By: M. Ridwan
Judul tulisan ini telah lama ngendap di draft blog saya. Hari ini
baru bisa di-publish kendati berbarengan dengan suasana duka yang
bergelayut di hati keluarga besar UINSU. Terkhusus, bagi Prof. DR. Mohd.
Hatta- Guru Besar UINSU.
Sang isteri tercinta -yang telah
menemani beliau selama puluhan tahun-, telah dipanggil Allah Swt. Orang
sering mengatakan bahwa kepergian pasangan hidup terutama isteri adalah
duka yang sangat menyedihkan. Manusia hebat sekelas Prof. Habibie saja
bahkan sempat linglung menjalani hidup. Itu diakuinya sendiri.
Saya yakin dan berdoa, Prof. Hatta diberikan kesabaran. Semoga
almarhumah diberikan Allah surga dan cinta-Nya. Beliau adalah perempuan
sholehah. Beliau bahkan meminta keikhlasan dari keluarganya untuk
melepaskannya pergi. Orang baik itu dicintai Tuhan. Dan, ini dibuktikan
dengan berjubelnya masyarakat yang mengantarkan jenazah perempuan
sederhana dan murah senyum ini, ke peristirahatannya yang terakhir.
Subhanallah.
Saya jadi teringat dengan peristiwa wafatnya
Khadijah -isteri Nabi-. Momen kesedihan Nabi ditinggal isterinya bahkan
disebut sebagai 'Ammul Huzni. Tahun dukacita. Kenangannya dengan
perempuan sholehah ini begitu mendalam.
Sampai-sampai, Aisyah
pernah cemburu kepada Khadijah. Soalnya, Rasul sering menyebut-menyebut
nama beliau setelah menikah dengan dirinya. Insting perempuannya muncul.
Cemburuan...
Nabi memang memiliki alasan yang kuat. Menurutnya, Khadijah-lah yang berperan besar bagi pondasi Islam di Mekkah. Ia menemani Rasul sebelum Islam dikenal.
Nabi memang memiliki alasan yang kuat. Menurutnya, Khadijah-lah yang berperan besar bagi pondasi Islam di Mekkah. Ia menemani Rasul sebelum Islam dikenal.
Khadijah menghibur sang
suami dalam duka dan tersenyum dalam suka. Dialah manusia pertama yang
masuk Islam. Bahkan sebelum ayah Aisyah -Abu Bakar- memeluk Islam.
Cintanya sedalam lautan dan seluas semesta kepada sang suami. Peran
Khadijah itu luar biasa. Saudagar perempuan nan kaya ini rela
kehilangan seluruh kekayaannya demi penyebaran Islam. Bahkan, ia rela
menjadi jembatan untuk memudahkan langkah suami menyebarkan Islam. Ayo,
siapa perempuan yang berani melakukan itu
Semoga Prof. Hatta dan keluarga dihibur Allah dan diberikan kesabaran yang kuat. Amin.
"Di balik kesuksesan seorang laki-laki, pasti ada perempuan yang luar
biasa dibelakangnya." demikian ungkapan yang sering kita dengar. Saya
yakin akan kebenarannya. Bahkan, bukan hanya untuk kesuksesan dunia.
Perempuan juga memiliki andil yang sangat besar dalam kesuksesan
laki-laki menuju surga.
Tuhan sangat hebat ketika menciptakan
mahkluk bernama perempuan ini. Ide-Nya dahsyat. Banyak misteri yang
belum terungkap terkait perempuan. Alquran memang menyebutkan bahwa
salah satu kekuasaan Allah adalah ketika ia juga menciptakan pasangan
kita. Dahsyatnya penciptaan pasangan, berbarengan penyebutannya dengan
penciptaan Alam semesta nan luas ini.
Secara fisik, makhluk ini
lemah -jika dibandingkan dengan fisik laki-laki. Tapi, jangan ditanya
kemampuannya. Kalau tidak percaya, siapa yang lebih banyak makan sahur
ketika puasa? Laki-laki, bukan? Tapi, siapa yang paling banyak
pekerjaaannya di siang hari Ramadhan?, perempuan bukan? :)
Yang saya tahu, bahwa perempuan memiliki kemampuan multi-tasking yaitu
kemampuan menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan. Berbeda
dengan kebanyakan laki-laki yang pasti "puyeng" dengan ribetnya beragam
pekerjaan. Maklum, laki-laki itu single-tasking. Fokusnya hanya bisa
satu.
Mereka juga makhluk yang memiliki disiplin tinggi dan
bertanggung jawab. Makanya, bank biasanya lebih senang jika nasabahnya
adalah perempuan. Lihat saja kesuksesan M. Yunus ketika mendirikan
Grameen Bank di Bangladesh. Ia mendapat nobel karena bank ini.
Kesuksesannya karena ia berurusan dengan UMK para perempuan.
Nah, terkait Ramadhan.
Kalau kita renungkan secara mendalam, siapa sosok yang paling berjasa dalam misi Ramadhan keluarga kita?
Kalau kita renungkan secara mendalam, siapa sosok yang paling berjasa dalam misi Ramadhan keluarga kita?
