Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#5 Seri Ramadhan 2016: Seandainya Ramadhan Tidak Memiliki Idul Fitri?

By: M. Ridwan

Saya tidak sedang bercanda dengan judul di atas. Ya, benar, bagaimana seandainya Ramadhan -misalnya di tahun 2016 ini- tidak diakhiri dengan Idul Fitri?.  Pertanyaan selanjutnya, apakah tanpa lebaran kita tetap akan melaksanakan Ramadhan dengan penuh keikhlasan sepenuh jiwa? Apakah kita tetap bergembira atau malah tersiksa?. Silahkan jawab saja di dalam hati, ya. Soalnya, saya juga bingung menjawabnya.  :)

Pertanyaan ini melintas saja di pikiran saya ketika mengikuti Dialog Ramadhan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINSU.  Tema kemarin siang adalah "Ramadhan Ditinjau Dari Berbagai Aspek". Saya berbesar hati bisa mendampingi Bang H. Azhari Akmal Tarigan -Dekan FEBI- untuk nimbrung sharing, dari aspek ekonominya, kendati sebenarnya ingin menjadi moderator atau notulen saja., sih

Pesertanya adalah para dosen dan staf FEBI yang merupakan tokoh-tokoh muda, enerjik dan saya yakin sangat spiritualis.  Sebut saja, Ustaz Aliyuddin, Ustaz Sugianto, Ustazah Hj. Marliyah, Ustaz Sunarji, Ustaz M. Arif, Ustazah Hj. Yenni Samri, termasuk juga trainer muda nasional Ustaz M. Khairil, MA yag hari itu sedang berada di Medan.  Tentu tidak ketinggalan, Ustaz H. Mhd. Yafiz yang merupakan penanggung utama kegiatan ini.

Bang Akmal, membuka awal diskusi dengan mempertanyakan misi Ramadhan masyarakat kita, dari tahun ke tahun. Menurutnya, ada kesalahan besar ketika orientasi Ramadhan  hanya sebatas menyelesaikan puasa selama 30 hari yang diakhiri dengan seremonial Idul Fitri. Kesalahan pemahaman ini menyebabkan umat hanya mengejar Idul Fitri. Menghitung hari yang telah dilalui dan berapa lagi H-Minus Idul Fitri. Akibatnya pula, Ramadhan -dari tahun ke tahun- tidak memiliki efek nyata. "Terjadi kesalahan pemahaman epistimologis", demikian bahasa yang beliau gunakan.

Bagiku, pernyataan ini menohok langsung ke inti logika.  "Eureka" demikian Archimedes menyebutnya. Memberikan insight mendalam, mencerahkan dan tentu benar adanya. Saya kira, inilah jawaban atas banyak pertanyaan yang kita diajukan selama ini, "Mengapa Ramadhan yang kita lakukan seperti tidak berbekas dalam kehidupan pribadi apalagi sosial kita?".

Saya kira pertanyaan ini benar.
Ramadhan di negeri ini sudah kadung dimaknai sebagai bulan santai dan happy. Tanya saja diri masing-masing. Makanya, saya setuju dengan Ustaz muda ini, bahwa kita memang terlalu  berkutat pada "kenikmatan" final dan melupakan hakikat dari proses Ramadhan itu sendiri. Kita melalaikan betapa berharganya detik per detik ritual ibadah ini .Akibantnya?, karena semata-mata berorientasi akhir, maka yang dikejar ya lebaran dan Idul Fitri itu.  Pakai baju baru, rumah baru kendaraan baru dan pencitraan lainnya. Sehingga tidak heran pula ketika Ramadhan mendatang dan Idul Fitri semakin dekat, maka tingkat harga dan stress masyarakat juga meningkat. Pastilah stress, soalnya yang dikejar adalah output materi, bukan substansi Ramadhan yang immateri itu. Ketaqwaan.

Saya senyum sendiri dengan cubitan ini.
Betul sekali, jika puasa dapat dilaksanakan dengan sepenuh hati dan penuh kualitas, maka moment Idul Fitri sih, tidak perlu ditunggu-tunggu. Ia akan datang sendiri. Itu bonus buat para  sha'imin dan sha'imat yang ikhlas. Kenapa takut lari? Seakan-akan ia akan pergi dan tidak terkejar . Puisi nih.

Memang, dari aspek ekonomi, Ramdhan dan Idul Fitri bisa menjadi stimulus ekonomi lho. Bayangkan sekitar 15-20 trilyun trilyun uang yang dibawa ke desa ketika mudik. Bayangkan berapa peningkatan konsumsi masyarakat dari perputaran uang sedemikian banyak. Betapa banyak pedagang dan masyarakat yang kecipratan rejeki. Logis juga sih. 

Tapi,,,,
Kalau sekedar mengejar stimulus ekonomi, buat apa pakai puasa 30 hari segala? Liburkan saja seluruh karyawan dan PNS suruhlah mereka mudik ke kampung halaman. Beri mereka THR. Saya yakin, peningkatan ekonomi terutama di pedesaan akan tercapai. 

Mudik dan puasa itu berbeda. 
Kita melakukan puasa untuk tuning up dan service diri. membersihkan dan empowering mesin bernama jasad ini yang mungkin sudah karatan selama bertahun-tahun. "Oli"-nya perlu diganti dan kerjanya perlu diistirahatkan. Ruhani kita perlu diberi makan. Selama ini hanya jasad yang kenyang dan kegemukan. Gantian dong...

Tapi, namanya juga manusia. 
Penglihatan kita akan aspek material itu biasanya lebih dominan. Apalagi di jaman ini, dimana sebuah proses itu terkadang sering dianggap tidak penting lagi. Indonesian Style, lho. Indikatornya jelas sih. Misal, warga negeri ini gemar sekali membeli produk luar saja ketimbang memproduksinya. Mungkin karena dianggap repot. Lebih enak jadi konsumen dan target pasar.

Makanya pula, banyak oang yang panik di jaman ini. Banyak yang tidak mau repot-repot. Tidak mau kerja keras. Mau enak-enak tanpa proses kerja keras. Saya kira, banyaknya jumlah koruptor dan pencari uang haram di negeri ini bisa jadi juga karena mau cepat nyaman dan dianggap tajir. Cita-citanya mungkin, pingin menjadi orang kaya dan mati masuk surga. Kalau perlu, kapling surga sekalian dibeli, berapa milyar per meternya akan dibayar. Atau, kalau perlu malaikatnya penjaganya juga disogok. Hehehe....

Ramadhan hari ke#5 ini adalah momentum untuk reorientasi terhadap visi dan misi Ramadhan kita. Apakah kita melakukannya untuk sekedar mengejar Idul Fitri yang bertabur seremonial dan glamour ataukah mengejar sebuah kefitrahan sejati yang prosesnya justru harus bisa dirasakan hari per hari, detik perdetik di bulan ini?

Entahlah. 
Banyak cara memperbaiki Ramadhan tahun ini. Perbanyak amal terutama membaca dan tadabbur Alquran. Iblis sangat takut dengan aktifitas terkait dengan Alquran. Badannya meleleh mendengar seseorang yang membacanya dengan penuh keikhlasan.
Tapi, membaca Alquran juga harus ditingkatkan kualitasnya. Harus ada implementasi ayat ke dalam kehidupan sehari-hari. Harus ada tindakan konkret dari pesan ayat per ayat. Pesan Alquran harus diturunkan ke bumi. Untuk memperbaiki bangsa, negera atau minimal keluarga dan pribadi. Tanpa itu, Ramadhan hanya akan menjadi bulan gaya-gaya semata yaitu bulan konsumerisme akut namun dibalut dengan ibadah artifisial. Tampilannya keren, namun subtansinya entah dimana. Itulah yang dilakukan manusia dari jaman ke jaman. 

Oh ya, iseng-iseng, saya mencoba menanyakan pertanyaan di atas kepada kedua puteriku Aisha dan Raifa, "Nak, bagaimana seandainya hari Raya Idul Fitri nanti tidak ada?. Puasa tanpa hari raya? Bagimana tanggapan kalian?

Tahukah Anda jawaban mereka?
Aisha berkata"  "Ngak enak dong ngak Idul Fitri, Ayah. Kami ngak akan dapat uang THR". Sedangkan, si kecil Raifa menyeletuk dengan mimik lucu, "Ayah, memangnya Lebaran tidak ada? kenapa?. Hehe, mungkinkah level ibadah puasa kita masih seperti bocah-bocah lugu tanpa dosa ini?

Wallahu a'lam. 
Yuk, memperbaharui visi dan aksi Ramadhan kita. Berpuasa layaknya "orang dewasa", bukan "puasa anak-anak". 
Hmmm. ..Tanpa terasa puasa kita tinggal 25 hari lagi ya?....H-25, nih.

.

Post a Comment

0 Comments