By: M. Ridwan
Doa yang dibacakan oleh Raden Syafi'i di Sidang Paripurna DPR kemarin, tentu saja membuat heboh. Jarang-jarang ada doa seperti itu dibacakan di forum resmi negara. Anti mainstream banget-lah. Dalam pengamatan saya, konten doa yang dibacakan itu mengandung multi-unsur. Ada unsur berbentuk permohonan, banyak pula curhat-nya. Ada sentilan nakal dan tentu pula kritikan tajam. Di sisi lain, ada pula bauran antara kecewa dan pesimis. Lengkap-lah paduannya. Kesan optimis juga terasa namun masih kalah dengan unsur pesimis tadi. Marahkah Raden Syafi'i?. I don't know....Tapi, menurutnya ia tidak sedang menyindir siapapun.
Saya tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh pemerintah dimana presiden kala itu juga hadir. Apakah doa itu menyakitkan bagi telinganya ataukah Sang presiden justru bahagia karena mendapatkan kritikan gratis dari warga negeri ini?.
Terlepas apakah doa itu bermuatan politis, sinis, sarkastis atau tidak, namun kalau dipakai cara pikir Umar bin Khattab atau Umar bin Abdul Aziz, maka pemerintah atau siapapun yang menjabat sudah seharusnya bergembira, lho. Kritik dan masukan itu ala doa seperti itu menunjukkan bahwa rakyat ingin pemerintahnya benar-benar mampu profesional dan bisa melayani masyarakat, bukan?.
Kendati, kita memang tidak menafikan, bahwa ada juga orang yang melakukan kritikan karena perasaan tidak senang atau benci. Pokoknya, semua orang salah terus di matanya. Apalagi kalau sudah disusupi nuansa politis, jadi seru, bukan?. Namun, saya tidak melihat unsur-unsur negatif dalam doa kemarin siang.Entahlah bagi orang lain.
Kalau dihitung-hitung, sih.
Doa yang disampaikan oleh Raden Syafi'i kemarin bernilai ribuan trilyunan Dollar, lho. Lalu, gimana kita bisa menghitungnya?
Begini...
Kalaulah semua doa yang dipanjatkan Raden Syafi'i kemarin itu, makbul atau di-ijabah oleh Allah, maka bukankah berarti kemakmuran akan segera diberikan Tuhan kepada negeri ini?. Kemakmuran itu bisa saja diukur dengan pendapatan perkapita negeri ini di atas 50 ribu dollar pertahun, atau pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen. Kita akan mendapatkan limpahan rejeki dari langit dan bumi, dari sungai dan lautan kita. Berkah lagi. Bukankah ini mahal?
Jika doa kemarin itu dikabukan oleh Allah, bukankah pada hari-hari berikutnya, kita akan kebanjiran pemimpin-pemimpin amanah yang akan mensejahterakan Indonesia?. Bukan pemimpin karbitan yang -jangankan memimpin orang lain, untuk memimpin diri dan keluarganya sendiri dia belum mampu. Pemimpin yang amanah dan adil ini tidak akan membuat negeri kita bangkrut dan tergadai. Tidak ada lagi KKN dan mafia yang nyata-nyata membuat biaya operasional negeri ini menjadi high cost. Sehingga, wajar jika doa ini sangat mahal nilanya, bukan?. Hitung saja di kalkulator.
Kalaulah doa kemarin berhasil mengetuk pintu-pintu langit, maka dalam hitungan tidak lama lagi tentunya permasalahan ekonomi di negeri ini akan sirna. Tidak ada lagi kemiskinan dan penindasan atau eksploitasi akan SDA dan SDM bumi pertiwi ini. Alhasil, biaya terhadap pengentasan kemiskinan, perlindungan alam dan kerusakan akhlak dan moral bisa dihilangkan. Bukankah itu doa yang mahal?. Low cost but high impact?
Doa kemarin itu bernilai ribuan trilyunan dollar, karena jika makbul maka kita akan "kebanjiran" oramg-orang baik di negeri ini. Soalnya, orang-orang jahat-nya sudah dijauhkan Allah alias diusir. Termasuk juga akan tercipta keamanan negeri yang menjamin tegaknya keadilan dan kesejahteraan. Mahal, bukan?
Pertanyaannya adalah apakah doa yang dipanjatkan dan diaminkan oleh para peserta sidang kemarin itu dikabulkan oleh Allah?
Nah, kalau cerita tentang kabul atau tidaknya suatu doa tentu saya tidak bisa menjawab. Hanya Allah yang memiliki otoritas mutlak untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Dalam hal ini, kita memang tidak boleh underestimate dengan doa yang diucapkan seseorang. Ukuran diterima atau tidaknya doa, berada dalam wilayah Tuhan. Kita hanya bisa berharap dan meyakini saja. "Insyallah doaku diterima".
Memang, kemakbulan sebuah doa itu bukanlah ditentukan oleh panjang dan pendeknya ia. Tidak juga karena indah dan sempurnanya susunan bahasa yang digunakan. Bukan pula didasarkan gaya dan sikap tubuh. Doa yang hanya terdiri dari beberapa kata pun bisa diterima oleh Allah, sebaliknya doa dengan naskah setebal 1000 halaman-pun sangat mungkin akan dicampakkan oleh Allah. Sebabnya, mungkin saja ada perasaan tidak ikhlas, sombong atau terkesan tidak butuh alias ogah-ogahan. Kalau gak butuh Allah gimana doa mau dikabulkan?. Iaya juga ya, apalagi kalau sampai tidak berdoa, darimana mau mendapat ijabah..Hehe,, lucu lah.
Makanya, kalau ada pertanyaan, doa manakah yang paling baik?, maka jawabannya tentulah doa yang diijabah oleh Allah.
Untuk itu, penting bagi kita untuk memastikan bahwa doa kita bisa menembus alam langit atau ter-register di sana. Jangan-jangan, ternyata doa-doa kita tidak dikenal di alam langit, lho. Saya menyebutnya "Un-registered doa". Seperti judul di atas. Bisa saja, bukan?
Jangan-jangan, ketika kita memanjatkan doa misalnya. Para malaikat di alam langit justru bertanya dan tertawa geli "Ini orang, siapa sih?. Kita gak kenal dia. Amalannya tidak seberapa, sih. Dosanya banyak. Doanya tidak pernah di-register di sini. Siapa sih Ridwan ini?, Siapa sih si fulan atau fulanah ini. Kok dia ke ge-eran banget. Analogi ini memungkinkan, bukan? :)
Lalu, bagaimana supaya doa kita di-register di alam langit?
Banyak cara sih. Bisa dengan memperbaiki hati dan keikhlasan. Meningkatkan kepasrahan dan banyak tuntunan nabi lainnya. Termasuk dilakukan di tempat dan waktu tertentu. Misalnya di Multazam, Raudhah ataupun pada hari-hari tertentu.
Namun, ada salah satu jalan supaya doa kita bisa menembus alam langit atau terdaftar di katalog doa langit. Apa itu?
Caranya, dengan "nebeng/numpang" dengan doa para malaikat Allah nan suci. KIta tahu, bahwa doa malaikat itu pasti makbul. Ini cara yang paling mudah sih dibandingkan cara yang lain. In my opinion sih..
Bagaimana caranya?
Ada sebuah hadis mengatakan bahwa jika kita mendoakan kebaikan untuk orang lain, maka sungguh malaikat akan mengaminkan doa ini. Sebagai reward-nya, maka malaikat juga akan memintakan kebaikan yang sama buat kita. Nah, saya kira di sinilah strateginya. Yes, kita mintakan saja kebaikan-kebaikan itu menempel dulu untuk orang lain sehingga nantinya, -untuk diri kita sendiri- justru malaikatlah yang mendoakannya. Didoakan malaikat bro. Ini menjadi leverage kita. Keren dan masuk akal, bukan?
"Ya Allah sejahterakanlah kaum muslimin semuanya. Berikan kekayaan buat rekan-rekan kerjaku. Bahagiakan tetanggaku. Sayangi orangyang membenciku. Bimbinglah orang yang memusuhiku. Sehatkan bos-ku. Harmoniskan keluarga mereka. Jadikan anak-anak mereka menjadi anak yang sholeh. Lindungi pemimpin kami. Masukkanlah mereka ke dalam surga dan sayangilah mereka Ya Allah.Hiburlah mereka ketika berduka." Mungkin salah satu redaksinya seperti itu ya....:)
Apakah berat melakukan doa seperti itu?
Tentu saja berat, dong. Wong, berdoa untuk diri sendiri saja masih berat, konon pula untuk mendoakan orang lain ya. Apalagi di jaman serba kompetisi dan "serba rebutan ini". Mungkin ada pikiran yang melintas. "Enak saja dia. Nanti doaku makbul tapi aku tidak mendapat apa-apa, bisa berabe nih..." Eiit, pelit amat sih....:)
Padahal lucu juga sih. Kalau doa yang kita panjatkan untuk orang lain itu bisa terkabul, maka hebat dong. Itu artinya doa-doa dan nama kita sudah bisa tercatat di alam langit. Nama kita sudah bisa terdaftar di database dan pengunjug langit. Membanggakan bukan?. So, apa lagi yang ditakutkan? Doakan saja orang lain. Gampang kan?
Bro, negeri ini membutuhkan doa-doa kita. Kita pantas khawatir jika doa-doa kita selama ini justru tidak bisa mengetuk pintu langit karena terlalu individualis dan "tamak". Doanya sangat kapitalis dan hedonis banget. Atau doa yang kita panjatkan selalu saja bertendensi memupuk "keakuan", "kesombongan" atau kemalasan. Maka wajar tidak ada impact-nya. Belum lagi jika kita kaitkan dengan harta haram yang kita mungkin kadung kita makan. Wah, kalau bicara ini, bisa-bisa kita akan menangis dan gigit jari, soalnya doa yang dipanjatkan oleh pemakan haram tidak akan makbul bukan?....Pantasen ya,,,,
Lalu, apakah doa di Sidang Paripurna kemarin itu akan dijabah oleh Allah?. Kita harus yakin diterima. Insyallah. Tapi kalau mengikuti pedoman doa ala nebeng malaikat tadi, maka redaksinya mungkin bisa kita rubah nih:
"Ya Allah, berikankah kekuatan kepada para penegak hukum negeri ini untuk berlaku adil dalam membela kebenaran. Lindungi dan berkahi mereka dan keluarga mereka dengan harta halal yang melimpah. Berikan kearifan kepada mereka untuk memikirkan cara terbaik mengentaskan kejahatan"
"Ya Allah, lindungi pemimpin kami dengan sebaik-baik perlindungan. Tunjukilah mereka jika tersesat. Beri kekuatan ketika mereka lemah. Berika kearifan dan keadilan-Mu ketika mereka tersesat. Berikan kesehatan dan keberkahan pada umur mereka. Limpahi keluarga mereka dengan harta yang melimpah dari jalan yang halal."
"Ya Allah, jadikan warga negeri menjadi hamba-Mu yang istiqamah dalam kebenaran, sabar dalam ujian, memegang teguh persauadaraan, saling percaya dan mudah dipimpin. Satukan kami dalam tali-Mu serta bahagiakanlah hati kami dengan sesuatu yang mendekatkan kepada-Mu". Ampuni diriku kami Allah, ampuni kesombongan dan keegoan kami. Amin....
Saya yakin, Anda memiliki versi doa hebat lainnya. Pastilah....Apalagi kalau doa ini dipanjatkan oleh jamaah haji yang memenuhi Haramain nantinya. Indonesia bisa kebanjiran berkah melimpah.
Bro.
Saatnya kita mengirim pesan-pesan kita ke alam langit, tunjukkan kepada penghuninya bahwa doa-doa warga negeri inipun layak diperhitungkan di sana.
Sory ya, tulisan ini gaya-gaya, nih. Wallahu a'lam bis syawab.....Wallhamdulillah.
"Afdal al-Du'a alhamdulillah. Sebaik-baik doa adalah ucapan alhamdulilillah" (Hadis)

0 Comments