Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#22 Seri Ramadhan 2016: Lailatul Qadar: Menjadi Muslim "Over Dosis"

By: M. Ridwan

Apa maksud judul di atas?. Yang jelas, tidak ada hubungannya dengan narkoba atau miras ya..  
Saya maklum, kalau persepsi kita terhadap kata "over dosis" itu pasti terkait dengan narkoba. Sudah kadung membudaya, sih. saya gak habis pikir saja. Siapa kira-kira yang begitu kuat menanggung dosa jariyah dari narkoba di negeri ini...Orang itu pasti luar biasa nekatnya. Menukar duit dengan durasi di neraka yang abadi. 

Tapi begitulah kehidupan. Selalu ada "term of error" atau "variabel penganggu" di dalamnya.  Hidup adalah pilihan, bukan?
Saya kira, kreasi Tuhan terdahsyat tidak lain adalah makhluk bernama "kehidupan" ini. Kehidupan yang terdiri dari beragam dimensi ini adalah sebuah keajaiban. Dan, kita sebagai manusia harus bangga karena diberi kesempatan menjadi bagian di dalamnya.  Kita harus bersyukur karena Allah mempercayakan kita untuk mencicipi "rasanya" kehidupan ini, meskipun mungkin hanya beberapa puluh tahun saja. Setelah itu?. Siap-siap menjalani kehidupan sebenarnya yaitu barzakh dan akhirat. Sehingga, bolehlah kehidupan dunia dimisalkan seperti simulasi, etalase atau magang.
 
Tidak sampai di situ.
Untuk melengkapi penciptaan-Nya, Allah juga mendesain dan merancang beragam sunnatullah yang dipenuhi hukum-hukum alam, hukum sebab-akibat, hukum interkoneksi dan terkadang juga terlihat masih merupakan misteri. 
Allah Maha Besar. Makanya tepatlah Dia disebut Al-Khaliq, Al-Ba'ri  dan Al-Musawwir.

Sebelum menjelaskan maksud judul. Ada pertanyaan, nih. Boleh dijawab, boleh tidak.
Pernahkah Anda mengalami kemacetan luar biasa dimana semua orang saling salip dan membunyikan klakson kendaraan? Saya pernah mengalaminya. 

Atau, pernahkah kita berada di lingkungan kerja yang penuh intrik, benci, temperamental dan saling membesarkan ego kepentingan masing-masing?. Tiada hari tanpa saling menyalahkan, dan mengeluh?  Mudah-mudah saja tidak.

Atau, apa yang kita rasakan ketika melihat kondisi politik negeri ini? Dimana politisi kelihatan sibuk megejar syahwat berkuasa dan menyuburkan sikap  masa bodo? Bagaimana perasaan kita menjadi warga negeri ini? Susah atau happy?. Ada survey-nya tuh. Namanya, Happiness Index. Saya tulis di artikel sebelumnya.

Termasuk juga, apa kata hati kita melihat kondisi ekonomi masyarakat dimana gap antara kaya dan miskin terlihat mencolok. Gini ratio kita meningkat, bukan?. Kesenjangan itu nyata, lho.

Atau, pernahkah kita menghadapi kepanikan ketika tidak memiliki uang sementara orang lain menunjukkan peningkatan income?. Tetangga kita ganti rumah, kendaraan, atau rekan kerja dipromosikan jabatan yang lebih tinggi. Tergodakah kita untuk panik dan memilih jalan salah atau lantas stress dan main dukun?

Saya kira, kita semua memiliki banyak suasana hati di hidup ini. Entah itu perasaan gundah, jengkel, marah dan terkadang putus asa dalam hidup. Bahkan mungkin di bulan Ramadhan, bukan?.

Kalau begitu, tenang saja. Lho?
Artinya, Saya dan Anda memang benar-benar sedang berada di kehidupan yang tepat. Sesuai dengan janji Tuhan yaitu, kehidupan yang penuh cobaan. Iya kan?. Kita mau protes dengan lakon hidup yang diberikan Tuhan? Tapi, kita tidak mau mati sekarang ini, bukan?. Artinya, kita masih cinta kehidupan ini. So, jangan mengeluh.

Makanya, saya kira, yang kita butuhkan adalah sebuah kadar atau dosis tingkat tinggi. Masuk ke judul, nih. 

Muslim over dosis adalah muslim yang memiliki "kadar" spiritual atau ruhani tingkat tinggi. Misal, memiliki kesabaran melebihi kadar rata-rata manusia kebanyakan. 

Bagaimana tidak ?. 
Ketika banyak problematika yang terjadi di sekeliling kita, dan tak satupun yang kelihatan berhasil memberikan jalan keluar, apakah kita lantas berputus asa dan memilih tidak hidup lagi? :) Tentu tidak bukan? 

Kita harus bersabar. Dan, kesabaran yang dimiliki harus melebihi kadar "biasa-biasa". Tidak cukup kesabaran model "itu-itu" saja. Tidak cukup mengusap dada, menangis atau komplain tingkat tinggi. Itu namanya bunuh diri. 

Kita butuh kesabaran lebih dari itu. Yaitu, kesabaran yang disertai dengan tindakan memperbaiki keadaan disertai keridhaan. Memang, mungkin tidak ada orang yang mendukung atau mempublikasi. No problem. Itu namanya kesabaran dengan dosis tinggi. Berani di-"suntik"?

Stress melihat kehidupan yang tidak "ngangkat" atau susah melulu?. Jangan khawatir. Kita membutuhkan kesyukuran dengan dosis tinggi. Kesyukuran itu akan melahirkan keyakinan dan berimbas pada peningkatan ikhtiar. Kita harus memiliki keyakinan tinggi bahwa Allah akan memberikan rejeki. Syaratnya? tentulah kepantasan diri. Harus banyak ilmu dan ibadah.  Kata ustaz, pikir dan  zikirnya harus nyatu, tuh. 
Singkatnya, "muslim over dosis" adalah muslim yang melakukan tindakan spiritual melebihi kadar biasa-biasa. Entah itu, kedermawan, rendah hati, sabar, syukur, kreatifitas, atau kepedulian. Semuanya dilakukan dengan dosis tinggi. Berlebih.

Bayangkan, apa efek kedermawanan dan kreatifitas dosis tinggi jika dilakukan warga negeri ini. Negeri ini akan "ngangkat", bukan?. Masuk akal lah, karena semua orang berlomba memberi dan mencipta. 

Kita yakin, Lailatul Qadar bisa menjadi momen untuk menyerap "energi langit" dan menambah dosis spiritualitas kita. Tapi, syarat dan ketentuan berlaku. Dan, biasanya, kita sangat tidak suka dengan syarat-syarat itu. Berat sih, hehe..
Insyalah, Ramadhan tahun ini akan menjadi spesial bagi kita. Yuk, saksikan dan rasakan efeknya sesudah Ramadhan, apakah harapan kita akan mewujud nyata?. Amin. Wallahu a'lam.

 

Post a Comment

0 Comments