Ticker

6/recent/ticker-posts

Bisnis Narkoba: Mengeruk Keuntungaan Dari Derita Negeri, Kok Tega Ya?

By: M. Ridwan

Saya tergelitik untuk menulis tentang Freddy Budiman. Terpidana mati kasus narkoba yang telah dieksekusi minggu lalu ternyata masih menyisakan PR besar buat bangsa ini. PR ini adalah mengenyahkan narkoba dari negeri tercinta ini. Pertanyaan awalnya, siapakah yang mampu melalukan misi ini?

Pertanyaan ini berawal dari perasaan miris sih. Minggu lalu, ketika kami mengadakan supervisi KKN mahasiswa, ada laporan dari mahasiswa yang menyatakan bahwa "wabah" narkoba melanda daerah mereka. Anak-anak dan remaja banyak yang sudah menjadi pemakai narkoba. Kendati masih secara sembunyi-sembunyi, namun dipastikan narkoba ini sudah menimpa sebagian besar -untuk mengatakan semuanya- desa-desa itu. Padahal, tahun lalu, di daerah lain, peserta KKN juga melaporkan hal yang sama, bahwa narkoba merupakan fenomena nyata dan penyakit akut di masyarakat mereka.

Kesimpulan kami, semakin menguatkan bahwa negeri memang sedang dihadapkan permasalahan super serius yaitu adanya teroris "canggih" yang bisa membunuh jutaan penduduk negeri ini. Siapakah mereka? tidak lain para pengedar dan bandar narkoba. Pertanyaannya kembali, siapa yang bisa menjamin negeri ini bisa bebas dari narkoba? Anda berani menjamin?

Narkoba itu menggerikan, membunuh manusia secar amasif kendati dalam cara yang terlihat perlahan dan "santun". Pada sisi lain, bisnis narkoba ini sangat menggiurkan, demikian pengakuan (alm) Freddy Budiman. Semoga Tuhan mengampuni dosanya.

Dari berbagai sumber yang saya baca  Indonesia adalah pasar narkoba terbesar di Asia. Pengguna narkoba di negeri ini setiap hari bertambah sangat pesat. Misalnya, Juni tahun 2015 lalu, pengguna narkoba telah mencapai 4,2 juta orang. Hanya dalam tempo 4 (empat) bulan yaitu November 2015 pengguna narkoba sudah mencapai 5,9 juta orang. Data tahun 2016 belum saya ketahui. Yang jelas, omset bisnis narkoba mencapai Rp63,1 triliun setiap tahun.

Memang, sudah banyak yang ditangkap dan menjadi terpidana. Jumlah terpidana narkoba juga sangat besar. Sampai Agustus 2015 ada sebanyak 50.764 orang, setara 29,34 persen penghuni lapas di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, berstatus pengguna narkoba sebanyak 18.419. Sedang berkategori bandar narkoba berjumlah 32.345 orang. Mereka ini tersebar di 60 lapas.

Dan, tragisnya, lapas justru menjadi sentra bisnis narkoba yang sering tidak tersentuh hukum. BNN menyebutkan bahwa 75% peredaran narkoba dilakukan dari lapas. Contohnya ya si Freddy itu. Syukurnya, ia segera bertaubat. Mengerikan bukan?

Kita pasti tak habis pikir, kok bisa ya?
Hehe, jangan heran. Segalanya memungkinkan di negeri ini. Terutama karena ada dukungan para pecinta dosa dan uang haram. Mereka menjadikan narkoba sebagai bisni, tak peduli berapa banyak yang mereka bunuh dengan itu. Kita tidak tahu apa yang ada di kepala dan hati sekitar 230 juta penduduk negeri ini. Mungkin ada yang akan mendapat surga, tapi tentu banyak yang dengan sukarela akan masuk neraka juga.Lho,,,

Apakah pengedar, bandar atau penggunanya menyadarinya?. Pertanyaan lucu ya.
Mungkin mereka sadar, tapi biasanya sudah kadung terjerat. Atau, mungkin saja mereka memang tidak peduli lagi karena hati dan pikirannya memang telah dikunci oleh Tuhan. Hatinya telah mati dan tertutup. Yang ada dalam pikirannya adalah uang dan kesenangan. Masa bodo dengan nasib anak negeri dan generasinya, mungkin itu dalam pikiran mereka. Itupun, kalau mereka masih bisa berpikir dengan jernih. Mereka adalah orang yang sangat tega dan tidak berprikemanusiaan.

