Ticker

6/recent/ticker-posts

Perjalanan Ilmu (Bag. 2): Mulfuctioned Human or Misused One?

By: M. Ridwan

Dunia Gadget heboh. Produk teranyar Samsung Note 7 dianggap bermasalah. Baterainya  mudah terbakar bahkan bisa meledak. Larangan menggunakannya di pesawat menjadi pemandangan baru dunia. Syukurnya, layanan prima Samsung membuat mereka memutuskan untuk menarik produk gagal SGN 7 dengan produk baru. Masalah selesai.

Cerita Samsung dengan SGN 7 nya sepertinya bisa kita sandingkan dengan topik kali ini. Lanjutan tulisan lalu sih.

Saya sedikit menjelaskan maksud tulisan sebelumnya yang menyatakan bahwa otak manusia sangat terbatas.  Memang begitulah adanya, kendati demikian kita tidak juga boleh meremehkan kehebatan otak manusia made in Allah ini, meskipun kecil ini.

Konon, menurut ahli, potensi otak manusia baru hanya dimanfaatkan 10% saja oleh manusia. Kendati "hanya" dimanfaatkan 10%, namun jangan sepele dengan impact-nya. Dunia menyaksikan munculnya orang-orang jenius dan super pintar. Katakanlah Albert Einstein, Stephen Hawkings atau Habibie. Orang-orang ini baru memanfaatkan 10% saja, lho. Bayangkan kalau manusia berhasil sebanyak 100% potensi otaknya. Wow, unimaginable world, bukan?

Makanya, ada film berjudul "Lucy". Ceritanya tentang seorang perempuan yang berhasil memanfaatkan 100% otaknya. Hasilnya sangat fantastis. Manusia yang sempurna dan super. Dia bisa melakukan apa saja. Saya kira, kalau manusia seperti itu benar-bemar ada di dunia nyata, repot juga. Namun, saya suka melihat imajinasi film ini.

Kalau kita mau jujur, sebenarnya menciptakan manusia adalah "risiko" bagi Tuhan, bukan?. Bayangkan, Dia harus agak berdebat dengan malaikat yang sedikit underestimate terhadap loyalitas manusia kepada Tuhan. Ia juga harus "berkonflik" dengan Iblis yang merasa hegemoninya terganggu. Bukankah ini bisa berarti bahwa menciptakan manusia memang "berisiko". Menjadi pertaruhan Tuhan terhadap malaikat dan jin, bukan?

Apalagi ketika akal diberikan kepada manusia, apa yang dilakukan manusia dengannya?. Memberikan akal juga berisiko bukan?. Buktinya, justru dengan akal, malah manusia berani menentang Tuhan dan bahkan berani menentang keberadaan-Nya bukan?. Silahkan terka, apa yang ada di pikiran para Atheis yang menafikan Tuhan. Apa yang ada di pikiran Fir'aun dnn Namrudz, kok bisa mengaku Tuhan padahal memakai fasilitas badan dan akal buatan Tuhan. Lucu sih.

Atau bahkan, apa kesimpulan si jenius Stephen Hawking setelah mengamati alam dan dunia fisika? Kesimpulannya adalah TUHAN TIDAK ADA !!!. Bayangkan, akal yang diciptakan Tuhan justru bisa menjadi sarana manusia menentang keberadaan Tuhan itu sendiri. Padahal Dialah pemilik dan pencipta akal, bukan?.

Contoh lain, apa yang dipikirkan seorang manusia ketika melakukan dosa dan keburukan?. Pastilah ia menggunakan akal pikirannya untuk menjustifikasi kejahatan dan dosa yang dilakukannya. Ia mencari pembenaran dan seribu satu alasan untuk melakukannya. Berabe bukan?

Lalu, dimana selipnya? Kok produk bernama manusia atau akal ini bisa menjadi penentang Tuhan dan perintah-Nya?

Untuk menjawab hal ini saya kira mudah. Manusia yang menggunakan akalnya untuk menentang Tuhan adalah produk Tuhan yang malfuction atau misused. Anggap saja seperti produk smartphone yang salah digunakan atau ada errornya. 

Seharusnya digunaknn untuk menelepon malah digunakan untuk memancing atau mencangkul. Pasti salah peruntukan-lah. Atau, ia digunakan dengan kuantitas dan daya berlebih sehingga aplikasi dan baterainya terbakar. Seperti produk Samsung Note 7 itu (syukurnya sudah diperbaiki ya, paten).

Hari ini wisuda di kampus kami dilakukan. Semua wisudawan dengan bangga menerima gelar kehormatan prestisius sarjana. Gelar bahwa akal dan intelektual mereka telah teruji bukan?
Kita berdoa, supaya semakin banyak manusia yang menggunakan akalnya dengan maksimal dan dituntun Tuhan. Kuncinya ternyata di situ. Akal harus dibimbing Tuhan dan dikendalikan hati nurani. Tanpa itu, akal yang dimiliki manusia hanya alan menjadi sandungan menuju Tuhan bahkan media menghadang-Nya.

Di kampus UINSU kami menyebut manusia pemilik akal terbimbing itu sebagai ulul albab. Yaitu manusia tercerahkan dan mencerahkan. Manusia pintar dan cerdas. Paripurna dan excellent. Ulul albab adalah terma yang dimuat dalam Alquran yaitu manusia yang mengunakan akal pikiran dan inderanya untuk memikirkan ciptaan Allah dan berzikir kepada-Nya. Manusia berkarakter ulul albab adalah manusia yang mampu memadukan kekuatan intelektual dan qalbunya secara bersamaan.

Tujuan tulisan ini sederhana sih.
Kita mau buktikan lho, kepada para malaikat, golongan jin dan semesta alam bahwa Tuhan tidak salah memilih kita sebagai makhluk terbaiknya. Kita mau kasi garansi  bahwa manusia bukanlah ciptaan Tuhan yang berisiko tinggi dan mulfuction.

Saya, Anda dan kita semua harus membuktikan hal ini. Sebab kalau tidak, saya khawatir kita nanti dianggap sebagai produk gagal oleh Tuhan. Takutnya sih, kita akan cepat ditarik dari peredaran karena "baterai" kita bermasalah dan "soak". Atau, "aplikasi" kita dianggap ber-"virus", ada bug dan berbahaya. Dipakai buat dosa melulu sih. Gawat, bukan?

Semoga perjalanan ilmu, akal dan hati kita dibimbing Allah sehingga berhasil menapaki tangga bumi, dunia dan langit. Amin. Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments