By: M. Ridwan
Minggu lalu, kampus kami mengadakan Focus Group Discussion dengan pembicara tamu adalah Prof. Omar Kasule. Beliau berasal dari Uganda namun berkiprah di King Abdul Aziz University tepatnya di Fakultas Kedokteran. Selain itu, beliau adalah CEO dari the International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang bermarkas di US. Tema yang kami bahas adalah Integration of Knowledge, terma yang saya kira sudah sangat akrab di telinga kita. Beberapa profesor dan akademisi dari UINSU, USU, atau UNIMED terlihat hadir dan serius mengikuti FGD ini.
Perbincangan mengenai integrasi ilmu merupakan hal yang selalu menarik. Selama diskusi, Prof Omar, menegaskan bahwa cara terbaik untuk merubah umat adalah dengan merubah cara pandangnya. Dan, cara pandang yang paling terbaik adalah cara pandang yang didasarkan dengan nilai-nilai ketuhanan. Sehingga, mengintegrasikan nilai ketuhanan dengan segala aktifitas manusia menjadi sebuah keniscayaan, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Penjelasannya membuka banyak wawasan.
International Institute of Islamic Thought (IIIT) selama ini memang berkecimpung dengan isu integrasi ilmu pengetahuan. Kiprahnya dalam mensosialisasikan misi integrasi ilmu sudah tidak diragukan lagi. Tentu saja, integrasi yang dimaksudkan adalah antara nilai-nilai ketuhanan -dalam hal ini Islam- ke dalam berbagai bidang ilmu baik sains dan teknologi.
Seberapa penting integrasi ilmu ini dilakukan?
Singkatnya begini....
Perkembangan ilmu pengetahuan terutama periode abad ke-20 telah berjalan demikian pesatnya. Kiblatnya adalah negara-negara Barat. Tentu, kita bisa protes dengan mengatakan bahwa sejarah keemasan ilmu sebenarnya berada di dunia Islam. Islam-lah yang berkontribusi kepada kemajuan Barat masa modern. Ya, argumen ini benar, namun karena sejarah memang berpihak kepada pemenang, maka silahkan Anda dan saya gigit jari ketika melihat fakta bahwa dunia Barat memang sudah jauh mengungguli negara-negara muslim. Mereka sedang mendapatkan giliran menjadi pemenang, bro. Termasuk juga menjadi kibat dunia ilmu pengetahuan dan gaya hidup.
Nah, dikarenakan Barat sendiri mengalami sekulerisasi atau pemisahan agama dari kehidupan, maka dunia ilmu pengetahuan juga kecipratan sekulerisasi ini. Maka, selama ratusan tahun jangan harap menemukan pesan-pesan agama di dalam dunia pengetahuan. Agama menjadi domain private dan tidak diperbolehkan masuk ke ranah ilmu. Tragis ya, but it's the fact..
Sayangnya, proses ini masih terjadi.
Syukurnya, angin perubahan mulai berhembus. Sekitar 50 tahun lalu, pakar muslim mulai menyadari betapa berbahayanya dunia ilmu tanpa nilai-nilai agama. Masalah adalah, bahwa ketika berbagai bidang ilmu ini diimplementasikan di negara-negara muslim yang notabene menganut nilai-nilai agama, maka ilmu tanpa nilai agama menjadi kering. Tentu tidak bisa menjadi model negara muslim. Selain itu, Barat juga mulai menunjukkan kerapuhannya. Barat tidak terlihat bisa "membaikkan" dunia. Peradaban yang dibangun selalu saja "How" tapi bukan "Why".
Upaya ini dikenal dengan integrasi ilmu pengetahuan. Bentuknya, antara lain dengan menginjeksi nilai-nilai agama ke dalam sains dan teknologi dan bidang ilmu lainnya. Ilmu ekonomi Islam termasuk salah satu contoh yang paling up to date. Ternyata bisa kok.
