Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#10 Seri Ramadhan 2016: Ramadhan dan Pesona Supermarket

By: M. Ridwan

Fase 10 hari pertama Ramadhan akan kita akhiri. Kita akan memasuki fase 2. Jika sepakat dengan tipologi atau pembagian fase Ramadhan yang pernah saya sampaikan di tulisan-tulisan lalu, berarti di fase kedua ini jumlah orang ke mesjid dan mushalla "seharusnya" sudah mulai berkurang sementara pengunjung pusat perbelanjaan "harus" meningkat. Wah, wah, lebay nih. Jika kenyataannya berbeda -dalam arti jumlah pengunjung mesjid semakin meningkat-, maka tentu ada hal yang menarik.  Tidak perlu lagi membaca tulisan ini-lah. 

Daya tarik supemarket itu dahsyat. Segala jenis tarikan dan pesona ada di sana. Mata, telinga, dan hidung mendapatkan sensasi yang tidak kita temukan di rumah.  Gimana gitu. Supermarket kini tidak hanya untuk berbelanja. Mall atau supermarket jaman kini telah menjadi pusat banyak kegiatan. Termasuk di setiap Ramadhan. Tak heran jika supermarket  identik dengan kemajuan jaman. Ide menyulap pasar tradisional dari pola terpusat ke self service itu, sangat keren. 

Oh, ya,  terjadi perdebatan di kalangan para peneliti mengenai sejarah supermarket pertama kalinya. Masing-masing mengemukakan pendapat berbeda. Misalnya,ada  menyatakan bahwa ide dan praktik supermarket dimulai pada tahun 1916 dimana Clarence Saunders -warga Amerika- membuka layanan self-service di tokonya yang bernaa Paiggly Wiggly. Namun, akhirnya ternyata disepakati bahwa  supermarket pertama yang didirikan pada tanggal 4 Agustus 1930 oleh seorang warga Amerika juga bernama Michael J. Cullen, tepatnya di New York City. Supermarket-nya didirikan di atas tanah seluas 560 m persegi. Cukup sederhana sih, namun, tentu sangat modern di jaman itu. Tapi, jangan disamakan dengan tampilan supermarket jaman kini yang tampil sangat wah dan penuh warna-warni.

Hasrat membeli itu adalah sunnatullah. Namun, seberapa "genuine" hasrat itu adalah masalah lain. Maksud saya, terkadang hasrat membeli itu justru bukan dari faktor internal kita. Atau, bukan karena sesuatu itu benar-benar dibutuhkan. Seringnya, hasrat membeli itu muncul dari faktor eksternal, katakanlah iklan dan promosi dari penjual. Dalam hal ini, supply menciptakan demand. Tanpa iklan, produk tidak akan dikenal. Akibatnya, barang yang dibeli juga bukan barang-barang primer tapi justru barang tersier atau barang untuk life style atau gaya-gaya. Ganti smartphone ke versi lawas, misalnya.

Kalau tidak percaya, yuk lakukan eksperimen ini. Matikan TV di rumah kita. Jangan dibuka sama sekali. Ceramah cukup didengarkan dari radio saja. Setelah satu bulan kemudian, silahkan hidupkan lagi. Apa kira-kira yang kita rasakan?. Kemungkinan besar minat membeli kita akan jauh berkurang. Paling-paling yang akan dibeli adalah kebutuhan dasar semata. Tapi, apa kita "mampu" melakukannya. Bisa-bisa dianggap keluarga yang aneh. Hehe...

Untuk menyikapinya, biasanya kita sering mendengar istilah smart customer atau konsumen cerdas. Seni mengelola hasrat membeli. Banyak sekali buku-buku yang memuat kiat membeli secara cerdas. Misalnya dengan memperhatikan place dan time. Contohnya, dengan membawa catatan berisi apa saja yang akan dibeli. Atau, jangan ke supermarket dalam keadaan lapar, Silahkan baca buku The Handbook of Family Financial Planning ya:).

