By: M. Ridwan
Ini bukan artikel tentang hantu atau "penampakan" mahkluk dunia lain yang dulu sering menjadi bahan tayangan TV negeri ini. Memang sih, kalau saya menggunakan kata "penampakan" kemungkinan besar persepsi kita langsung kepada "penampakan" mahkluk halus sejenis demit, hantu, dan sejenisnya, bukan?. Baiklah, saya gunakan bahasa Inggeris saja,"appearance". Lawan katanya adalah "perfomance". Boleh ditulis: Appearance Vs Perfomance. Tampilan/Penampakan Versus Peforma/Kinerja.
Kedua istilah ini saya dapatkan dari mantan Wakil Ketua KPK, Muhammad Yasin, yang sekarang menjabat menjadi Irjen Kementerian Agama. Kebetulan, bulan lalu, beliau datang ke kempus kami untuk mensosiaslisasikan Zona Integritas (ZI) di berbagai kampus perguruan tinggi di bawah naungan Kemenag. Nah, salah satu tujuan ZI ini adalah untuk membudayakan transparansi publik dan integritas pengelolaan lembaga dan menghindarkan dari budaya korupsi yang cukup akut di negeri ini.
Diskusi dengan beliau berlangsung seru. Dengan kapasitas sebagai mantan pimpinan lembaga pemberangus korupsi yang cukup sukses, materi yang beliau paparkan sangat mengena. Beliau memaparkan kondisi per-KKN-an di Indonesia. Seru dan mengerikan. Salah satu yang saya catat bahwa penyebab korupsi karena adanya budaya materialistis yang selalu mengagungkan tampilan ketimbang kinerja (Appearance Vs Perfomance). Artinya, orang yang selalu mementingkan penampilan fisik dan materi akan mudah terkena wabah korupsi ini.
Saya kira, pernyataan itu benar juga ya..
Tapi saya pernah mendengar case lucu. Ceritanya, seorang ibu yang sedang menenteng gadget terbilang canggih. Harga di kisaran 3 jutaan. Padahal, secara kasat mata, kehidupan ekonomi keluarga mereka serba kekurangan. Indikatornya, beberapa warung selalu menjadi langganan hutang bulanannya. Ketika ditanyakan, untuk apa ia bersusah payah memiliki gadget canggih itu padahal serba kekurangan?. Maka jawabannya mengejutkan, "HP ini sebagai pengangkat harga diri saya. Saya sudah miskin, maka supaya terlihat kaya saya berupaya memiliki HP ini. Kalau memiliki hp ini saja tidak boleh, kapan lagi saya bisa merasakan menjadi orang kaya yang belum tentu bisa saja alami?. Hehe terlihat logis ya..?
Saya yakin, kisah ini nyata. Soalnya, saya juga pernah menanyakan hal yang sama kepada beberapa mahasiswa yang terlihat getol menunjukkan gagdte canggih, padahal di bulan-bulan berikutnya sering melaporkan kesulitan membayar SPP dan kos-nya. Alasannya sama, untuk menunjukkan jati diri dan gaya hidup jenset. Meskipun, kekurangan. Wah, wah.
Apakah ini fenomena umum saat ini,? Saya belum melakukan riset terhadap itu.
Kalaulah benar, maka situasi menjadi gawat. Ternyata, banyak orang yang lebih suka "dianggap kaya" ketimbang "dianggap miskin". Saya sering menggunakan istilah itu. Hanya orang yang miskinlah yang bisa kena penyakit "dianggap kaya". Orang kaya tidak perlu lagi dengan itu. Toh dia sudah kaya. Maka, hati-hati dengan kata "dianggap" atau berupaya "dianggap". Misal, "dianggap pintar", "dianggap bijaksana", "dianggap sholeh", dianggap romantis", atau "dianggap bahagia" termasuk "dianggap kaya" tadi.
Dalam Islam, mengejar pujian supaya "dianggap" oleh orang lain itu dilarang karena bisa mengarahkan pada riya, ujub, atau sombong . Termasuk bisa menyebabkan rasa tidak bersyukur dan tidak ikhlas. Lah, kalau tujuan sholat dan sedekahnya supaya dianggap sholeh kan bisa jadi berabe di hadapan Allah?. Dalam urusan dunia, semakin banyak "anggapan" yang dikejar maka semakin stress.
Nah, kembali ke judul.
Kata para ustaz, seharusnya tampilan kita ya harus apa adanya. Tidak memaksa diri. Tampilan elegan, bersahaja dan bermartabat. Tidak dipandang hina tapi tidak juga memaksa diri dengan menunjukan "kebohongan publik" atau "ketenangan bohongan".
Caranya?
Ya, kembali kepada hati dan mempertanyakan untuk apa kita menunjukkan sebuah tampilan tertentu. Apakah niat kita karena ingin menyebar kebaikan atau sekedar untuk show dan membuat "panik" orang yang melihat.
Nah, kalau sudah sampai di sini, ujung-ujungnya ya harus ada kebersihan hati. Hati yang kotor tidak akan mampu melahirkan pribadi yang berpernampilan "bersyukur". Hati yang kotor-pun tidak akan mampu menunjukkan performa bagus dalam kehidupan. Itu bukan kata saya ya, tapi kata Aa Gym. :)
Pak Yasin benar dengan mengatakan bahwa korupsi adalah salah satu dampak dari manusia yang mementingkan appearance tadi. Mungkin saja manusia jenis ini panik karena tampilan orang lain lebih baik. Salahnya, ia mungkin hanya melihat tampilan bersifat material. Manusia jenis ini mungkin terkena kepanikan kolektif, atau kepanikan artifisial. Gara-gara nonton film lah, atau gara-gara infotainment lah. Buanyak sebabnya. Padahal, -masih menurut Aa Gym-, kita seharusnya "panik" jika amal kita yang sedikit atau ibadah kita yang masih berbalut ketidakikhlasan.
Dan, korupsi, saya kira, bukan satu-satunya contoh. Berbagai cara mencari uang nyeleneh dan haram juga termasuk contoh sindrome mementingkan appearance tadi. Prinsipnya, "yang penting dapat uang", "happy-happy" dan dipandang hebat oleh orang lain. Dalam kondisi seperti ini cara mencari uang tidak penting lagi. Akhirnya, maraklah, bisnis narkoba, bisnis riba, dan bisnis haram lainnya. Weleh weleh..
Entahlah...
Mudah-mudahan Allah memberikan kita kemampuan memiliki vision yang jelas terhadap dunia dan mampu melihat "penampakan yang genuine" dalam hidup ini dan memberikan energi takbterhingga daam mendongkrk perfomance kehambaan kita. Amin. Semoga ya Allah.. Wallahu a'lam
"Mereka hanya mengetahui tampilan lahiriyah dunia, dan lalai terhadap akhirat" (Q.S. Ar-Rum 7)

0 Comments