Ticker

6/recent/ticker-posts

Mabrur 3x dan Upaya Membaikkan Negeri

By: M. Ridwan

Warga negeri ini pantas bahagia menyaksikan satu-persatu rombongan haji Indonesia menjejakkan kakinya di bumi Haramain. Rombongan dhuyufurrahman -tamu Allah- ini pastilah orang-orang terpilih dan telah berada dalam list alam langit, untuk berkesempatan merasakan langsung "lezatnya" beribadah di poros bumi yang posisinya juga langsung konek dengan 'Arasy langit.

Kita mengumpulkan dan menyatukan doa pada bulan ini. Baik doa dari warga negeri yang belum berangkat dan tentunya doa para hujjaj yang langsung berdiri di checkpoint registrasi doa yang bertebar di sana. Entah itu Multazam, Raudhah, atau Arafah. Sebuah moment teramat mahal dan tak ternilai untuk di sia-siakan. Kita yakin para Hujjaj ini sedang berupaya mendapatkan mabrur 3x sesuai judul.

Apakah Mabrur 3x ini?
Begini...
Kita kan tahu bahwa mabrur itu berartinya diterimanya haji kita oleh Allah. Biasanya yang dinaksudkan adalah perubahan yang terjadi pada diri seseorang baik pada cara pikir maupun bertindak seorang haji. Haji yang mabrur itu memberikan dampak bagi pribadi dan lingkungannya.

Lalu dari mana datangnya mabrur 3x ini?. Ini istilah gaya-gaya sih.
Mabrur 3x adalah adalah mabrur yang sempurna atau hasil ekstraksi 3 kondisi seseorang ketika melaksanakan haji. Jika proses haji kita bagi menjadi 3 (tiga) fase yaitu pra haji, selama haji dan pasca haji, maka hemat saya, kita akan mendapatkan tiga mabrur juga. Yaitu mabrur sebelum berangkat, mabrur ketika melaksanakan dan mabrur setelah kembali ke negeri masing-masing. Apakah ada landasan argumen ini?

Mabrur sebelum haji pernah diperoleh oleh Mufawwaq. Dia adalah tukang sepatu di Damaskus yang hidup pada masa 110 H. Suatu ketika, seorang ulama di negeri itu bermimpi mendengarkan dialog 2 malaikat. Malaikat pertama bertanya, "Berapakah jamaah haji tahun ini?. Jawaban malaikat kedua adalah "600 ribu orang". "Lalu berapakah yang diterima hajinya atau mabrur?", lanjut malaikat tadi. Jawaban malaikat kedua sangat mengejutkan, "Tak satupun, kecuali si Muwaffaq yang tidak berhaji itu", jawab malaikat kedua.

Singkat cerita, si ulama mencari sosok si Muwaffaq yang ternyata adalah tukang sepatu. Dia sudah lama mengumpulkan uang untuk berhaji namun dikarenakan jelang detik-detik keberangkatan, uang tersebut diberikannya kepada seseorang yang sangat membutuhkan. Alhasil, dia tidak jadi berangkat. Namun, ternyata menurut malaikat hajinya telah diterima dan mabrur pula. Itu mabrur ke-1, bukan?.

Mabrur ke-2 biasanya diperoleh ketika seseorang berhasil melewati berbagai rintangan dan godaan selama di tanah suci. Godaannya banyak  bukan?. Kita akrab mendengar kisah-kisah dimana tanah haram menguji hati para hujjaj. Makanya, biasanya kita diwanti-wanti untuk pandai menjaga hati di sana. Harus banyak sabar, rendah hati, ikhlas dan tawakkal. Kendati, seharusnya sikap ini jangan hanya dilakukan di sana saja. Di Indonesia juga sikap ini harus dimiliki. Bayangkan kalau semua orang di negeri ini merasa seolah-olah sedang berada di mesjidil haram dan berihram. Entah seperti hebatnya negeri ini. Namun, banyak yang gagal di fase ke-2 ini, alias kehilangan mabrur ke-2. Mungkin ini dimaksudkan dengan 600 ribu hujjaj seperti kata malaikat tadi. Cocok?

