Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#9 Sesi Ramadhan 2016: Perjalanan Sebuah THR

By: M. Ridwan

"When God blessed you financially, do not raise your standard of living. Raise your standard of giving". (Mark Batterson)

THR, atau Tunjangan Hari Raya, bagaimana kita memandangnya?. Pertanyaan aneh, ya?. THR ya identik dengan uang dan kebahagiaan. Terbayang tidak, betapa enaknya menikmati mudik atau lebaran dengan THR yang banyak dan kantong tebal. Langkah kaki dan gaya jalan kita pasti lebih gagah ya?. Makanya, Filipe Campante dan David Yanagizawa, Profesor dari Harvard University setuju bahwa Ramadhan itu bisa mendatangkan kebahagiaan.

THR itu bisa saja datangnya dari perusahaan tempat kita bekerja, atau rizki min haisu la yahtasib, rejeki yang tak disangka-sangka. Katakanlah, tiba-tiba ada orang yang "berbaik hati" memberikannya. Atau bisa juga, kita-lah sumber THR untuk orang lain, sensasinya beda, lho.

Mendapat THR itu adalah sebuah kebahagiaan setiap orang di bulan ini. Lupakan dulu tentang Lailatul Qadar ya. Saya tidak membahas itu. Kendati keduanya ditunggu-tunggu.  

Lailatul Qadr adalah pemberian Allah kepada hamba-Nya yang konsisten dan komitmen dalam ibadah puasa. Ia adalah sebuah rasa, atau pencerahan, yang khusus untuk shaimin dan shaimat yang tulus ikhlas. Sifatnya beyond materi, holistik dan efeknya bersifat everlasting

Sedangkan THR biasanya murni berorientasi materi, parsial dan efeknya  short term (jangka pendek). Kalau Lailatul Qadr dikejar dan didamba oleh orang yang berpuasa secara serius, maka THR bisa saja dikejar oleh setiap orang, baik ia berpuasa atau tidak. Makanya, pernah ada maling tertangkap mencuri di bulan Ramadhan. Mau tahu dalihnya? Ternyata, untuk biaya pulang kampung, bro !. Ia tidak mendapat THR. Alasan terkesan masuk akal, bukan?

Oh ya, ada pula, sms penipuan bermodus THR. Bunyinya, "Selamat Anda terpilih mendapatkan THR dari kami, sejumlah 10 juta, silahkan ketik dan hubungi no 08xxxxxx, sekian". Ujung-ujungnya kita disuruh mentransfer uang, tanpa kita sadari. Banyak yang tertipu dengan modus ini. Cerdas juga ya, cerdas cari dosa, maksudnya.
Di Indonesia, sering sekali "konflik" antara karyawan dan majikan dilatarbelakangi oleh tuntutan THR ini. Wah, bisa dibayangkan gak, bagaimana wajah para karyawan dan majikan ketika membincangkan hal ini? Di bulan puasa, lho. Pakai marah-marah, gak ya?

Tentu, saya tidak menolak THR. Saya juga senang kok. 
Kalau perusahaan memiliki alokasi untuk itu, ya tentu tidak etis-lah menahannya. Tega banget sih?. Toh, karyawan adalah kontributor utama atas profit perusahaannya. Hitung-hitung, untuk membahagiakan orang lain. Pahalanya banyak sekala. Sebaik-baik manusia adalah orang yang memasukkan kebahagiaan ke dalam hati orang lain.

Namun, kalau perusahaan tidak mampu membayarnya?, gimana?. Ini kembali lagi ke karyawan. Seberapa ikhlaskah menerima "kenyataan pahit" ini. :).    

Kendati, Pemerintah mengeluarkan peraturan menteri yaitu Peraturan menteri Tenaga Kerja No 6 tahun 2016. Peraturan ini menjelaskan berbagai hal ihwal THR , seperti Kewajiban setiap perusahaan untuk memberikannya maksimal H-7 termasuk jumlahnya.  Harapannya, masalah THR ini tuntas dan win-win solution. Semua harus happy. KAlau sengaja tidak dibayar, malah kena sanksi hukuman.

THR, seberapa pentingkah?
Untuk mengetahinya, yuk kita lihat perjalanan sebuah THR...
Di group WA saya, bertebaran "meme" bergambar perjalanan THR. Ada yang menampilkan foto tumpukan uang di lemari besi. Ada yang menampilkan truk berisi uang, termasuk foto orang yang sedang melakukan ru'yatul hilal. Haha, saya tertawa geli. Itu foto orang sedang melihat bulan sabit sebagai tanda Ramdhan atau Idul Fitri namun dipelesetkan. Bunyinya, "Gimana bro, THR-nya sudah kelihatan belum?" tanya laki-laki berkopiah di samping seseorang yag sedang serius meneropong.  Hehe, saya menyebut hal ini dengan sebutan "kreatif intimidatif". 

Tapi, katakanlah THR itu telah kita terima. Sejumlah uang telah memenuhi kantong dan rekening kita, so wahat?
Mungkin, sebagian digunakan untuk renew penampilan. Kita ganti HP, cat rumah, service kendaraan atau sewa kendaraan untuk mudik. Beli baju dan kue? Sudah pastilah.

Kita mungkin menukarkan sebagian THR itu dengan pecahan kecil. Dimasukkan amplop untuk dibagi-bagikan ke orang lain. Angpaw, kata orang Tionghoa. Aisha dan Raifa gemar sekali mengumpulkan amplop-amplo indah ini. Mereka sepertinya, tidak terlalu ambil pusing dengan isi di dalamnya. :)

Katakanlah, THR tadi berjumlah satu, dua atau tiga kali lipat dari gaji kita. Semakin besar, maka semakin tinggi "daya tahan" dan durasi kita menikmati lebaran. Makin bersemangat, kah?

Tapi, satu hal yang pasti THR pasti akan menemui titik akhir. Nominal yang besar akan segera bermetamorfosis ke nominal kecil hingga akhirnya habis. Kantong perlahan menipis dan akhinya habis, sama seperti berakhirnya liburan idul fitri yang kita miliki. Sebrek perkerjaan menunggu. Kita harus segera melakoni hari-hari kerja  seperti biasa. Untuk 11 bulan ke depan.

Diperkirakan, ada sekitar 15-20 trilyun uang yang dibawa ke desa oleh para pemudik. Sebagian besar uang itu adalah hasil dari THR tadi. Biasanya THR itu habis begitu saja. Dikonsumsi dalam bentuk makanan, minuman, pakaian dan tentu saja rumah dan kendaraan. Belum pernah saya dengar orang menjadikan THR sebagai modal pendirian koperasi atau BMT, sih.. Hehe, harapan ini terlalu muluk-muluk dan bukan pada tempatnya  ya?

THR hakikatnya menggilirkan kepemilikan uang bukan? Uang dari perusahaan atau tangan kita berputar ke tangan orang lain. Istilahnya, Consumption transfer. Untuk "dinikmati" orang lain atau bergantian "menikmati" uang. Merasakan sensasi mendistribusikan uang.  Mencium aroma uang dan merasakan langsung kebahagiaan ketika THR itu membuat orang lain berbahagia dan berkaca-kaca menerimanya dari tangan kita.

Namun, THR tentulah hanya satu cara menikmati kebahagiaan. Tanpa itu, kebahagiaan Idul Fitri seharusnya tidak ternoda, berkurang apalagi hilang. Jika hakikat THR ujung-ujungnya adalah kebahagiaan, baik untuk diri kita dan orang lain. Maka tentu aneh pabila tanpa-nya kita malah  menderita dan tersiksa, right?.

Sehingga, jangan takut menikmati THR. Berbahagialah.
Dan, jangan pula bersedih tanpanya. Berbahagialah.

Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments