Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#8 Seri Ramadhan 2016: Ketika Smartphone Duluan Masuk Surga

By: M. Ridwan

Saya senyum-senyum mendapat kiriman sebuah gambar "meme" -(baca: mim)- via medsos. Betapa tidak. Gambar itu menunjukkan seorang anak yang sedang duduk bersimpuh di makam ayahnya. Kelihatannya ia sedang berziarah. Namun, lucunya ia memegang sebuah smartphone yang terus melantunkan bacaan Alquran. Kita tidak pernah tahu apakah ia melakukannya karena tidak bisa membaca Alquran atau ia sedemikian malasnya?. Ia mewakilkan dirinya membacakan Alquran. Hehe, saya terpingkal-pingkal melihatnya. 

Tentu, saya juga merasa tersindir. Si pembuat meme ini cerdas. Ia paham benar apa yang terjadi di dunia nyata. Secara tidak langsung, ia mengkritik kondisi kita yang mungkin sudah kadung "pasrah" dan "sangat tergantung" kepada peralatan canggih bernama smartphone ini. Sanking tergantungnya, kita-pun "menyerahkan" urusan akhirat kepadanya, sama seperti ulah si anak itu. Terhadap meme itu ada teman yang memberikan komen, katanya orang tuanya-lah yang salah karena tidak mengajarkan hal ihwal akhirat seperti mengaji dan adab ke kubur. Hehe,  benar juga ya? : )

Smartphone atau ribuan alat digital lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan modern. Ia bahkan telah menjadi anggota baru keluarga kita, kendati tanpa nyawa dan ruh serta tidak masuk dalam daftar  Kartu Keluarga kita:). 

Tiada hari tanpa smartphone dan gadget. Evolusinya terus terjadi dari hari ke hari. Dari mulai sistem analog ke digital dan kemudian ke virtual atau alam maya. Kita tidak pernah tahu akhir dari cerita dunia digital ini.  Unthinkable, unimaginable...

Gadget dan "rekan-rekannya" pasti berkontribusi bagi peradaban manusia Baik kontribusi positif dan negatif. Jutaan atau milyaran informasi baik dan buruk berseliweran setiap harinya. Masuk ke pikiran dan hati kita tanpa diundang dan ia tak merasa perlu akan izin kita :). Hebat sekali.

Dengan adanya smartphone, banyak pula kemudahan yang diperoleh manusia untuk mensosialisasikan kebaikan.Sampai-sampai, saya terpaksa menggunakan 2 handphone karena baterai smartphone saya tidak mampu lagi bertahan sampai sore. Setiap detik berbagai broadcast masuk. Tak terhitung. Pesannya bernuansa dakwah, refleksi, muhasabah dan motivasi. Kebanyakan, kita pasti tidak tahu siapa penulisnya. Pesan itu masuk ke dalam alam bawah sadar, mengkristal dan menyumbang energi gerak kita. Saya kadang tak habis pikir, kapan ya waktu mereka menuliskannya. Lengkap banget. Ada referensi ayat maupun hadist. Pastilah orang yang melakukannya memiliki energi yang berlebih dan didorong dari hati yang bersih, bukan?

Makanya, saya berupaya tidak keluar dari sebuah group. Sayang saja sih. Niat penulisnya atau yang mem-forward itu pasti untuk amal jariyah. Masak sih tidak diterima dengan senang hati. Minimal memberi tanda like dan sapaan thanks atas usahanya itu. Tanpa itu, pun saya yakin mereka terus melakukannya. Orang seperti inipun saya yakin cukup cerdas memanfaatkan smartphone untuk mendulang pahala akhirat, meskipun berkorban waktu.  

Demikian pula, betapa banyak aplikasi-aplikasi digital bernuansa agama yang dengan mudah kita install. Ada Alquran, hadits, tafsir, sirah nabi, motivasi, dan jutaan aplikasi spiritual lainnya dengan berbagai versi. Tinggal pilih, gratis pula. Seharusnya kita sudah harus hafal Alquran dan  hadis saat ini, lho?,,,:)

Bagi dunia bisnis. Media sosial dan smartphone itu ibarat dewa penyelamat. Ia bisa dimanfaatkan untuk "mem-boost" penjualan, mengalahkan tim marketing manusia. Ia bisa membangun imej sebuah produk. Apalagi bagi politisi . Ia menjadi sarana ampuh membangun citra positif, provokatif dan propaganda juga. Tergantung apa mau-mu...:)

Makanya judul di atas saya pilih.Apakah benar smartphone bisa masuk surga?
Ya tentu bisa-lah. Toh, batu-batu dan benda-benda di bumi bisa masuk surga juga, bukan?. Kita tentu ingat cerita tentang seekor anjing kampung bernama Kitmir yang mendampingi para pemuda Ashaful Kahfi yang bersembunyi dari kejaran penguasa zalim yang ingin menghancurkan keimana mereka. Sang anjing ini masuk surga, lho. Ia menjadi saksi perjuangan para pemuda itu.

Demikian juga dengan terompah atau sandal Bilal bin Rabah yang pernah didengar nabi suaranya. Ia mendampingi mantan budak hitam itu masuk surga karena berjasa membantu pemiliknya melakukan kebajikan termasuk saksi bahwa Bilal pernah hampir mata disiksa Umayyah ketika mempertahankan keimanan. Benda-benda itu menjadi saksi kepada Tuhan. 

Saya kira, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa smartphone juga bisa masuk surga. Toh, ia mendampingi pemiliknya melakukan kebajikan bukan?.

Tapi syaratnya ya harus ada niat yang baik dalam menggunakan smartphone. Kalau tidak, tentu juga tidak berlebihan bila saya katakan bahwa mungkin smartphone itulah yang duluan masuk surga. Lalu, dimana pemiliknya? Entahlah, bisa saja ia tertinggal, atau tertahan di pintu surga karena masih belum menyelesaikan masalah "administrasi" per-akhirat-an. Atau, jangan-jangan pemiliknya justru salah arah alias ke neraka. So, be wise menggunakan smartphone....




Post a Comment

0 Comments