Yang jadi masalah, jumlah manusia yang mulai tertarik dengan benda haram ini termasuk juga yang tertarik dengan uang haramnya semakin bertambah. Termasuk sebagian para aparat atau penegak hukum yang tertangkap dan menikmati uang haram ini. Kalaulah pernyataan Freddy terbukti benar -bahwa ada sindikat dan keterlibatan oknum penegak hukum- maka bersiaplah menunggu  azab yang akan ditimpakan kepada negeri ini. Tentu saja dosa pelaku akan double double dan double. 

Kadang saya bertanya saja, apakah mereka itu benar-benar anak negeri yang lahir di negeri ini?. Kok tega banget sih..

Makanya, saya termasuk setuju jika hukuman mati itu tetap dipertahankan. Memang, dari perspektif HAM rasanya tidak tega ya. Padahal, pengedar dan bandar itu sebenarnya sedang menghukum mati warga negeri ini dengan bisnisnya. Mereka sedang mengeksekusi mati warga negeri ini secara perlahan-lahan dan dilakukan dalam jumlah yang besar.  Saya kira, hukuman mati bagi pengedar dan bandar narkoba malah terlalu "ringan" untuk seorang bandar atau gembong. Tidak adil, bukan?

Makanya, neraka itu dibuat lho.  Bersyukurlah kita :)
Di neraka kematian itu sudah tidak ada lagi sehingga hukuman seseorang itu bisa diulang-ulang. Efek siksaannya bisa terus-menerus dirasakan dan abadi. Bayangkan ngerinya neraka. Jadi, kalau kita mau mendapatkan keadilan atas pengedar dan bandar narkoba, pasti jawabannya di neraka nanti.

Tapi tentu kita tidak bisa menunggu pengadilan akhirat yang membalas mereka. Sebagai manusia yang bisa berpikir dan bertindak, kita bisa melakukan banyak cara untuk mengurangi bahkan menghilangkan penyakit berbahaya ini. Kita sudah jauh terlibat dalam masalah ini, sehingga mau keluarpun sudah tidak bisa lagi kecuali harus menghadapinya bersama-sama.

Caranya,?
Kita bisa melakukannya secara Bottom up atau Up Bottom. Secara Bottom, bisa dilakukan dari keluarga dan pribadi atau seperti yang yang dilakukan adik-adik KKN kami dengan menghadirkan tim BNN untuk melakukan sosialisasi atas bahayanya narkoba ini kepada para remaja dan orang tua di desa mereka.

Secara Up Bottom, saya kira sudah banyak hal yang dilakukan seperti hukuman yang berat dan penegakan hukum yang konsisten termasuk seleksi yang ketat bagi pejabat yang akan memangku jabatan termasuk memberikan hukuman yang berat bagi pelaku dan pengedarnya.

Saya jadi mendambakan banyak lembaga, institusi atau partai politik yang mengusung iklan penghapusan narkoba di negeri ini khususnya bagi para penegak hukum. Saya mendokan akan muncul banyak ustaz yang spesialis mendakwahkan bahayanya narkoba.

Tapi, itu baru segelintir cara yang bsia dilakukan. Banyak cara kreatif lain yang bisa dilakukan.
Kita berpacu dengan waktu, dan berpacu dengan jumlah generasi korban narkoba yang terus bermunculan. Mungkin saja, kita akan stress dan tertekan karena wabah ini sudah masuk ke sendi-sendi masyarakat kita. Tapi itulah ujian, bukan?

Terakhir,
Bagi orang yang telah menggunakannya atau menggeluti bisnis ini, berhentilah. Sebelum terlambat. Orang yang melakukannya pasti sedang tertutup hatinya. Hanya orang yang berhati mati-lah yang mau mengeruk keuntungan dari derita anak negeri ini.Mudah-mudahan Allah melindungi kita dan negeri ini. Amin. Wallahu a'lam.


Post a Comment

0 Comments