Memangnya, siapa yang selalu disiplin mempersiapkan makan sahur di rumah tangga muslim dunia?.
Siapa yang biasanya lebih repot mempersiapkan panganan berbuka puasa termasuk panganan berbuka ketika Idul Fitri nanti?.
Jawaban itu semua adalah kaum perempuan.
Siapa yang biasanya lebih repot mempersiapkan panganan berbuka puasa termasuk panganan berbuka ketika Idul Fitri nanti?.
Jawaban itu semua adalah kaum perempuan.
Makanya, jangan sepele dengan perempuan.
Perempuan suka ngomel dan bawel?
Pernahkah Anda mendengar ungkapan itu?
Pernahkah Anda mendengar ungkapan itu?
Saya pernah tanyakan hal itu kepada beberapa perempuan.
Jawabannya mereka simple.
Tergantung suaminya tuh. Kalau suaminya se-romantis dan se-sholeh
Rasul, kami pasti mau melakukan hal itu. Pasti kami tidak ngomel.
Masalah uang belanja? Itu, sih bisa didialogkan. :)
Ayo, kaum laki-laki, kita buktikan..")
Ayo, kaum laki-laki, kita buktikan..")
Cerita tentang ngomel ini sering dikaitkan dengan Umar bin Khattab.
Konon, seorang sahabat pernah mau curhat ke Umar -khalifah ke-2-. Ia mau
curhat atas tingkah isterinya yang suka sekali "merepet" -bahasa Medan
yang berarti ngomel-. Dengan langkah tegap dan mantap ia mau melaporkan
tingkah si isteri. Harapannya, mungkin Umar bisa memarahi si isteri.
Namun, betapa terkejutnya ia sesampainya di kediaman sang khalifah. Dia
melihat Umar juga menghadapi hal yang sama. Umar sedang tertunduk
pasrah dan terdiam diomelin sang isteri. Sahabat itu heran. "Orang
sehebat Umar kok bisa begitu. Khalifah yang menjadi singa di berbagai
peperangan ini, kok "keok" dengan seorang perempuan?" Mungkin itu yang
ada di dalam pikirannya.
Ketika ditanyakan kepada Umar, apa jawabannya?
"Sahabat, dia adalah perempuan yang sangat berjasa dalam hidupku. Ia melahirkan anak-anakku. Membesarkan mereka dengan kasih sayang. Ia mengurus rumah tanggaku dengan baik. Nah, dengan banyaknya jasa yang dilakukannya, apalah salahnya jika aku mau mendengar sedikit omelan-nya?. Mungkin ia sedang capek, bete atau ada masalah." Umar membela si isteri. Nah, siapa yang "berani" seperti Umar,...?
"Sahabat, dia adalah perempuan yang sangat berjasa dalam hidupku. Ia melahirkan anak-anakku. Membesarkan mereka dengan kasih sayang. Ia mengurus rumah tanggaku dengan baik. Nah, dengan banyaknya jasa yang dilakukannya, apalah salahnya jika aku mau mendengar sedikit omelan-nya?. Mungkin ia sedang capek, bete atau ada masalah." Umar membela si isteri. Nah, siapa yang "berani" seperti Umar,...?
Tentu saja, kisah Umar tidak bisa menjadi justifikasi bagi para isteri
untuk mengomeli suaminya, tanpa alasan yang tepat. Wah, bisa jadi
durhaka juga, lho. Apalagi, kalau alasannya karena misalnya, gaji yang
kecil, THR yang belum turun, kosmetika atau baju lebaran yang belum
dibeli. Itu namanya mengintimidasi para suami. Nanti suaminya tidak
sholat, tidak puasa dan korupsi, gimana?
Yang kita maksudkan
dengan Wonder Women Ramadhan adalah perempuan yang hidupnya
didedikasikan untuk membantu suami dalam perjuangannya membangun
mahligai surga, khususnya di bulan Ramadhan. Keren ya...
Wonder
Women Ramadhan bisa saja sosok perempuan yang secara fisiknya lemah dan
kekurangan ekonomi namun ia memiliki hati yang kuat. Ia kaya ruhani.
Mereka adalah pahlawan di balik khusyuknya seorang suami beribadah di
bulan ini.
Merekalah pejuang yang membela keluarga dari serbuan
materialistis dan hedonis yang melanda banyak keluarga Indonesia.
Merekalah yang senantiasa mengingatkan kita untuk men-tadabburi Alquran
dan mengkhatamkannya. Mereka juga yang siap menerima keluh-kesah dan
nestapa semu yang sering mengikuti Ramadhan kita. Hebat bukan?.
Seharusnya memang begitu.
Saya yakin, bahwa perempuan seperti ini
banyak bertebaran di negeri ini. Kita harus mendoakan supaya jumlahnya
semakin banyak. Masa depan negeri ini tergantung kepada mereka.
Selamat memasuki Ramadhan yang ke-17. Ternyata, keindahan puncak
Ramadhan itu semakin indah dengan keberadaan perempuan-perempuan negeri
ini. Mereka adalah "bidadari surga dari dunia" yang kecantikannya kelak
akan mengalahkan para "bidadari kelahiran surga". Ayo, buktikan sendiri.
Amin.

0 Comments