By: M. Ridwan
Publik Indonesia heboh lagi. Beritanya tentang seseorang yang -katanya- mampu menggandakan uang. Wah, luar biasa. Hebat sekali dan Indonesia banget. Pelakunya diduga seorang raja adat dan tokoh kharismatik. Punya padepokan pula.
Di Indonesia sih, berita begini sudah tidak asing lagi. Saya masih ingat, kira-kira 3 tahun lalu, publik juga heboh dengan sebuah koperasi yang menjanjikan mampu menggandakan uang.
Saat itu, saya sampaikan ke mahasiswa, tunggu saja nanti, ini siklus rutin. Lihat saja, 2 atau 3 tahun lagi biasanya berulang. Dan terbukti di tahun 2015 dan tahun ini.
Bedanya, pengurus koperasi ternyata menjalankan money game sedangkan si raja adat ini menggunakan kesaktiannya. Uang hasil penggandaan ini disimpan di berbagai bungker. The Miracle of Indonesia, tuh. Katanya uang dari Gunung Lawu dan milik jin tuh.
So, bagaimana kita melihat fenomena ini?
Sepertinya, dari sudut kejiwaan dan agama, terlihat masyarakat kita ini sudah kadung stress ya. Tertekan dengan problematika uang atau kebutuhan hidup yang semakin mencekik. Dan, dengan memiliki banyak uang maka diyakini semua masalah akan tuntas, tas tas tas. Tuhan juga dianggap tidak berperan banyak terkait uang. Sepertinya, banyak orang yang lupa peran uang itu sendiri. Saya pernah kupas hal ini di tulisan sebelumnya, tentang "Jebakan 1 Trilyun dan Pseudo Happiness".
Sepertinya, dari sudut kejiwaan dan agama, terlihat masyarakat kita ini sudah kadung stress ya. Tertekan dengan problematika uang atau kebutuhan hidup yang semakin mencekik. Dan, dengan memiliki banyak uang maka diyakini semua masalah akan tuntas, tas tas tas. Tuhan juga dianggap tidak berperan banyak terkait uang. Sepertinya, banyak orang yang lupa peran uang itu sendiri. Saya pernah kupas hal ini di tulisan sebelumnya, tentang "Jebakan 1 Trilyun dan Pseudo Happiness".
Siapa sih yang tidak suka uang?
Hanya orang yang tidak normal yang mengabaikannya. Para nabi dan wali Allahpun menggunakan uang untuk transaksi bisnis atau tabarru'. Tapi, mereka sangat cerdas melihat uang dan memfungsikannya.
Masalah itu mungkin terjadi pada kita yang lugu-lugu ini. Mungkin saja, dikarenakan peran uang sangat dominan sehingga fungsipun berubah menjadi komoditas, dikejar fisiknya, diimpikan berlipat dan berkhayal menjadi kaya raya. Tak peduli pakai kerja keras atau tidak. Halal atau haram, masa bodoh.
Padahal, uang tidak akan bernilai tanpa adanya underlying aset ( 'iwadh dalam bahasa Arab). Kita tidak bisa seenaknya memperbanyak nominal uang tanpa ada penyebab yang logis mengapa ia harus bertambah.
Dalam kajian ekonomi Islam, penyebab logis itu seperti jual beli, kerjasama bagi hasil atau adanya upah dan jasa. Selain itu, maka pertambahan nominal uang pasti masuk ke kategori riba, gharar alias haram.
Sehingga dalam perspektif ekonomi Islam, praktik penggandaan uang itu pasti masuk ke dalam kategori "ziyadah bila 'iwadh". Pertambahan tanpa adanya underlying aset. Logis bukan?.
Lagipula dalam perspektif ekonomi moneter, pertambahan uang di masyarakat sebenarnya tidak memberikan manfaat bahkan akan meningkatkan inflasi. Kalau bermanfaat meningkatkan kesejahteraan, mengapa BI tidak mencetak saja uang sebanyak mungkin?. Sekalian saja diberikan ke masyarakat, bukan? Tapi, dikarenakan uang adalah alat tukar semata, maka pencetakannya pun tidak boleh sembarangan. Bisa bubar tuh negara.
Tapi, logika ini pasti tidak diingat oleh orang yang sedang gelap mata mengejar uang, bukan?. Yang penting, uangku bertambah nominalnya, titik. Peduli amat uangnya keluar dari tanah kek, dari jin kek, bisa meningkatkan inflasi kek, yang penting aku kaya. Rekeningku bertambah. Bisa happy happy. Hehe,.
Lalu, bagaimana hidup di jaman Money Talks ini?
Saya ingat petuah guru dan ustaz untuk sering-sering mentadabburi surat Al-Takasur. Surat ini menceritakan sifat manusia yang sering kompetisi harta dan uang. Sampai ke liang kubur. Alquran bilang "Jangan begitulah, kalian akan paham bahwa tindakan itu salah dan kalian akan bertanggung jawab atas perolehan harta dan uang"
Kita berlindung kepada Allah dari jebakan Money Monster. Berlindung dari jebakan harta haram yang mungkin terlihat lezat serta berlindung dari angan-angan menjadi kaya tanpa kerja keras. Amin. Wallahu a'lam.


0 Comments