Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#23 Seri Ramadhan 2016: Lailatul Qadar: Kembali Menjadi "Muallaf"

By: M. Ridwan 

Saya teringat kenangan indah. 
Dulu, di bulan Ramadhan seperti ini, kami sering mendapat undangan acara berbuka puasa di Pesantren An-Naba, Ciputat. Pesantren ini adalah tempat menggembleng para santri yang merupakan kaum muallaf dari seluruh pelosok Indonesia.

Acara ini biasanya diselingi tausiyah dari Ustaz Syamsul Arifin Nababan, pendiri sekaligus pimpinan Pesantren. Sosok beliau berwibawa dan kharismatik. Tegas, sekaligus penyayang. Dia punya pengalaman segudang dalam dakwah dan pemberdayaan kaum muallaf, di dalam dan luar negeri. Beliau dulunya adalah non muslim yang dengan hidayah Allah kemudian memeluk Islam.

Saya selalu menyukai kisah-kisahnya terutama ketika ibunya sangat tertawan dengan keluhuran budi sang anak, meskipun mereka telah berbeda keyakinan.
"Dari sekian anakku, hanya engkau yang sangat berbakti. Menyayangi dan memperhatikanku. Padahal aku sudah menganggapmu bukan lagi sebagai anak. Kamu telah murtad. Tapi, engkau malah merawatku dengan kasih sayang. Pastilah ini semua karena Islam "demikian sang Ibu mengungkapkan perasaannya ketika sang anak merawatnya dengan penuh kasih sayang, di sebuah rumah sakit Jakarta.

Kisah haru biru terjadi ketika sang ibu akhirnya mengucapkan kalimah syahadat. Ini dilakukanya tepat tiga bulan sebelum beliau dipanggil Allah Swt.
"Nak, cepatlah engkau syahadatkan aku sebelum mati. Aku tidak mau nanti doa-doamu tidak sampai kepadaku karena aku bukan muslim", si Ibu mengharap cemas. Ia tidak ingin apa-apa kecuali nanti bersua dengan anak yang disayanginya, di surga, kelak. Subhanallah..

Kami tak pernah bosan mendengar kisah ini. Kisahnya membuat kami meneteskan air mata. Betapa bahagianya sang ibu, wafat dalam kondisi husnul khatimah, sebuah akhir kehidupan yang baik. Ia meninggal dalam keadaan bertauhid dan bersih dari dosa. Betapa indahnya. Semua kita mendambakannya, bukan?. 

Lebih bagus mana? Wafat disebut "mantan muslim" atau "mantan non muslim"? Mantan ustaz atau mantan preman?.

Kenangan saya dengan para muallaf kembali muncul ketika Bang Parman -atau lebih dikenal dengan nama Abu Rahsefa- menggugah status FB-nya. Ia juga seorang muallaf yang dulu pernah mencicipi bangku Fakultas Syariah IAIN SU Medan. Sosoknya juga tegas dan tidak suka bertele-tele, to the point saja.

Di statusnya, ia menceritakan duka para muallaf yang dibinanya. Menurutnya, perhatian terhadap para muallaf ternyata masih minim. Para saudara sesama muslim terlihat memandang sebelah mata. Entah apa sebabnya.

Memang, cerita para muallaf biasanya hampir sama.Mereka disisihkan keluarga, bahkan diintimidasi. Kasihan sekali. Sebuah perjuangan yang berat. Makanya, An-Naba Centre didirikan, termasuk juga lembaga yang dibina abangda Abu Rahsefa ini.

Saya kira, kalau kondisi mereka menimpa diri kita, apakah kita akan setegar mereka? Saya khawatir tidak. Makanya, Bang Parman pantas kita bantu.

Hemat saya. Puasa kali ini harus menjadi momentum kita untuk kembali menjadi "muallaf". Lho? , bukankah kita sudah muslim?

