Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#24 Seri Ramadhan 2016: Ramadhan: Antara Brexit, Piala Eropa dan Ramadexit

By: M. Ridwan 

Minggu ini dunia heboh. Pertama, keputusan Inggeris keluar dari Uni Eropa. Istilahnya adalah Britain Exit atau disingkat Brexit. Kedua, gaalnya tim Inggeris maju ke perempat final, piala Eropa. Sakitnya tuh di sini. :)

Hasrat Brexit ini sudah lama dipendam masyarakat Inggeris, yaitu tahun 1975. Tepatnya,  dua tahun setelah -negeri Ratu Elizabeth ini bergabung ke Uni Eropa, yang didirikan tahun 1973. Memang, hasil referendum kala itu memihak pada penggabungan. Maklum, semangat persaudaraannya tinggi.

Namun, cerita dunia berubah 41 tahun kemudian. Inggeris merasa terbebani dengan saudara-saudaranya sesama Eropa. Mereka merasa tak memiliki kuasa mutlak di tengah keluarga bernama EU ini. "Lebih banyak repot dan susahnya dibandingkan untungnya," demikian yang saya pahami dari alasan warga Inggeris. Wah, sudah tidak tahan lagi menanggung derita, ya?". 

Tapi, memang, kondisi Inggeris sedang megap-megap. Defisit neraca perdagangannya dengan negara Eropa meningkat. Sampai 30 juta Pounds per hari. Padahal, dengan negara non Eropa justru meningkat. 

Inggeris terpaksa juga menanggung beban sebanyak 14 milyar Pounds sebagai kontribusi ke EU. Sementara, kebijakan "pertanian bersama" membuat setiap keluarga harus menanggung 1.200 Pounds setiap tahun, akibat kenaikan harga. Wajar toh mereka exit, bukan?. Belum lagi cerita tentang kekuasaan atas lautan yang menjadi berkurang.

Para ahli berbeda pandangan mengenai Inggeris dan Eropa pasca Brexit. Yang jelas, nilai tukar Pounds langsung drop. Pasar saham di New York bablas sampai 2 trilyun Dollar. Wah wah. Para spekulan bisa saja meraup untung dari kondisi ini. Tapi, tentunya banyak yang loss. Hehe, cari uang pakai komputer. Trading valas namanya. :)

Tapi, jangan pula dikira bahwa kekalahan Inggeris 1-2 melawan Islandia kemarin malam adalah karena "kualat" dengan Eropa..:). Inggeris tak berhasil melewati 16 besar ya. 

Saya kira, kita semua tahu penyebab kegagalan Three Lions ini bukan? Persiapan yang tidak matang, pertahanan yang lemah dan lawan yang bermain apik. Padahal dalam 10 pertandingan tahap kualifikasi, mereka bermain cantik, bukan? 

Piala Eropa itu memang menarik. Ditunggu jutaan manusia di planet ini. Namun, Brexit pasti gak  banyak ngaruh dengan peminat bola. :). Meski, ya tetap saja Inggeris kalah. Jangan bersedih, bro. Kayaknya sih Jerman yang jadi juara. Uppss, bocor nih...

Lalu, Ramadexit itu apa ya?
Hehe, itu bukan nama aktor Bolyywood. Istilah ini gaya gaya saya saja. Singkatan dari Ramadhan Exit. Tidak terkait dengan Brexit, sama sekali.

Ramadexit adalah keputusan seseorang untuk keluar dari Zona Ramadhan atau Uni Sha'imin (US). Ia keluar lebih cepat dari waktunya. Misalnya, hari ke  24 ini. 

Penyebabnya? 
Mungkin karena gak tahan menanggung beban lapar, haus, dan godaan dunia materi yang telah menjadi satu. 
Mungkin juga penyebabnya adalah  deficit neraca di kantong, atau beban konsumsi yang besar. Sehingga,  membuat banyak orang memutuskan untuk Ramadexit. Tarawih hilang, puasa amblas, apalagi Alquran. Yang tersisa mungkin, hanya membayar zakat fitrahnya. Tapi penyebab utma jelas karena tidak asupan gizi untuk ruhani. Akibatnya,  hati menjadi letoy dan malas beribadah, demikian kata ustaz.

Kalau Piala Eropa membuat kejutan dengan kekalahan tragis Inggeris, maka Liga Ramadhan juga biasanya membuat banyak kejutan dengan bertambahnya jumlah manusia yang KO. 

Kalau Inggeris bisa menawan di awal pertandingan, maka bukankah kita juga selalu menawan di awal Ramadhan?. Tapi Inggeris keok bukan?. Dipermalukan tim underdog. 

Mungkinkah kita juga keok di jelang akhir Ramadhan? Dipermalukan "underdog" juga?

Nah, yang biasanya masuk final di akhir Ramadhan adalah orang yang disiplin mengikuti aturan main sejak awal, dan tentunya memiliki keyakinan dan tekad kuat untuk berhasil . Sama seperti, seperti kata pengamat bola, bahwa kemenangan Islandia "menghajar" Inggeris karena mereka memiliki keyakinan yang kuat untuk jadi juara.

Lalu, apa pula beda Brexit dan Ramadexit?

Saya kira terletak pada kemampuan memperhitungkan. 
Inggeris memilih Brexit setelah memperhitungkan masak-masak untung ruginya. Mereka pasti yakin akan lebih menguntungkan untuk masa depan Inggeris. 

Nah, kalau Ramadexit sih tidak perlu hitung-hitung. Soalnya, sudah pasti rugi. Ramadexit itu menukar keabadian surga dan akhirat dengan kesenangan dunia yang kelihatan lebih heboh saja. Pasti rugilah.

Saya kira, disinilah mungkin pesan hadis nabi itu dapat dipahami dengan baik.
"Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan perhitungan, maka akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu."

So, kita bisa belajar banyak dari "kasus" Inggeris. Belajar dari Brexit atau kegagalan skuad-nya, si Three Lions. 
Masih tertarik Ramadexit atau tidak?. Mudah-mudahan, masuk final ya,,Insyallah. Wallahu a'lam



Post a Comment

0 Comments