Mario Teguh itu sosok fenomenal. Motivator Indonesia ini menginspirasi jutaan penduduk negeri ini. Sejujurnya, kita harus mengakui hal ini dan berdoa akan lahir banyak Mario lain di negeri ini. Dan, saya bersyukur bahwa apa yang selama ini disampaikannya adalah hasil dari pengalaman hidupnya, baik pahit maupun getir. Kita banyak terinspirasi dari petuah dan kata-kata bijaknya. Salam Super..!!
Orang hebat biasanya memang lahir dari kondisi yang memprihatinkan. Siapa sangka, sosok Mario yang excellent ternyata pernah hidup dalam keadaan susah. Artinya, secara ekonomi, ia pernah merasakan betapa menderitanya menjadi orang miskin. Hidup di kos-kosan dan makan seadanya. Setidaknya hal ini yang saya tangkap dari penjelasan beliau di sebuah TV. Syukurnya, ia didampingi isteri yang tabah dan kuat.
Pengalaman batin dan keluarganya tak kalah seru. Saya yakin, semua mata kita saat ini tertuju padanya. Apalagi kalau bukan "tuduhan" kepadanya bahwa ia telah menelantarkan anaknya. Ups, saya tidak bermaksud untuk ikut meramaikan sesuatu yang saya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, entah mengapa, hati kecil saya mengatakan bahwa Mario Teguh harus didukung. Andaikan, ia pernah khilaf dan salah, maka bukankah Tuhanpun Maha Pemberi Maaf?.
Tapi, syukurlah. Dalam kacamata saya, Mario Teguh sepertinya sama sekali tidak bersalah seperti yang dituduhkan kepadanya. Permintaannya jelas supaya diadakan tes DNA supaya kemelut ini diakhiri. Ada rona sedih di matanya ketika harus mengungkap masa lalunya yang "cukup perih". Dan, keperihannya banyak disebabkan karena ia tidak mau mengungkapkan aib orang lain. Sebuah pribadi yang mulia, kita yakini itu.
Saya menyebut dunia kini sebagai dunia opini. Dimana kebaikan dan keburukan itu lebih banyak ditentukan oleh opini. Opini bisa juga disamakan dengan prasangka dan anggapan pribadi. Bisa jadi opini itu bersifat baik ataupun buruk. Dan, biasanya, manusia lebih suka dengan opini yang mengarah kepada keburukan. Dalam hal ini "berterima kasihlah" kepada media yang berhasil membawa opini masyarakat ke sana ke mari. Bisa ke neraka atau ke surga tergantung pilihan. Iya kan? :)
Dalam dunia opini seperti ini, penting bagi kita untuk memilih "kacamata" mana yang harus dipakai. Bukan kacamata yang sering saya pakai ya. Kalau kacamata ini jenis murahan, sih. Bukan merk branded seperi Gucci, Burberry, Calvin Klein apalagi Prada. Dulu saya pernah punya beberapa kacamata merk branded, tapi kok saya jadi susah memakainya. Soalnya selalu paranoid gitu, takut tergores dan lecet. Repot ditanyaain orang juga. Akhirnya saya pakai kacamata yang biasa-biasa saja. Maksudnya, yang biasa di pajang di Grand Indonesia dan Pondok Indah Mall. Hehe, canda kok.
Kacamata yang saya maksud dalam tulisan ini adalah kacamata hati. Kacamata ini akan membuat pemiliknya selalu melihat sesuatu dari persepektif "Husnun Zan" atau berpikiran positif. Misal, melihat keadaan dan pribadi seseorang dari sisi baik dan penuh hikmah. Guru-guru spiritual menyebutnya dengan "Basyirah" "Lubb" atau Mata Hati.
Teknik hidup dengan menggunakan mata hati ini memang diakui paling sulit dilakukan. Apalagi dalam kondisi dunia opini seperti ini dimana, peminat "kacamata" negatif dan streotif itu lebih banyak, maybe.
Saya ambil contoh. Laukan tes ini.
Katakanlah, seorang menceritakan kepada kita tentang pribadi seseorang.
"Si A itu baik sekali, ia sukses dan memiliki keluarga harmonis. Karakternya bagus dan berjiwa sosial yang tinggi. Karier cemerlang dan penghasilan tinggi. Ia memiliki anak-anak ganteng dan cantik serta pasangan yang setia dan harmonis." Nah, bagaimana perasaan kita mendengarkan informasi seperti itu?. Kalau hati kita berbuncah bahagia dan mengucap syukur lantas mendoakannya, maka hati seperti itu kata Nabi hati adalah qalbun salim. Hatinya sebersih dan seputih salju. Calon penghuni surga tuh.
Lalu, orang itu menceritakan lanjutan ceritanya...
"Meskipun si A itu terihat sukses mapan dan sholeh, namun ternyata tidak disangka-sangka. Ia ternyata..." orang itu tidak melanjutkan. "Aku tidak lanjutkan ya, takut jadi aib".
Nah, dalam kondisi seperti itu apa sikap kita?
Biasanya sih, dalam kondisi kebanyakan, manusia akan cendrung lebih tertarik dengan berita kontradiktif. Kita akan sangat tertarik untuk mengorek keterangan lebh lanjut. Mungkin justifikasinya untuk balancing atau penyeimbang, ya. Tapi, biasanya, berita negatif yang dikejar bertujuan untuk memuaskan hati. Soalnya ngak ikhlas lihat orang bahagia, ya?.
Tragisnya, berita negatif justru lebih mudah dingat dan berpotensi menjadi multiplier.
Lalu, apakah kita tidak boleh berpikiran negatif tentang seseorang?. Tentu, kalau yang dimaksud kewaspadaan dan sikap berjaga-jaga boleh saja sih. Misal, kita waspada dengan sosok seseorang yang tidak dikenal datang ke rumah berlagak seolah teman lama lalu ia mau pinjam uang. Dalam kondisi ini kewaspadaan perlu dikedepankan. Soalnya, di kompleks saya pernah kejadian. Bahkan ada jamah haji kita di tahun 2016 ini yang tertipu dengan modus pura-pura kenal ini, lho.
Dalam cerita Mario Teguh ini, kacamata kita ya harus dipakai yang positif.
Sosok beliau sangat menginspirasi. Untaian kata yang disampaikannya, saya yakin, berhasil "mem-baikkan" banyak orang dan "menyelamatkan" hidup mereka. Hebat ya, hanya dengan kata-kata dan inspirasi banyak orang yang berhasil memiliki hidup yang lebih baik dan kaya. Kaya dan baik hati maksud saya. Kekayaan dan kebaikan hati ini saya yakin pasti mudah dikonversi menjadi kekayaan materi. Itu janji Tuhan.
Nah, seandainya Mario seperti apa yang dituduhkan kepadanya?
Artinya ia benar menelantarkan sang anak -dan ini telah dibantahnya dengan keras-, lalu So What Gitu lho?.
Apakah kita lantas mengatakan bahwa apa yang disampaikannya tidak berarti dan tidak berguna?. Apakah kita lantas mencampakkan pesan-pesan kebaikan yang telah disampaikannya. Lalu dengan mengatakan,"Ah, Pak Mario ternyata hanya pandai berkata-kata dan omong doang". Lalu, kita membakar buku-bukunya dan mematikan TV ketika ia muncul?. Kenapa tidak sekalian malaikat saja yang kita jadikan motivator? :).
Dulu, ada peristiwa seorang da'i kondang yang kemudian di-bully karena dianggap "bersalah" karena berpoligami. Setelah peristiwa ini diketahui, banyak publik yang kemudian mencibir dan lantas meninggalkan sang ustaz. Wah, kasihan sekali. Kasihan kepada orang yang mencibir sih. Si ustaz semakin baik kedudukannya di hadapan Allah sementara si pem-bullly semakin bete dan stress kehilangan pegangan bukan?
Bukan apa-apa sih.
Saya tidak sedang menggampangkan masalah atau membolehkan ketidakadilan. Khawatirnya, justru kitalah yang tidak adil kepada merwka. Zalim lho. Dosanya segunung.
Lagipula, Indonesia membutuhkan sosok-sosok yang mencerahkan. Namun, mereka tidak akan muncul tanpa kepercayaan kita dan doa kita untuk mereka. Orang Arab bilang "Unzur Ma Qala, Wala Tanzur Man Qala". Terjemahannya "Lihat apa yang mereka disampaikan dan jangan lihat siapa yang menyampaikannya". Kalau ini bisa dilakukan hidup pasti adem ayem, bukan?
Memang kita maklum. Sosok panutan di negeri ini tidak banyak terlihat. Entah karena mereka tidak mau pamer atau memang sedikit jumlahnya. Makanya, ketika ada satu dua orang yang terlihat menonjol, semua harapan diberikan kepadanya. Kadang kepercayaan ini disalahgunakan juga. Banyak padepokan aneh dengan guru-guru aneh yang muncul dan diminati. Katanya guru spiritual tapi kok..?.
Sayangnya, ketika ada sedikit goresan terhadap sosok itu, kepercayaan itu lantas hilang dan sirna. Kasihan sekali kita-kita ini ya.
Namun Bro, audit Tuhan terhadap manusia dari titik hati, lho. Entah itu dari spot iri, dengki, takabbur, curiga, prasangka negatif atau kufur. Dosa-dosa fisik itu sih adalah perwujudan dari dosa hati, bukan?.
Nah, ketimbang sibuk mengorek-ngorek informasi apa sih yang terjadi dengan kehidupan Mario Teguh, bukankah lebih baik mendoakan diri dan keluarganya untuk damai dan harmonis kembali. Biar petuahnya di TV itu semakin mantap gitu. Pahala si Mario itu sudah segunung, lho. Mari kita berinvestasi pada dirinya dengan mendoakannya. Mudah, bukan?
Kita juga berdoa semoga semakin banyak Mario lain lahir di bumi pertiwi. Semakin banyak yang tercerahkan dan mencerahkan., Bukankah kebaikan negeri ini akan semakin banyak bukan?. Saya yakin sosok-sosok itu semakin hari semakin banyak di bumi ini. Bagaimana dengan keyakinan Anda?
Selamat berakhir pekan. Selamat Idul Adha. Wallahu A'lam.

0 Comments