Tapi, lagi-lagi, faktor emosional dan budaya itu sangat besar. Apalagi dari anggota keluarga itu sendiri. Seorang Bapak pernah mengatakan bahwa ia mungkin bisa mengendalikan hasrat belinya di bulan Ramadhan tapi tak berkutik ketika sang isteri mendesak. Di hari pertama saja si isteri sudah bertanya kapan rencana mau pergi membelikan baju anak-anak mereka. Apakah mungkin saya tidak membeli baju baru?. Hehe, iya juga ya. Kalau nekat, di Bapak bisa kena boikot isteri dan anak-anaknya, tuh. Pasti ia akan dianggap Bapak yang aneh.

Ada pula yang berargumen bahwa pergi ke supermarket itu adalah tradisi dan gaya hidup juga. Toh, dari dulu, ayah dan ibu saya melakukan hal ini. Toh, kami sekampung dulu juga bersibuk ria memburu diskon, dan mempersiapkan kue lebaran. There is no something wrong with it. Jangan cari-cari masalah-lah. Is it true?
 
Memang, dari perspektif ekonomi, sering dikatakan bahwa kondisi ini malah bagus karena terjadi transfer  konsumsi masyarakat. Sektor perdagangan, makanan dan jasa meningkat. Selain itu, dikarenakan pada bulan ini banyak yang bersedekah, maka konsumsi dari kalangan miskin juga meningkat. Ini adalah sesuatu yang bagus. Daya beli msyarakat miskin memang seharusnya ditingkatkan. Kendati, biasanya pertumbuhan ekonomi di bulan Ramadhan selalu mengalami penurunan. Turunnya sekitar 1% gitu-lah. Soalnya, para pekerja atau karyawan menurunkan produktifitas di bulan ini.  Jam kerja mereka berkurang 1-2 jam atau hampir 40 jam per bulan. 

Kembali ke judul.
Lantas, bagaimana menyikapi Supermarket di bulan Ramadhan kali ini?
Saya pernah mendengar ada sebuah keluarga. Mungkin apa yang mereka lakukan bisa dicontoh juga. Keluarga ini membeli persiapan lebaran justru sebelum bulan Ramadhan. Alasannya, nanti mereka kerepotan kalau itu dilakukan di bulan Ramadhan. Mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya berpuasa. Kata si suami, kan tidak ada hadis yang menyuruh Qiyamus Supermarket atau Qiyamun Nahar fil suq. Atau, tidak ada hadis yang menyuruh iktikaf di supermaket. Itu bid'ah besar, katanya, tertawa. Lagi pula, ia tidak ingin mata anggota keluarganya disibukkan melihat hal-hal yang gak perlu sekalipun itu mubah. Menurutnya, banyak dilihat banyak pengen-nya. Termasuk juga, mereka mematikan TV selama sebulan penuh. Rugi besar, pahala belum tentu dapat, potensi dosa sudah terlihat. Mendingin tidur, katanya sambil juga tertawa. 

Hehe, saya jadi ingat aktifitas berburu pakaian di Tanah Abang dan Thamrin City, nih. Macet, capek dan barangnya juga tidak kunjung ketemu. Katanya, kalau yang berbelanja laki-laki begitu ya? :) 

Kalau begitu, kuncinya terletak di diri kita, ya. Bukan salah supermarket. Kita yang harus bijak menentukan pilihan dan tindakan. Dalam contoh si Bapak tadi, penting dibangun kekompakan antara dalam sebuah keluarga. Harus seiring sejalan. Lagi-lagi, fokusnya adalah Ramadhan bukan sekedar idul fitri. Hari lebaran sih gak usah dipikirin. Dia pasti datang kok. 

Hemat saya, perubahan fokus bisa merubah aksi. Memang, seharusnya Ramadhan ini membuat kita semakin bijak memilih. Amin....



.

Post a Comment

0 Comments