Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#7: Seri Ramadhan 2016: Month of Love: Latihan Jadi Penghuni Surga

By: M. Ridwan

Satu hal yang menarik dari Islam bahwa kita memiliki informasi tentang berbagai "dunia" lain selain dunia fisik ini. Termasuk juga kehidupan sesudah kehidupan ini. Meskipun mungkin secuil atau samar-samar, namun tentu saja itu sudah lebih dari cukup, bukan?

Meyakini dunia atau kehidupan lain itu termasuk salah satu rukun Iman yaitu percaya kepada yang ghaib. Tanpanya, keimanan kita pasti tidak sempurna atau rusak. Dan, salah satu yang meski diyakini kebenarannya, adalah adanya surga dan neraka.

Surga?
Apa yang kita bayangkan tentang itu?
Nabi mengatakan bahwa surga itu unik, tak pernah dilihat dan dirasakan manusia, betapapun indahnya dunia ini. Kendati demikian, mana mungkin kita tidak pernah membayangkannya?

Otak kita canggih. Otak depan, belakang atau tengah memiliki koleksi jutaan milyar memory berkaitan dengan gambar, suara dan pengalaman inderawi. Termasuk pengalaman kenikmatan. Nah, kumpulan memory inilah yang akan membentuk gambaran tentang surga yang kita bayangkan. Sehingga, bayangan masing-masing kita pasti berbeda. Subjektif. Sehingga, surga yang di pikiran saya pasti berbeda dengan apa yang dibayangkan kedua puteri saya, Aisha dan Raifa. Mereka pasti membayangkan surga itu penuh dengan permen, coklat atau ada anak-anak kucing dan kelinci yang imut. Hehe, soalnya mereka suka sekali dengan itu.

Syukurlah, surga nantinya berbeda dengan apa yang di pikirkan 7 milyar manusia bumi ini. Kalau tidak, pasti ada lebih dari 7 milyar surga yang disediakan Allah, bukan?:)

Tapi, yakinlah, surga lebih indah dari segala macam keindahan yang kita bayangkan. Sehingga, , cukup satu surga saja untuk menampung  "imajinasi surga" manusia tadi. Sama seperti neraka, yang pasti juga lebih mengerikan dari siksaan yang pernah kita bayangkan.Sama sekali berbeda dengan apa yang dibuat dalam film-film hasil imajinasi manusia.

Para sufi biasanya menyatakan bahwa kenikmatan surga itu bukan kejaran utama. Kenikmatan ruhani-lah yang merupakan ultimate kesenangan penduduk surga. Puncaknya, adalah bertemu dan melihat Allah. Tentu sangat logis bukan? Karena Allah-lah Sang Maha Indah dan Memberi Nikmat. Jika kita telah bertemu dengan-Nya, apakah kita masih memerlukan kenikmatan-kenikmatan remeh temeh seperti makanan dan minuman ala dunia?  Karena sudah bertemu dengan Puncak Rasa, maka mungkinkah kita sudi kembali turun menapaki tangga ruhani lagi? . Sudah sampai ke puncak, kok turun lagi. Oh ya, kalau bingung dengan alinea ini, lewatkan saja, karena fokus saya sebenarnya di alinea berikutnya.

Nabi menginformasikan bahwa di dalam surga nanti tidak ada rasa benci, iri dengki, dendam kesumat dan permusuhan. Semuanya sirna dan digantikan dengan cinta kasih dan kelembutan.

Mungkin ada yang protes. Di surga kan sudah tidak ada yang diperebutkan lagi?. Beda dong dengan di dunia?

Benar, di surga memang sudah tersedia segala kebutuhan sehingga tidak ada perang dan perpecahan lagi. Tidak mungkin kita dengar perebutan jabatan lagi. Sama sekali tidak ada aksi fitnah memfitnah, dengki mendengki karena lahan bisnis, misalnya. Surga, bro. Segala, yang kita inginkan tersedia, mana mungkin bisa ngiri apalagi dengki? Begitu ya..?

Benar, argumen itu bisa kelihatan logis. Namun, satu hal yang perlu dipahami bahwa sifat jelek di hati penghuni surga itu adalah efek latihan mereka di dunia. Para penghuninya telah melatih diri mereka dan mencampakkan rasa dengki, iri, dan dendam kesumat itu dari hati kendati berat tantangan yang dihadapi. Mereka mengisinya dengan cinta dan kasih sayang. Menghiasinya dengan kelembutan. Wajar dong mereka layak mendapat surga yang bebas iri dengki. Sudah terbiasa dan terlatih, sih.  Logis?

Berbeda dengan penghuni neraka. Karena terbiasa iri dengki dan menebar permusuhan, maka sampai di nerakapun mereka masih saling meyalahkan dan mencari kambing hitam. Maklum, mereka terbiasa latihan itu di dunia. Silahkan baca ayat Alquran tentang ini.

Saya kira, Ramadhan kali ini adalah momen terbaik kita untuk memupuk rasa cinta sehingga tumbuh dan berkembang indah di hati ini. Kita bersihkan hati dari rasa iri dengki dan segala tipe permusuhan dunia. Biasanya banyak dipicu oleh persaingan merebut dunia, bukan?. Pilih kesenangan dunia atau surga sih?

Melakukan ibadah maksimal di Ramadhan ini itu sangat baik dan penting. Tapi  saya kira "meningkatkan efek ibadah" jauh lebih baik dan penting. Dan, efek ibadah Ramadhan kita di tahun ini bisa diwujudkan dalam bentuk menghilangkan segala permusuhan di hati ini dan menggantinya dengan cinta. Betapapun berat godaan untuk memegangnya.

Kalau tidak sekarang, maka Ramadhan mana lagi sih yang akan kita tunggu?
Kalau tidak memulai hidup dengan cinta dan kasih sayang, maka surga yang bagaimana sih yang sebenarnya kita impikan? Saya jadi curiga, nih..:)
Wallahu a'lam....

Post a Comment

0 Comments