Ticker

6/recent/ticker-posts

Perjalanan Sebuah Ilmu

 
By: M. Ridwan

Berapa banyak air di muka bumi?. Iseng-iseng saya mencarinya di Google. Ketemu. Jumlahnya kira-kira 11 trilyun galon atau  1386 Kubik kilometer. Nah, 97% dari jumlah tadi berada di lautan atau sekitar 10 trilyun galon-lah.

Sekarang, kita tambah sejumlah 10 trilyun galon lagi dan kemudian kita jadikan tinta pulpen. Kita akan mendapatkan sekitar 20 juta trilyun pulpen. Jumlah yang banyak bukan?

Lalu untuk apa pulpen sebanyak itu?. Pulpen itu kita gunakan untuk menuliskan berbagai ilmu pengetahuan yang ada di bumi. Entah itu ensiklopedi kesehatan, binatang, manusia, lautan, darah, otak, awan, hujan, dan jutaan ensikplopedi lainnya. 

Saya yakin, jumlah pulpen itu tidak akan sanggup menuliskannya. Habis. Maklumlah, setiap untaian ilmu yang ditulis pasti akan mengundang hadirnya ilmu lain, bukan?. Belum lagi kalau kita menuliskan ensiklopedi benda-benda yang ada di langit, misal satu persatu planet, bintang, bulan-bulan atau galaksi. Pasti rahasianya tak akan habis-habisnya. Itu baru alam materi, belum lagi alam immateri, katakanlah prihal jin, malaikat, ruh dan alam ghaib lainnya.

Semua ilmu itu berada pada Allah. 
Makanya, Allah menyatakan di Alquran bahwa sekiranya semua air di lautan menjadi tinta dan ditambah jumlah yang sama, maka jumlah itu idak akan mampu menuliskan ilmu Allah. Hitungannya sudah jelas bukan? Air laut "hanya" bisa menghasilkan 20 juta trilyun puplen. Subhanallah.

Hari Kamis esok, merupakan hari membahagiakan buat UINSU khususnya para mahasiswa yang akan diwisuda. Beberapa fakultas juga telah mengawalinya dengan kegiatan yudisium dimana secara resmi mahasiswa tersebut telah dilantik dan resmi menyandang gelar akademis nan prestisius.  Seperti yang dilakukan oleh FEBI, sebutan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Selasa kemarin.

Suasana haru menyelimuti semua peserta Yudiusium ketika seorang wisudawati memberikan kata sambutan mewakili wisudawan. Yang menyampaikanya Cut INtan, wisudawan terbaik FEBI dengan IPK 3,7. Ia menceritakan betapa bangganya mereka dengan gelar yang telah diperjuangkan dengan usaha keras dan betapa berjasanya orang tua dan pengelola Fakultas.

Selama prosesi yudisium yang berlangsung khidmat, banyak hikmah yang bisa kita ambil terutama tentang arti sebuah ilmu dan perjalanannya. 

Secara akademis, perjalanan ilmu lahir (sebutan saya untuk ilmu-ilmu yang dipelajari di lembaga pendidikan) mungkin seperti yang lazim kita saksikan ini. Ditempuh dari pendidikan dasar, menengah, atas dan dilanjutkan ke perguruan tinggi. Stratanya juga beragam, sejak S-1, S-2 dan S-3. Sampai saat ini belum ada strata S-4 dst. Katanya, sih, Samsung lebih berani dengan mengeluarkan S7 nya. Kendati sering meledak juga ya. Hehe...ngaco...

Kita hidup di lautan ilmu. 
Tak terkira banyaknya. Semakin belajar, maka semakin nampak ketidaktahuan kita. Kita merasa semakin bodoh saja.  Manusia juga telah terkotak-kotak dengan ilmu yang masing-masing dikuasainya. Adanya spesialisasi membuat manusia memang tidak akan pernah bisa mengetahui semua ilmu di muka bumi. Otaknya terlalu kecil dan terbatas. Dan, ia adalah takdir sampai akhir hayatnya.

Saya sering bertanya sih, sampai kapan dan bagaimana akhir semua ilmu di dunia?.
Saya kira, kalau ilmu lahir/materi mungkin akan tertulis rapi di buku-buku atau tersimpan di storage digital dunia. Jutaan ilmu akan tersimpan di server-server dunia. Saking banyaknya, data-data dalam bentuk tertulis, video atau suara ini akan menjadi sampah jika tidak bisa dikelola dengan baik. Kita akrab dengan istilah "junk information/data". Manusia bisa saja semakin bingung dengan banyaknya informasi dan "ilmu" yang bertebaran di media maya. Buktikan saja di search engine Google.

Makanya, saya setuju, jika akhirnya, kita memang harus mulai melirik dan memiliki ilmu-ilmu yang bersifat immateri. Sebutan untuk ilmu ini banyak. Ada yang menyebutnya hikmah, kebijaksanaan, atau laduni. Ilmu-ilmu ini diberikan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih sehingga seseorang yang mendapatkannya akan memiliki kemampuan menyibak apa yang tersirat. Ilmu dibalik "ilmu".

Tapi, jangan pula dikira, kita tidak pernah mendapatkan ilmu-ilmu atau hikmah seperti itu. Banyak hikmah yang mungkin kita peroleh dalam hidup, namun biasanya sering berserakan dan tidak tersusun baik. Tidak dirasakan. Biasanya, ilmu hikmah banyak dimiliki oleh para wali atau mursyid yang menjalankan komitmen kehambaan kepada Allah dengan istiqamah. Manusia yang rajin muraqabah dengan Allah juga sangat memungkinkan mendapatkan ilmu ini. 
Tapi harap dicatat, ilmu yang dimaksud bukan sekedar untuk mendapat karamah atau mukasyafah agar mampu melihat alam ghaib dan malakut. Kalau tujuannya untuk ini sih, terlalu kecil dan remeh temeh. Ilmu ini seharusnya semata-mata untuk semakin dekat kepada Allah dan bukan memupuk kesombongan dan ke-aku-an. Untuk pamer kehebatan, maksud saya.

Bro,
Hidup kita di dunia ini singkat sekali bukan?
Enaknya sih, kita hidup di hari-hari terakhir dunia. Misalkan besok kiamat. Sehingga, akan mudah bagi kita untuk menulis tentang kesimpulan dunia. "Oh, dunia itu ternyata begini lho". "Kehidupan itu ternyata berakhir begini, ya". Sayangnya, kondisi ini tidak terjadi, bukan? Kita mungkin akan meninggal dalam keadaan mungkin masih memiliki berbagai pertanyaan tentang dunia yang belum kita ketahui.

Perjalanan  ilmu itu panjang. Dan, saya kira juga, kehebatan manusia bukan diukur dari seberapa banyak ilmu lahiriyah/materi yang dimilikinya. Saya setuju dengan ungkapan bijak yang mengatakan "Yazid Ilman wa Yazid Hudan" Seseorang yang bertambah ilmunya seharusnya bertambah hidayah yang dimilikinya. Artinya, semakin banyak pengetahuan yang kita miliki bertambah pula kearifan dan kedekatan kita kepada pemilik ilmu sejati yakni Allah SWT.

Sebaliknya, orang yang bertambah ilmu namun semakin jauh dari Allah dan kebenaran, maka dipastikan ilmunya tidak akan bermanfaat, sia-sia dan menjadi sampah untuk dirinya. Wong, ilmunya digunakan untuk menjadi musuh Tuhan dan merusak dunia sih. Nau'zubillah...

Selamat dan sukses buat para wisudawan yang akan diwisuda besok. Semoga Allah memberikan kebahagian kepada kita semua dengan jalan ilmu dan pendidikan. Amin. Wallahu a'lam.








Post a Comment

0 Comments