Memang, istilah muallaf sering disandarkan kepada seseorang yang baru masuk Islam. Muallaf artinya "hati yang dilembutkan." Hati mereka dilembutkan sehingga tertarik ke Islam. Hati mereka disentuh Tuhan. Sentuhan ini pernah dialami Muhammad Ali, Irene Handoko dan jutaan muallaf lainnya. Kenapa justru hati mereka yang dilembutkan oleh Allah, bukan teman-teman mereka yang masih enggan bertauhid?

Nah, kalau begitu, yang saya maksudkan dengan "muallaf" disini adalah kondisi hati yang telah dilembutkan Allah. Hati seperti ini yang dimiliki oleh saudara-saudara kita yang baru mengucapkan syahadat.

Hati "muallaf" dulu pernah dimiliki oleh Umar bin Khattab, sosok keras namun tak berkutik di hadapan Alquran. Muallaf-nya Umar berkelanjutan dan memberikan efek luar biasa bagi peradaban Islam.

Hati "muallaf" ini menyebabkan Bilal tidak bergeming ketika disiksa Umayyah. Sama seperti yang dimiliki Asiah, isteri Fir'aun dan para penyihirnya yang tetap tersenyum ketika disiksa sang raja kejam ini.

Hati "muallaf" ini pula yang membuat para sahabat menangis tersedu-sedu ketika dibacakan ayat-ayat Alquran. Hati yang lembut itu bukan cengeng, lho.

Hati yang "muallaf" seperti inilah yang dimiliki muslim periode awal.  Dengan hati  ini mereka menyebarkan Islam. Hati muallaf itu seputih salju dan selembut sutra. Hati yang istiqamah dalam duka bahkan ketika memegang Islam di tengah murka. Saya terinspirasi oleh Jalaluddin Rumi nih. Jadi berpuisi.

Meminjam ungkapan Tuan Syeikh Syabban, hati seperti ini telah mendapatkan "limpahan dari Allah". Atau, mendapatkan "rasa"  kata Ustaz Iqbal.  Hati yang "sesuatu" banget. Kita rindu dengan para pemiliknya.

Saya kira, kita seharusnya kembali menjadi "muallaf" di bulan ini. Jangan sungkan.
Bisa jadi, banyak persoalan yang terjadi di hidup ini adalah karena hati kita yang tidak lagi "muallaf"?. I think so.

Bisa jadi, hati kita telah keras melebihi batu dan tertutup dari hidayah. Hati yang penuh dengki, putus asa, sombong dan penuh noda. Padahal, sejarusnya ia lembut dan memancarkan "air kedamaian", bukan?.

Sebenarnya, saya tidak berani cuap-cuap lebih jauh tentang hati.  Maklum, bukan ahlinya. Silahkan saja berdialog  dan kunjungi FB para pakarnya. Misalnya, Tuan Syekh Syabban Rajagukguk, Ustaz Iqbal, Ustaz Abu Syahrin atau Ustaz Bambang.

Selamat kembali menjadi "muallaf". Kembali mendapat hidayah Allah dan dilembutkan hati ini.  Menjadi penebar kasih-sayang dan kebaikan.
"Muallaf itu harus tegar", demikian harapan kita kepada saudara-saudara kita seiman yang sedang dibina oleh Bang Abu Rahsefa. Dan, "muallaf" seperti kita juga seharusnya "lembut" dan pemurah", menuntun untuk tergerak membantu mereka. Siap menjadi "muallaf" kembali?

Bagi yang yang "berani" untuk donasi kepada Bang Rahsefa. Rekeningnya ada nih. BSM No 006-7051477 an. Parman Siagian. Hp beliau, 081361743308. 
Kalau mau merahasiakan ketika sudah ditransfer, juga oke..(Mau jadi amalan rahasia, Between You and God). :). Pahalanya spesial.

Yuk, berdoa menjadi "muallaf" di malam-malam terakhir ini. Kita doakan saudara-saudara kita seiman untuk terus tegar dan bersabar. Dan tentunya, kita berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan untuk menuntun hati ini sehingga terus lembut menerima kebaikan dan limpahan-Nya. Amin. Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments