Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#27 Seri Ramadhan 2016: "THR", Cinta dan Kunci Surga

By: M. Ridwan

Ujian Akhir Ramadhan (UAR) sedang berlangsung. Ini momen yang sangat menentukan. Para sha'imin berjuang keras melawan serangan bertubi-tubi dalam bentuk berbagai godaan baik terlihat maupun tidak. Peperangan demi peperangan dihadapi untuk keluar sebagai pemenang atau minimal bertahan. "To be a champion or survivor?. Dalam sejarah peperangan, pemenang adalah pasukan yang benar-benar bisa menyelesaikan pertempuran dan pulang, bukan sekedar menang di awal namun kalah di akhir. Lihat, kejadian perang Uhud. 

Seringnya, peperangan di bulan Ramadhan tidak dirasakan atau diketahui. Musuhnya invisible. Tidak terlihat. Keadaan kelihatannya oke oke saja. Bahkan semakin berada di penghujung, bukankah hari-hari terlihat semakin cerah?. Bertambah pernak-pernik dan keindahan dunia. Mungkin THR sudah cair semua ya?. Alhamdulillah.

Kalau begitu, bersyukurlah dengan adanya THR atau Tunjangan Hari Raya ini. Perjuangan mendapatkan THR sudah berhasil, bahkan mungkin sudah dibelanjakan, ya?.  THR ini didamba oleh semua masyarakat, lho. Bahkan orang yang tidak berpuasa dan non muslim pun senang sekali menerima THR ini. Adik saya yang memiliki teman-teman non muslim mengungkapkan kebahagiaan mereka ketika menerima tambahan gaji THR. "Alhamdulillah, THR sudah keluar" kata mereka. Malah, pakai kata alhamdulillah segala. Hehe, uang memang bisa menyatukan, membahagiakan sekaligus memisahkan manusia, ya...? :)

Tulisan pagi ini dibuat berbarengan dengan 2 (dua) berita. Pertama terkait dengan parcel yang konon dikirim oleh BPK kepada anggota DPR RI. Isi parcel ini cukup wah, termasuk sebuah gadget produksi teranyar negeri Ginseng. Katanya, pengirimnya masih misterius dan tujuannya juga masih belum jelas. :). Gak aneh lah...

Berita kedua terkait dengan batalnya Gaji THR pensiunan di Indonesia. Awalnya, mereka dijanjikan mendapat 50% dari gaji namun ternyata tidak jadi. Berita ini tentu menyedihkan. Maknya, banyak pensiunan yang protes dan marah-marah juga. Ini laporan yang disampaikan seorang pensiunan kepada saya, tadi pagi. Saya kira, dalam kondisi begini, maka kesabaran dan keridhaan itu menjadi kunci, ya. Ngomong mah enak ya?...:)

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya dalam hidup ini kita memang harus mengejar "THR", kok. Bahkan di bulan Ramadhan ini, "THR" ini harus dapat dirasakan. Namun, "THR" ini adalah jenis lain, bukan dalam bentuk uang atau parcel. Makanya, saya beri tanda kutip. 

THR yang saya maksud adalah Taufik Hidayah dan Rahmat (THR) dari Allah. Nilai "THR" ini tak terhingga. Trilyun pangkat trilyun bahkan unlimited. Soalnya dengan "THR" ini, kita bisa membeli kavling "surga" beserta fasilitas di dalamnya seperti Waterboom, Kawasan Central Park, Diving dan Sky Paralayang dan tentunya resort-resot pantai, danau dan sunga ala surga. Di sana ada fasilitas cafe aneka kuliner dan tentunya butik pakaian nan indah disertai pagelaran permata dan perhiasan. Fasilitasnya lengkap namun tentunya dibuat dalam versi surga. Kawasan Grand Indonesia di Jakarta atau Oxford Street di London itu sih, tidak ada apa-apanya dibandingkan surga. :). Hehe.. Saya cuma tahu itu saja. Mungkin saja ada yang lebih hebat dan indah, tapi pasti tidak bisa mengalahkan surga, bukan?

Walaupun, surga itu tak bisa diukur dengan uang. Ia seluas langit dan bumi. Belum lagi nilai dari keridhaan yang diberikan Allah. Tak ada dan kalkulator yang mampu menghitungnya.

Makanya, perbanyak "THR" dari Allah.Dengannya kita bisa "membeli" kunci surga.

