Ticker

6/recent/ticker-posts

Mutualistic Sacrifice: Ketika Lonceng Dikalungkan di Leher Kucing

By: M. Ridwan

Saya yakin bahwa kita akrab dengan kisah ini. Tentang sekawanan tikus yang berencana menghilangkan "teror" seekor kucing. Alkisah, tikus-tikus itu akhirnya berkumpul dan berembuk untuk menemukan cara terbaik supaya korban tidak semakin banyak. Soalnya, si kucing sudah semakin merajalela. Ia melakukan aksinya dengan senyap, silent. Tiba-tiba saja, ia sudah muncul dan menerkam para tikus yang biasanya tidak memiliki kesempatan lagi untuk menghindari diri.

Musyarawah para tikus dihadiri berbagai komunitas tikus. Ada tikus got, tikus rumah, termasuk juga tikus-tikus yang tinggal di sekitar tong sampah. Mereka mengusulkan berbagai ide.

Tikus got, misalnya, mengusulkan supaya diadakan ronda malam atau mempekerjakan tenaga pengaman yang memantau aktifitas si kucing. Lain halnya dengan tikus di tempat sampah yang mengusulkan supaya dibuat pagar yang tinggi dan memasang CCTV supaya si kucing tidak meerobos masuk dan trus terpantau.

Usul sederhana diajukan para tikus rumah yaitu dengan cara mengalungkan sebuah lonceng di leher si kucing. Menurut mereka, cara ini lebih efisien dan efektif. Biayanya murah dan mudah. Tidak perlu uang yang mahal membeli CCTV atau membangun pagar.

Dengan adanya kalung di lehernya, maka aktifitas kucing akan terpantau. Para tikus cukup mendengarkan saja. Jika lonceng berbunyi artinya si kucing sedang berjalan dan mungkin sedang memulai aksinya memangsa para tikus. Para tikus bisa mempersiapkan diri atau bersembunyi.

Tentu saja, usul ini akhirnya diterima. Para tikus bersorak-sorai. Sudah lama mereka menantikan ide brilian seperti ini. Kawanan tikus rumah mendapatkan ucapan selamat dan dielu-elukan. Para tikus ternyata senang mengapresiasi juga, lho.

Seekor tikus tua yang didaulat menjadi pimpinan sidang mengetuk palu tanda kesepakatan. "Ini ide cerdas. Kita memutuskan untuk mengalungkan sebuah lonceng di leher kucing. Tok, tok, tok", yang disambut dengan sorakan gembira peserta musyawarah.

"Pak Ketua, tunggu dulu," seekor tikus muda mengacungkan tangan. "Bagaimana dan siapa yang akan menggantungkan lonceng itu ke leher kucing?", tanya  tikus itu dengan kebingungan.  

Pertanyaannya sontak membuat suasana di ruang sidang menjadi senyap. Semua mengernyitkan dahi termasuk tikus tua itu. "Iya juga ya, siapa yang akan melakukan mission impossible ini?," pikir si tikus tua.

"Baiklah, pertanyaan bagus. Siapa yang mau melakukannya", tanya kucing tua dengan harap-harap cemas. Tak ada satupun yang menjawab. Satu persatu peserta musyawarah bubar termasuk si tikus tua yang juga ngacir ketakutan. Dia memikirkan masa depan anak dan cucu yang ditinggalkannya. Ia pun ketakutan. Ruangan menjadi sunyi senyap. Tinggallah di tikus muda dalam kebingungannya.

Anda pernah mendengar kisah di atas bukan?. Itu adalah dongeng anak-anak yang sarat makna. Pesannya, bahwa sebuah ide yang bagus saja harus bisa dieksekusi dengan baik. Sebuah perencanaan yang matang sekalipun, akan sia-sia jika tidak bisa diimplementasikan. Orang sering mengatakan, bahwa sebah ide itu harus membumi. Jangan di langit saja."

Untuk membangun Indonesia supaya hebat tidak hanya diperlukan sebuah rencana yang matang namun juga harus mampu diwujudkan. Diperlulan tindakan konkret dan masuk akal. Termasuk juga tindakan lokal bernuansa gobal. Think globally and act locally. Itu ungkapan yang sering kita dengar.

Namun, saya perlu menyampaikan bahwa kisah tikus di atas ada lanjutannya, lho? Benar, ada thriller-nya. Saya yakin Anda belum pernah mendengarnya, bukan?

Ya, kisah tikus itu berakhir dengan ending yang bahagia.

Dikarenakan tak seekor tikuspun yang bersedia untuk mengalungkan lonceng di leher kucing. Maka, tikus muda itupun memutuskan untuk melakukannya sendiri. Ia mengambil sebuah lonceng kecil dan mengendap-ngendap ke persembunyian sang kucing. Si kucing kelihatannya sedang tertidur lelap setelah berburu di malam hari.

Dengan mengendap-ngendap, ia berjalan menunju si kucing. Perlahan-lahan, lonceng itu diikatkannya ke leher kucing yang tampaknya tidak menydari kehadirannya. Upps, berhasil. Lonceng itu terpasang dengan kuat di leher si kucing. Namun, tiba-tiba, si kucing yang risih itu terbangun dan kaget melihat ada seekor tikus kecil yang sedang berjalan di atas badannya. Sontak ia mengejar si tikus dan sempat pula melukai ekor dan badannya. Meskipun dengan luka-luka parah yang dideritanya, namun, tikus muda itu berhasil menyelamatkan diri. Toh, sejak tadi, ia juga rela berkorban, kok. Ia rela mengambil risiko kehilangan nyawanya demi keselamatan komunitas tikus lainnya. Perjuangannya membuka mata para tikus yang lain. Ia mendapatkan penghargaan. Tahukah Anda, apa penghargaannya?. Tikus muda itu ditunjuk menjadi Kepala Satuan Pengaman para tikus. 
Heheh, ngak apa-apa lah, yang penting ceritanya berakhir dengan Happy Ending, bukan?

Nah, kalau dari kisah lanjutan ini. Maka apa pesannya? 

Ya, untuk membuat sebuah misi berhasil ternyata tidak hanya tindakan lokal bernuansa global yang harus dilakukan. Sebuah pengorbanan juga menjadi penentu keberhasilan program yang direncanakan. Tanpa itu, maka semua rencana tindakan akan menjadi semu dan miskin efek.

Saya kira, Indonesia bisa merdeka di tahun 1945 lalu, bukan sekedar karena adanya ide dan rencana, bukan?. Indonesia bisa merdeka karena ada yang mau berkorban, bro. Mereka disebut pejuang. Mereka berkorban dengan tenaga, darah, air mata bahkan dengan nyawa. Mereka tidak banyak bicara dan ngomong. Mereka bertindak pasti dan rela berkorban. Tanpa pengorban mereka?. Sudah pastilah kemerdekaan Indonesia itu bak mengantungkan lonceng di leher kucing.

Demikian, juga. Jika kita menginginkan Indonesia maju dan berhasil menjadi negara yang disegani. Maka, satu-satunya jalan melakukannya dengan memperbanyak para pejuang (warrior) di negeri ini. Harus hadir semangat-semangat berkorban di tengah-tengah kita. Entah itu berkorban dengan harta, tenaga, air mata atau mungkin perasaan. Kendati, saya tidak suka menggunakan istilah "korban perasaan". Terasa negatif, gitu.

Pengorbanan itu memang diperlukan. Di perusahaan-perusahaan berkaliber dunia, pengorbanan itu dilakukan. Saya pernah mendengar bahwa perusahaan Jepang seperti Honda atau Toyota memiliki karyawan yang sangat loyal dan rela berkorban. Mereka tidak mudah mengeluh dan hanya berorientasi uang. Mereka berdedikasi kuat karena menyakini bahwa dengan bekerja di perusahaan itu merupakan pengabdian kepada negara. Misinya suci. Akibatnya, para karyawan di Jepang tidak mudah menjadi kutu loncat, lho. Mereka tidak mudah berpindah dari satu perusahaan ke tempat lain. Tidak mudah mengeluh dan mengomel. Beda dengan di kita, lho.

Namun, "pengorban" di level karyawan juga sebanding dengan "pengorbanan" di level top management. Kebijakan mensejahterakan karyawan menjadi titik kunci dan diprioritaskan. Makanya, karyawan perusahaan Jepang juga betah dan biasanya menghabiskan hidup di perusahaan itu juga. Sampai pensiun.

Pengorbanan itu memang mahal harganya. Hanya segelintir orang yang mau melakukannya. Apalagi di tengah kondisi kapitalistik dan hedonis materialistis seperti sekarang ini. Kondisi ini bisa menyebabkan nilai-nilai pengorbanan menjadi tergerus karena harus diukur dengan semata-mata uang dan apresiasi lainnya. Pernah dengar istiah begini? I work for money. If you want a loyalty, get a dog !! (Saya bekerja untuk uang, jika kamu menginginkan sebuah kesetiaan, maka cari saja seekor anjing !!. Hehe.

That's oke-lah. 
Tapi, orang yang berkorban juga harus diberi apresiasi. Terutama bagi kita yang memahami pengorban seseorang. Jika kita mengetahui ada karyawan atau warga kita yang betul-betul telah berkorban dengan tenaga, pikiran dan perasaan mereka, tanpa mengharapkan reward, maka kenapa kita tidak pula berkorban membahagiakan mereka.? 

Ini saya sebut mutualistic sacrifice, saling berkorban.  Hemat saya, seseorang yang telah berkorban itu pasti tidak sempat memikirkan harga dari pengorbanan mereka, bukan?. Justru kitalah yang harus memikirkannya.  Bagi-bagi kerja dong.

Tanpa adanya mutualistic sacrifice itu, maka bersiap-siaplah seperti para tikus yang ketakutan tadi. Bersiap-siaplah menjadi korban "teror para kucing". Makanya, saya kira, mudah saja untuk melihat indikator kesuksesan dan kemunduran sebuah negara atau perusahaan atau institusi.

Apa itu?
Indikatornya adalah jumlah orang berkorban di tempat itu. Semakin banyak orang yang rela berkorban, semakin sukseslah perusahaan atau negara itu. Sebaliknya, jika jumlah orang-orang yang berkorban itu sedikit atau tidak ada, maka pastilah perusaan atau negara itu semakin terkebelakang atau bahkan hancur. Mudah bukan?, Buktikan saja di tempat Anda.

Sudah, ah. 
Good Pagi. Selamat Morning Indonesia....

Post a Comment

0 Comments