Suami kafir yang baik hati" dibandingan dengan "Suami muslim yang baik hati". Mungkin ini sebabnya pula, makanya market share bank syariah tidak berhasil menembus 5% lho. Pakai perbandingan salah sih. "Lebih bagus pilih bank riba namun menguntungkan" ketimbang "Bank sayariah tapi tidak menguntungkan". Ayo ngaku...? Hehe...
Tapi, begitulah, masalah penggunaan bahasa dan kata-kata ini bisa membuat manusia terpecah belah kok. Makanya diperlukan sebuah logika yang lurus dan jernih. Nah, biasanya, logika yang lurus dan jernih ini muncul dari kejernihan hati yang terang benderang.
Dalam hidup ini, banyak sekali orang-orang baik yang kita temui. Dari berbagai profesi, baik laki-laki maupun perempuan. Tua atau muda. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki hati yang bersinar. Koleksi orang-orang seperti ini harus kita tambah karena misi kita di dunia ini akan semakin terbantu dengan semakin banyak bertemu dengan orang-orang baik dan "terang-benderang" ini.
Sebaliknya, kita mungkin juga sering bertemu dengan orang-orang yang sedang berproses menjadi baik atau tidak baik sama sekali -secara lahiriah lho- karena kita tidak boleh menjustifikasi bahwa seseorang itu baik dan tidak baik (karena hanya Tuhan yang berhak menilai). Atau, jangan-jangan, justru kitalah orang-orang yang tidak baik itu dan penuh kegelapan itu?. Wallahu a'lam
Akhirnya, ia teringat saja dengan doa yang diberikan guru ngaji saya waktu kecil dulu. Doa ini harus dihapal dan setiap hari harus dibaca sebelum memulai mengaji Alquran.
اللهم افتح علينا حكمتك وانشر علينا رحمتك يا ذا الجلال والإكرام وألزمني الفهم وارزقني العلم والحكمة والعقل
"Ya Allah, bukakanlah kepada kami hikmah, sebarkan kasih sayang-Mu kepada kami Wahai Tuhan yang Maha Agung. Berikanlah kami pemahaman dan berikanlah kami ilmu, hikmah dan akal". Amin...Wallahu a'lam bis shawab...

0 Comments