Apa Itu Taufik Hidayah dan Rahmat Allah?
Hidayah adalah petunjuk atau jalan dari Allah. Seperti kita menemukan sebuah jalan di hutan dimana kita sedang tersesat. Pasti menyenagkan bukan? Apalagi jalan hidup menuju akhirat. Tanpanya kita akan tersesat dan masuk ke jurang. Makanya, hidayah itu tak ternilai. It is uncountable..

Namun hidayah tanpa taufik juga tidak lengkap. Apa pula taufik itu?
Taufik adalah kemampuan yang diberikan Allah kepada kita untuk menggerakkan langkah untuk menelusuri jalan yang Ia berikan. Yaitu kemampuan melakukan amal sholeh dengan senang hati. Hidayah tanpa taufik tidak bermakna. Sama seperti orang yang telah menemukan jalan di hutan untuk kembali turun, namun kakinya tidak mau melangkah menelusurinya. Bisa-bisa ia mati kedinginan di puncak gunung bukan?
Makanya,  seorang muslim dipastikan telah mendapat hidayah atau jalan lurus bernama Islam. Namun mengapa tidak semua muslim mau melakukan amal shaleh? Jawabannya, karena tidak semua mendapat taufik dari Allah.

Mengapa banyak orang yang mendapat hidayah untuk tidak makan yang haram namun tetap juga terjerumus ke dalamnya?. Jawabannya karena ia tidak mendapat taufik dari Allah.

Mengapa banyak orang yang berniat untuk sholat subuh di mesjid, namun keesokan harinya tidak terbangun? Jawabannya karena tidak ada taufik dari Allah.

Mengapa banyak manusia terjebak ke dalam dosa yang ia sebenarnya tidak ingin lakukan?. Taufik Allah adalah kuncinya. Makanya berdoalah semoga Allah memberikan kita Taufik dan Hidayah, demikian kata ustaz.

Dari yang saya baca, taufik adalah kondisi dimana keinginan kita selaras dengan keinginan Allah. Wah, berat tuh.  Apakah Allah akan sudi menyelaraskan keinginan-Nya dengan kita yang hina dan banyak dosa ini?.

Makanya, untuk menggapai Taufik dan Hidayah Allah, kita juga membutuhkan rahmat-Nya. Kasih sayang dari Allah. Bahkan, sering dikatakan bahwa rahmat Allah-lah yang membuat kita masuk surga nantinya. Kalau amal kita sih hanya untuk memancing rahmat Allah. Tanpa rahmat Allah, maka amal kita tidak memiliki kekuatan berarti menembus surga. Ada hadis yang mengatakan bahwa seandainya hisab akhirat benar-benar dilakukan sesuai amal kita, maka sebenarnya dosa kita itu pasti lebih banyak. Makanya, kita membutuhkan rahmat Allah.

"THR" itu adalah bukti cinta Allah kepada kita. Seharusnya THR yang diberikan perusahaan kepada karyawannya juga adalah wujud cinta, bukan terpaksa gitu. Dan, seharusnya yang kita sedihkan adalah ketika THR dari Allah yang tidak diperoleh, bukan karena tidak ada THR dari perusahaan dan negara. Hehe. ngomong sih enak ya...?

Seyogyanya, bagi kita yang menerima THR harus menunjukkan cinta dan kasih sayang. Mencintai perusahaan danorang-orang di dalamnya, tempat kita bekerja. Mencintai negara dan pemimpinnya. Dan, mencintai manusia yang kita berikan THR. Jadi makelar rejeki.

THR dan cinta itu identik. Terutama "THR" dari Allah. Namun, "THR" mahal ini hanya diberikan Allah kepada hamba-Nya yang tidak hanya meminta tapi juga membuktikan cinta  kepada-Nya. Ia akan memberikannya kepada hamba-hamba yang menunjukkan kepantasan bahwa ia memang layak dicinta.

Makanya, bersedihlah jika tidak mendapat "THR" dari Allah. Bersedihlah jika hati kita tidak memiliki keinginan untuk menelusuri jalan yang telah diberikan.

Banyak cara untuk menjemput "THR" dari Allah,  sih. Tapi tentu saja tidak dengan menunjukkan kejengkelan kalau THR dari perusahaan kita benar-benar tidak jadi keluar. Berani mencoba?
 

Post a Comment

0 Comments