"Berapa persen keberhasilannya sejak digagas sampai sekarang?", saya bertanya kepada Prof. Omar Kasule. Dan, beliau dengan yakin menjawab bahwa sosialisi integrasi ilmu sudah berhasil mencapai angka 50% dimana masyarakat dunia sudah akrab dengan istilah ini. Namun, sayangnya, konkretisasi-nya dalam bentuk kurikulum dan buku ajar yang integratif, masih sekitar 10%. "Mungkin sampai saya meninggal, belum bisa menyaksikan integrasi ini terjadi 100%" kata Prof Omar.
Nah, Indonesia harus memainkan peran besar integrasi ini. Meskipun, upaya ke arah sana sudah berjalan baik. Keberadaan UIN-UIN di Indonesia malah bisa menjadi harapan baru bagi dunia dan menjadi model integrasi ilmu.
Seberapa penting integrasi ilmu ini bagi Indonesia?
Jawabannya sangat penting...!!!
Saya teringat dengan pernyataan seorang professor pakar pendidikan dari sebuah PT ternama Indonesia. Kebetulan saat ini saya ikut dalam dalam workshop di Hotel Aston Jakarta, beberapa tahun lalu. Dia mengajukan pertanyaan singkat, "Tahukah Anda mengapa Indonesia mengalami degradasi moral dan dipenuhi penyakit-penyakit sosial lainnya?. Dan, ia menjawab pertanyaannya sendiri. "Semua itu karena kesalahan kurikulum pendidikan kita. Saat itu beliau menitik beratkan pada kurikulum tahun 1994 yang menjadi biang kerok dikotomi ilmu umum dan agama." Akibatnya, produk yang muncul sangat dikotomis. Seorang dokter, insinyur, bankir atau alumni agama menjadi terkotak-kotak. Masing-masing berdiri sendiri.
Makanya, dia menyarankan perubahan pola pikir. "Sebutan seorang dokter itu seharusnya adalah "ahli agama dengan spesialis di bidang kesehatan"." Seorang insyiur adalah "ahli agama spesialis teknik". "Seorang ustaz adalah "ahli agama spesialis bidang tafsir, hadis atau hukum". Dia mau menyampaikan bahwa kita semua seharusnya mendapat label ustaz kendati spesialisasi bermacam-macam. Jadi tidak ada lempar tanggung jawab lagi dengan mengatakan "ini bukan biadangku". "aku bukan ustaz", aku tidak tahu ilmu umum" dsb. Menarik ya?.
Syukurnya,, UIN sudah bertebaran di negeri ini. Fakultas yang dikelola oleh UIN juga beragam, baik ilmu agama ataupun sains. Maka masukkan anak Anda ke UIN ya...:). Mereka akan mendapatkan paket Two in One lho. Ilmu umum dan agama yang terintegrasi. Menjadi ekonom, ahli hukum, dokter, saintis yang islami dan tentunya berkualitas tinggi.
Berita baik lainnya, bahwa kurikulum di negeri ini juga sudah banyak mengarah kepada akomodasi pelajaran agama dan mata kuliah di sekolah dan PT di Indonesia, kendati masih kurang.
Saya hanya mau mengatakan satu hal.
Hemat saya, kalau kita resah melihat prilaku sebagian warga negeri ini yang membudayakan sikap pengecut, maling, koruptif, emosional, tidak disiplin dan seabrek prilaku destruktif lain, maka mungkin saja karena selama ini kita adalah produk ilmu yang tidak berkah karena "mencampakkan Tuhan" dari dalamnya. Ilmu yang miskin "rasa". Termasuk mungkin ilmu agama yang kita dipelajari karena terlalu formalistik. Sorry....
Keberkahan yang tercerabut dari ilmu itu menyakitkan dan membuat kita terpuruk. Apa tidak kapok-kapok?
Semoga sekolah dan perguruan tinggi mampu mencetak lulusan yang kaya ilmu dan kaya keberkahan. Mencetak manusia yang tidak hanya tahu mencari rejeki dan bukan sekedar mencari mencari uang dan mencetak orang--orang baik yang mampu membaikkan diri dan lingkungannya.
Mudah-mudahan semakin banyak orang arif dan bijaksana di negeri ini ya. Amin.
Selamat mengitegrasikan ilmu. Allahul Musta'an. Wallahu a'lam.

0 Comments