Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#4 Seri Ramadhan 2016: The World of Nudity

By: M. Ridwan
Dunia "telanjang" sudah di depan mata. Bersiap-siaplah menghadapinya. Mohon maaf, saya tidak bisa menemukan kata yang lebih cocok selain telanjang. Pinginnya sih menggunakan eufemisme atau "kata-kata yang lebih sopan" seperti "tidak berpakaian", "tampil berani" "polos", atau "ramah kamera", namun nyatanya tetap tidak bisa mewakili maksud tulisan ini.  Makanya, terpaksa deh menggunakan kata aslinya.

Saat ini, jangankan disengaja, tanpa sengaja saja, segala hal berbau "ketelanjangan" itu bisa menghampiri kita terutama berkat "kontribusi" dunia digital. "Telanjang" bagi sebagian orang tidak -terutama para aktifis seni yang katanya kontemporer-  memang tidak serta merta berkaitan dengan pornografi, namun salah satu output dari "keberhasilan" pornografi tentulah "keberanian" manusia untuk tampil "telanjang".  Selebihnya adalah prilaku yang biasanya diistilahkan dengan pornoaksi non kriminal ataukan tindakan seksual bernuansa kriminal yang setiap saat menghiasai dunia ini.
Makanya, saya juga tidak heran jika Ikatan Cendikiawan Muslim (ICMI) Indonesia meminta supaya situs ternama Google dan Youtube itu diblokir saja. Ada dugaan bahwa kedua situs "sengaja" membiarkan fenomena ini.  Demikian yang saya tangkap dari penjelasan Sekjen ICMI Jafar Hafsah kemarin.

Memang, di kedua situs ini ada aplikasi tersendiri yang mampu melakukan penyeleksian pilihan pencarian namanya "safe search" di Google atau aplikasi blokir/ laporkan di Youtube.  Tapi pertanyaannya, berapa banyak sih yang mau mengaktifkannya?

Bro, dunia "telanjang" hampir menjadi produk tak terabaikan di abad modern. Ia hampir menjadi budaya. Tentunya budaya yang salah. Saya kira, dunia bisnis malah memperparah hal ini dengan memanfaatkannya menjadi "komoditas unggulan". Omset per harinya luar biasa. Saking besarnya maka menghitungnya itu pakai satuan detik. Mau tahu berapa jumlahnya?. Menurut Asosiasi Warung Internet Indonesia (AWARI) Ternyata, omset industri pornografi dan turunannya -perdetik- di seluruh dunia berjumlah 3 juta dollar. Itu sama saja dengan 39 milyar lebih. Silahkan dikalikan saja berapa jumlahnya dalam satuan hari, (3 juta dollar x 60x 60 x 24). Itu di tahun 2010 lalu. Pastilah sudah meningkat di tahun-tahun berikutnya. Membuat puyeng atau menggiurkan? Pikiran saya  kok malah tertuju ke beberapa media di negeri ini yang "jualannya' didominasi informasi bernuansa cabul, porno, telanjang dan berita kriminal. Apa namanya medianya ya?.

Kenapa omsetnya bisa sebegitu banyak?
Ya jelas dong, peminatnya banyak, sih. Dalam bahasa ekonomi, demand-ya tinggi. Akibatnya supplier-nya juga tumbuh bagai cendawan di musim dingin. Pada sisi lain, kreatifitas dan inovasi para produsen pornografi juga mengalami perkembangan. Dan, "kesempurnaan" bisnis ini semakin menjadi-jadi dengan bantuan teknologi informasi. Wah, wah. What a crazy world....!!!!

Teror pornografi itu merambah ke semua bidang. Makanya, di tulisan lain di blog ini saya pernah memuat cerita tentang masa depan fashion. Bahwa masa depan pakaian juga sedang terancam. Dunia dengan manusia yang telanjang di sana-sini tinggal menunggu waktu saja. Sudah terbukti kok. Anda setuju? :(

Di tulisan Ramadhan edisi #3 kemarin, dipaparkan tentang 5 titik di diri manusia yang rentan mengalami serangan. Entah itu serangan dari syetan kalangan jin, atau kalangan manusia  Salah satu titik lemah adalah organ seksual atau titik syahwat.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak manusia yang terjerembab dalam kehinaan dikarenakan tidak awas mengendalikan organ ini. Berbagai kasus dan skandal yang melibatkan organ ini menjadi hal yang tak terlepaskan dari dunia ini. Tak jarang kasus yang terjadi memakan korban jiwa dan anak-anak tak berdaya. Tragis dan mengerikan.

Ya, mengerikan. Desakralisasi hasrat syahwati telah terjadi. Masih ingat ketika ada gerakan di Indonesia yang mengusung jargon "Jaman sekarang cewek mempertahankan virginitas alias keperawanan?, Ngak gaul dong". Gawat. Pantesan juga kasus prostitusi menjadi menu harian warga negeri ini. Tak habis-habisnya. Metodenya malah canggih-camggih.

Apakah hasrat seksual dan insting syahwati ini harus dihilangkan?
Tentu tidak. Hasrat ini tetap dibutuhkan untuk melangsungkan keturunan dan juga implementasi kasih sayang. Makanya, istilah yang kita gunakan adalah pengendalian, yaitu sesuai dengan petunjuk dari Pencipta manusia dan pembuat manual book manusia.
Salah satu caranya adalah adanya ikatan pernikahan yang sah. Nafsu seksual yang tak terkendali tidak jauh bedanya dengan prilaku makhluk non manusia, -binatang- maksudnya. By the way, para jin juga menikah lho...

Makanya, Tuhan memberikan bulan Ramadhan datang untuk menyelamatkan manusia.  Membawa manusia ke level taqwa. Salah satu caranya dengan mengendalikan kinerja organ seksual kita. Mensucikannya.

Caranya memang tidak gampang. Diperlukan tekad yang kuat. Mujahadah yang tinggi. Serangannya masuk dari semua sektor. Belum lagi kalau dilihat dari perspektif para pemerhati teori konspirasi. Katanya, ada beberapa kelompok yang berniat jahat untuk mencuci otak manusia terutama anak-anak sehingga kecanduan pornografi. Gerakannya massif, sistematis dan konsisten. Diyakini saja deh, biar lebih bisa mengantisipasinya.

Mampukah kita membendungnya? Mudah-mudahan bisa, walaupun saya tidak bermaksud memberikan rekomendasi radikal untuk langsung "membuang" TV, menutup akses internet, mengganti smartphone dengan hp non internet atau menutup akun FB sekarang juga. Tapi, kalau ada yang melakukan itu, saya salut. Top lah. Minimal di Ramadhan ini. Selamat memasuki hari ke 4..Tak terasa Ramadhan tinggal 26 hari lagi: )

Post a Comment

0 Comments