By: M. Ridwan
Wak Sareng, demikian kami menyebutnya. Laki-laki tua ini adalah petugas cleaning service di mesjid kampung kami. Sosoknya sangat bersahaja dan selalu hadir setiap subuh kendati jarak rumahnya cukup jauh dari mesjid. Maklum, dia melakukannya dengan berjalan kaki, dan sesekali bersepeda karena secara fisik tidak memungkinkan mengendarai sebuah sepeda motor.
Kalau melihat dirinya, entah kenapa, kok saya selalu membayangkan sosok Abdullah bin Ummi Maktum pada masa nabi. Itu lho, sahabat Nabi yang buta namun selalu menempati shaf pertama ketika sholat subuh setiap fajar menyingsing. Bahkan, "gara-gara" dirinya yang sempat tidak di-terge" (dipedulikan) rasul, turunlah surat Abasa. Ceritanya, saat itu Nabi sedang menerima kunjungan kehormatan dari pemuka Quraisy ketika tiba-tiba Abdulah bin Ummi Maktum-pun muncul. Ia ingin bertemu Rasul namun terpaksa sedikit kecewa karena rasul terlihat lebih memperhatikan para pemuka Quraisy.
Saya kira, dalam kacamata kita saat ini, wajarlah jika Rasul saat itu lebih memprioritaskan tamu Quraisy-nya. Jarang-jarang mereka datang. Apalagi pertemuan saat itu cukup penting, demi pengembangan Islam juga, bukan?
Tapi, tidak demikian dalam pandangan Allah. Rasul kena teguran. Dalam Surat 'Abbasa (Wajah Masam), Allah mempertanyakan alasan Rasul berwajah masam, apakah karena Abdullah bin Umi Maktum adalah sosok yang tidak cukup diperhitungkan, maka lantas tidak dipedulikan?. Wah, bro, rasul saja kena teguran dari Allah kendati tujuan ayat itu pastilah untuk kita saat ini juga.
Namun, saya tidak menyoroti Wak Sareng dari kacamata Abdullah bin Umi Maktum tadi. Kendati saya sering lihat ada kemiripan. Biasanya, kalau ada pertemuan para pengurus mesjid, beliau selalu memilih diam dan tunduk mendengarkan. Dia hanya fokus bekerja dan tidak sepatah katapun pernah terdengar mengunjing apalagi memfitnah. Manusia aneh untuk jaman kini ya?
Saya menyebut dirinya pengabdi ulung. Kalau Anda berkunjung ke mesjid kampung kami, pasti tidak sulit berjumpa dengannya. Biasanya 1-2 jam sebelum azan dia sudah hadir. Memastikan mesjid bersih dan rapi, kendati beliau jarang sekali menjadi muazzin-nya. Berapa gajinya? Setahu saya sampai saat ini sekitar 100-200 ribu gitu. Itupun setelah ia sedikit "dipaksa" untuk menerimanya. Wong, biasanya ia tidak pernah mempermasalahkan gaji, kok. Saya angkat topi dengan Wak Sareng ini. Beliau sosok aneh. Lebih aneh lagi, justru beliaulah yang paling rajin mengunjungi warga termasuk rumah kami, selain Wak Min, yang sering saya ceritakan di tulisan lain.
Saya kira, "mengabdi", itu kata kuncinya. Wak Sareng tidak berkuasa dan memiliki posisi apapun di kampung kami. Namun, ia mampu tetap mengabdi dan berbakti pada masyarakat, bangsa dan Tuhannya. Ia adalah sosok penuh kekurangan, tapi saya kira ia memiliki kekayaan hati yang melimpah.
Makanya, saya yakin, bahwa kami pasti akan kehilangan dirinya jika sehari saja ia tidak berada di mesjid. Bagi kami ia adalah salah satu ikon mesjid dan agama di desa. Dan, memang, sampai saat ini, satu persatu pengurus mesjid lainnya telah dipanggil Allah. Wak Sareng, menjadi sosok inspiratif pejuang ikhlas kendati tak pernah bersuara dan menonjolkan diri.
Kalau memakai ukuran dirinya, maka kadang lucu juga sih melihat orang yang berebut kekuasaan dimana alasan utamanya katanya untuk mengabdi. Harus jadi Gubernur-lah, jadi penguasa-lah. Hehe..
Saya tidak mengatakan bahwa berkuasa atau mengejar kekuasaan itu tidak penting. Penguasa yang baik dan dekat dengan Tuhan itu mesti diperbanyak. Kita butuh Gubernur, dan pejabat yang sholeh. Kita harus merebut kekuasaan dari tangan orang jahat. Toh, para Nabi dan rasul juga banyak yang menjadi penguasa, bukan?
Tapi, ya itu tadi.
Sepertinya, banyak orang yang hanya menyempitkan kata "mengabdi" sebatas "berkuasa" atau memimpin. Sindrome ini berbahaya karena sangat mungkinia akan menghalalkan secara cara untuk berkuasa.
Sepertinya, banyak orang yang hanya menyempitkan kata "mengabdi" sebatas "berkuasa" atau memimpin. Sindrome ini berbahaya karena sangat mungkinia akan menghalalkan secara cara untuk berkuasa.
Atau, ketika ia tidak memimpin atau berkuasa, maka jiwa pengabdian pun pupus dari dirinya. Ia tidak ikhlas dengan orang lain yang memimpin dirinya. Ketahuan tuh, karena selama ini ia mengejar kekuasaan saja dan bukan pengabdian. Benar, bukan?
Konsern kita tentunya pada kata mengabdi tadi. Penguasa yang berdedikasi mengabdi setulus hati itu jempolan lah. Sebaliknya, berkuasa tapi minus pengabdian adalah bencana dan istidraj (terlihat seperti karunia tapi justru karena marahnya Tuhan). So, be wise. Pilihlah pemimpin yang berjiwa pengabdi, dan jadilah rakyat yang rela mengabdi. Fair bukan?
Akhirnya, saya teringat dengan kata Jalaluddin Rumi. Tokoh dari Persia yang hidup tahun 1200-an sangat terkenal dengan puisi-puisi cintanya. Saya kutip yang berbahasa Inggeris. "Wherever you stand, be the soul of that place" (Dimanapun kamu berdiri, jadilah jiwa bagi tempat itu).
Saya kira Wak Sareng telah menjadi jiwa desa kami. Ia bisa menjadi model sosok pengabdi. Ia mengabdi tanpa memiliki kekuasaan. Meskipun, secara batin, ia memiliki "kekuasaan besar", berkuasa atas hatinya. Bagi mata awam sih, pengabdiannya terlihat kecil, gak ada apa-apanya. Mata zahir sering menipu, bukan?
Kira-kira nih.
Apakah kita bisa mampu menjadi pengabdi tulus meski tidak berkuasa? Mampukah kita menjadi "jiwa bagi negeri ini" dan jiwa dari masyarakat dan ummat? Bersedia menjadi The Soul of Ummah?
Wallahu a'lam. Hanya Tuhan yang mampu menilai. Dan, hanya kita yang bisa memilih.
Apakah kita bisa mampu menjadi pengabdi tulus meski tidak berkuasa? Mampukah kita menjadi "jiwa bagi negeri ini" dan jiwa dari masyarakat dan ummat? Bersedia menjadi The Soul of Ummah?
Wallahu a'lam. Hanya Tuhan yang mampu menilai. Dan, hanya kita yang bisa memilih.


0 Comments