By: M Ridwan
Pernahkah Anda mengalami hal seperti ini?. Menjelajahi internet kemudian mendownload ratusan artikel, jurnal atau buku berformat digital dan kemudian disimpan di komputer dalam bentuk folder?. Pasti pernah, bukan?. Jumlah file itu mungkin mencapai ratusan atau bahkan ribuan file. Tipenya bisa saja aplikasi komputer, gambar, musik, atau video.
Pertanyaannya, "apakah semua buku, jurnal itu tuntas dibaca?, atau, apakah semua aplikasi komputer itu dijalankan atau dieksekusi kemudian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari?
Kalau pengalaman saya, tidak.
Hanya sedikit file artikel, buku digital yang benar-benar tuntas dilahap. Memang, ada metode speed reading sehingga beberapa buku bisa "diselesaikan" dengan cepat. Namun, tetap saja jumlah file yang didownload lebih banyak ketimbang kemampuan saya membaca.
File-file yang telah di-download itu biasanya tersusun rapi di folder komputer. Bahkan tidak cukup sampai di situ. File itu juga disimpan di berbagai media penyimpanan seperti hardisk eksternal, flashdik, atau penyimpanan berbasis Cloud, katakanlah Dropbox, Google Drive, 4share, dan Media Share. Entah berapa Tera Byte jumlahnya. Lagi-lagi, biasanya semua file itu hanya tersimpan rapi tanpa disentuh lagi. Dibuang? tentu tidak, karena tetap saja ada keyakinan bahwa suatu ketika akan diakses dan dipahami lagi. Tapi, entah sampai kapan. Selamat Datang di Era Big Data....
Hemat saya, masalah yang dihadapi umat Islam sekarang ini dapat dianalogikan seperti file di komputer. Ajaran Islam adalah Big Data-nya. Ia ibarat ribuan konten yang di-download dari internet. Sangat lengkap, namun bisa jadi hanya tersimpan rapi di "folder" kita. Entah itu dalam dalam bentuk buku keislaman, penuturan lisan secara generation by generation, atau sekedar konsep ideal di pikiran menjadi kajian akademis di
universitas dunia. Bisa jadi, bukan?
Bisa jadi, berbagai masalah yang dihadapi umat adalah dampak dari aktifitas download dan save ini dalam kurun waktu panjang. Sehingga, "hanya sedikit" dari ajaran Islam -hasil download- tadi yang benar-benar dieksekusi atau dijalankan di dunia nyata. Sisanya belum di-open apalagi di-run. Miris sekali, bukan?. Kalau tidak percaya lihat saja, apa yang kita lakukan dengan aktifitas ekonomi, politik, seni, atau sosial kita. Apakah nilai-niai Islam telah benar-benar di laksanakan secara kaffah?
Makanya, judul di atas yang saya pilih. "Islam: Downloaded, Save, But Unexecuted".
Harapannya, Islam tidak hanya dijadikan arsip digital, spiritual, konseptual lagi.
Tentu saja, saya dan Anda selalu memiliki keyakinan bahwa Islam -suatu ketika- sepenuhnya akan dijalankan oleh pemeluknya. Kita berharap "downloaded Islam" bisa di-uncompress, atau di-unzip dalam bentuk aplikasi nyata meskipun kecil.
Sorry, sedari tadi saya selalu menggunakan istilah komputer untuk membuat pemahamannya lebih gaul gitu, mudah-mudahan saya dan Anda tidak lantas menjadi bingung ya..:)
Apa contoh Islam hasil ekstraksi dan proses run tadi?
Banyak sih. Misal, ketika Islam berbicara tentang kasih sayang dan filantropi. Maka, jalankan saja programnya. Bisa saja dengan menyelamatkan dan memberdayakan jutaan umat Islam yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Atau, dengan menciptakan sistem yang mendukung untuk itu. Sistem dalam berzakat, infaq, sedekah atau wakaf, misalnya.
Atau, ketika Islam berbicara tentang larangan untuk menzalimi orang lain. Jalankan saja. Buat sistem yang bisa memastian bahwa semua perlindungan hak-hak manusia terpenuhi. Jangan terlalu banyak argumen.
Atau, ketika kita berbicara mengenai riba, gharar, atau konsumsi halal. Sudahkah kita benar-benar menghindarinya?. Tidakkah kita lebih banyak berkutat pada perdebatan siapa salah dan benar terhadap kondisi ekonomi negeri ini dan bukan pada solusi nyata seperti menghindarkan riba?
Menjadi muslim itu seharusnya membanggakan. Melaksanakan ajaran Islam seharusnya dianggap sebuah kekayaan. Ajarannya komplit. Dari bangun tidur sampai tidur kembali, Islam memiliki panduannya. Dari mulai ajaran tentang Tuhan sampai dengan pengaturan tentang tata cara mengelola alam semesta ini. Islam hadir dengan ajaran yang super-komprehensif. Bisa didekati dari berbagai disiplin ilmu. Bahkan ilmu laduni sekalipun. :)
Kita seharusnya bangga memjadi hamba Allah dan menjalankan perintah-Nya. Kita harus merasa sangat kaya dengan memiliki Alquran yang merupakan rangkuman misteri alam semesta, alam materi dan nonmateri, alam nomena dan fenomena termasuk rahasia kehidupan itu sendiri. Keren, bukan?.
Tapi, jangan-jangan kenikmatan memiliki Islam ini sudah tergantikan dengan kenikmatan materi. Makanya, sebelum kadung kehilangan dan kenikmatan ber-Islam, segera eksekusi saja apa yang kita miliki dan ketahui dari ajaran Islam ini. Janngan hanya di save dan dipamerkan list jumlahnya.
Saya hentikan tulisan ini sampai disini saja. Yang jelas, puasa tinggal 24 hari lagi. Let's stay focus on Ramadhan...:).
Thanks for reading..

0 Comments