Nah, barulah mabrur ke-3 diperoleh ketika seseorang berhasil menuntaskan perolehan mabrur 1 dan 2 tadi. Mabrur ke-3 tidak akan bisa diperoleh tanpa keberhasilan di dua fase sebelumnya. Inilah mabrur yang sering kita sebut-sebut itu. Hasan Bashri menyatakan bahwa haji mabrur adalah jika sekembali dari haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akhirat.” Logis, bukan?.

Artinya, bagi kita yang ingin mendapatkan haji mabrur 3x alias mabrur 100%, tentulah harus mengisi semua blangko mabrur yang 3 ini.

Kalau pembagian di atas disepakati, maka kita bisa menjawab permasalahan mengenai penyebab haji "terasa" tidak mabrur, bukan?

Kendati hanya Allah yang tahu apakah haji kita mabrur atau tidak, namun efek haji sebenarnya bisa dirasakan. Tanyakan saja kepada para hujjaj yang baru pulang haji. Mereka paham benar perubahan dalam dirinya termasuk juga paham apa-apa yang tidak berubah alias "haji atau tidak haji, podomawon". Atau tanya diri masing-masinglah. Namun, kita yakin jumlah hujjaj yang mabrur di negeri ini banyak sekali, insyallah.

Kalau setuju dengan pembagian di atas, maka Mabrur ke1 dan ke-3 itu kelihatannya lebih sulit ya?  Karena harus mengkondisikan hati dan perbuatan kendati tidak berada di tanah suci. Saya kira, para jamaah waiting list yang akan berangkat 10-15 tahun ke depan bisa saja saat ini sedang menjalani mabrur ke-1 ini. Sabar tingkat tinggi, maka jangan sampai dikotori dengan hal-hal aneh-lah. Misal menyalib porsi dan list orang lain atau menggunakan uang haram untuk berhaji. Kok haji jadi ajang rebutan dan saling menang sendiri. Gak luculah. Tapi, memang berat sekali menata hati di negeri yang jauh dari makam nabi ini, bukan.?

Demikian juga mabrur ke-3. Godaan pasca haji lebih berat lagi. Di tengah-tengah orang yang banyak "risih dengan Tuhan" dan kebaikan, maka seorang haji yang baru menginjakkan kakinya, bisa saja akan kaget dan kembali "sedia kala". Kembali ke habitatnya. Seharusnya ia adalah penerang kehidupan karena telah menandatangani kontrak dengan alam langit dan bersedia menjadi manusia pemberi dampak bagi kehidupan.

Kalaulah pembagian di atas disepakati, maka tentulah tidak berlebihan jika dikatakan bahwa siapapun kita saat ini pasti juga bisa dianggap sedang ber-ihram, thawaf, wukuf dan jumrah? Baik dalam arti sempit atau luas, bukan?.
Kita bisa saja berihram dengan mensucikan hati, thawaf dengan komit terhadap nilai-nilai kebaikan, wukuf dengan melakukan refleksi atau hidup yang telah dijalani serta jumrah dengan menunjukkan permusuhan kepada syeitan dan keburukan. Nah, ketika nanti seseorang mampu berangkat ke masjidil haram, tuntaslah jumlah mabrur-nya. Cocok?

Makanya, ber-"hajilah" sebelum haji. Dan raihlah "mabrur" sebelum haji. Mudah-mudahan para jamaah haji semuanya mendapat ke-mabrur-an dari Allah dan  negeri ini semakin membaik adanya. Amin...

Labbaikallahumma labbaik.
Labbaikala syarika laka labbaik.
Innalhamda wanni'mata laka wal mulk.
La syarika laka.

Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments