Sebenarnya, saya tidak "tega" membuat judul di atas. Kesannya provokatif gitu. Pemahamannya juga bisa liar. Masak sih, Ramadhan dikaitkan dengan Semangat Individualis?.
Oke-lah. Anggap saja ada kata yang disembunyikan. Dalam Ilmu Nahwu (tata bahasa Arab), kita mengenal istilah dhamir mustatir (kata ganti tersembunyi). Atau kata yang dibuang (mahzub). Maka, anggap saja ada kata yang dibuang (mahzub) atau disembunyikan. Anggap saja judulnya adalah "Ramadhan dan Semangat (Untuk Menghilangkan Sikap) Individualis". Atau "Ramadhan: (Bulan Menghilangkan) Semangat Individualis". Tapi, saya mohon izin tetap menggunakan judul di atas, ya..?:)
Benar gak sih, Ramadhan bisa menghilangkan sikap individualis?
Tanya saja diri masing-masing.
Seharusnya ya iya. Di bulan ini, semangat mendahulukan kepentingan orang lain harus muncul dominan. Seharusnya, kita mulai terbiasa menekan ego pribadi dan mendahulukan kepentingan orang lain. "Sebaik-baik amal adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin", demikian hadis yang sering kita dengar.
Nah, mendahulukan kepentingan orang lain adalah salah satu cara membahagiakan orang. Di Islam itu disebut Itsar. Saya jadi teringat pesan guru, nih, "Dahulukan kepentingan orang lain ya nak". Jangan individualis. Ini pesan guru Pancasila di sekolah dulu. :)
Makanya, di bulan Ramadhan ini kita dianjurkan banyak bersedekah. Tujuannya, untuk menekan ego dan menebarkan kebahagiaan. Kita dianjurkan memberi takjil untuk orang lain. Untuk berbagi rejeki dan rasa.
Dalam kajian ekonomi konvensional, memang disebutkan bahwa manusia yang rasional itu adalah manusia yang bertindak untuk kepentingan dirinya ("self interest"). Sebaliknya, manusia bisa saja dianggap "tidak rasional" jika berbuat untuk kepentingan orang lain. Bersedekah itu bisa saja tidak rasional lho. Soalnya, uangnya menjadi berkurang. Tapi, hal ini ditolak di dalam ekonomi Islam.
Saya yakin kita pernah membaca cerita ini. Tentang 3 orang yang terluka di Perang Yarmuk.
Tiga pejuang muslim itu bernama al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr, saat itu terluka parah. Para pejuang lain mencoba menyelamatkan nyawa mereka dengan memberikan air minum.
Keagungan jiwa terlihat. Saat itu Ikrimah yang awalnya meminta air minum, melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Dan ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, “Berikan air itu kepadanya (al Harits)”.
Namun, belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah
meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut. Subhanallah. Apakah kita akan melakukan hal yang sama dalam kondisi demikian?
Saya kira, kita tidak perlu menunggu kritis di medan perang dulu untuk mempraktikkan hal itu, bukan?
Kita memiliki banyak peluang melakukannya dalam kondisi normal. Terutama di bulan ini.
Mendahulukan kepentingan orang itu berat, bukan?. Apalagi di jaman serba persaingan saat ini. Manusia berpacu dengan ambisi dan kepentingan. Jangankan untuk mendahulukan kepentingan orang lain, bahkan kepentingan keluarga saja bisa terabaikan, benar bukan?
Kalau tidak percaya, lihat saja apa yang terjadi di jalan raya. Saling berebut, tuh? Semua mau cepat sampai, gak sempat mikirin orang lain, ya?
Dulu, di akhir-akhir Ramadhan seperti ini kita selalu mendengar berita orang yang berdesakan berebut sembako dan zakat. Bahkan sampai ada korban jiwa. Apa artinya itu?. Tidak bisa mendahulukan orang lain bukan?
Selft interset itu mungkin sifat alamiah manusia, namun jangan dibiarkan dalam kendali nafsu. Ia harus dijinakkan dengan nilai Islam. Tanpanya, manusia menjadi liar dan akan menjadi pemangsa sesama. Lihat apa yang dilakukan Colombus terhadap penduduk Indian, atau pendatang Eropa terhadap suku Aborigin. Pembersihan Etnis bukan? Sama juga dengan perlakukan Yahudi terhadap Palestina.
Kita tentu tidak ingin, muslim menjadi budak ambisi pribadi. Menyuburkan ke-aku-an dan menghilangkan kepedulian. Mungkin senada dengan sebuah riset yang menyatakan bahwa kata-kata yang paling banyak kita ucapkan adalah "Saya atau Aku". Artinya, kita ini cendrung selfish. Hehe...
Mendahulukan kepentingan orang itu sulit lho. Ia membutuhkan kelapangan hati dan ketinggian ruhani. Makanya, hanya segelintir orang yang mampu melakukannya. Ia memerlukan kesabaran dan kerendahan hati. Allah akan tersenyum kepada orang-orang seperti itu. Seperti Anda semuanya.
Insyallah, besok, kita akan memasuki Ramadhan ke#20.. Yuk, belajar menguasai ego dengan mendahulukan kepentingan orang lain. Wallahu a'lam...

0 Comments