Ramadhan dan perubahan nasib?. Apaan tuh?. Memangnya, nasib bisa berubah dengan Ramadhan?. Mungkin ada yang bertanya seperti itu. "Apakah, diriku yang miskin dan gagal ini bisa merubah nasib di bulan Ramadhan atau sesudahnya?. Bisakah diriku menjadi kaya raya dan sukses?.
Iya juga ya. Wajar toh, orang berharap seperti itu. Meski, mungkin bagi sebagian orang bahwa pada bulan ini tingkat stress kelihatan meningkat dan tekanan hidup lebih berat. Beragam sebabnya. 1001 alasan membuat kita stress. Mudik dan Lebaran tanpa THR itu tidak menyenangkan, bukan? :)
Saya kira, ekspektasi atau harapan seperti di atas itu "seharusnya" bisa terwujud. Syaratnya ya berdoa kepada Allah, Sang Pemilik Harapan. Doa yang dipanjatkan di bulan ini pasti mustajab. Malaikat yang turun ke bumi itu antri dan berjubel. Tentunya, dengan syarat doa itu disampaikan dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan.
Tinggal lagi, eksekusi dan terwujudnya sebuah harapan itu, mungkin saja tidak serta merta terjadi. Proses bisa saja bertahap, jangka pendek, menengah, panjang atau justru hanya di akhirat kelak. Artinya, ada yang harus di-pending dulu karena teknis per-wujudannya masih terkait dengan sunnatullah dan penyesuaian dengan doa orang lain. Memangnya, manusia yang berdoa hanya kita sendiri di dunia ini?
Atau , terkabulnya doa dalam diwujudkan Allah dalam bentuk lain Ia melihat kemaslahatannya lebih baik bagi si pendoa. Kecuali, memang akses kita dengan Tuhan sudah sedemikian dekatnya. Biasanya ini dimiliki oleh para wali Allah. Kalau ibadah dan puasanya kelas paket hemat dan minimalis, siap-siap untuk antri juga lah.. Hehe. Demikian prihal doa yang kita baca dari buku-buku.
Tapi, namanya manusia, kita selalu ingin yang langsung terwujud bukan? Kita pingin sesuatu yang simsalabim, serba instan. Sekali klik langsung jadi. "Detik ini juga harus terwujud, Tuhan," demikian kata hati kita, meski tidak terucap. Malu-malu tapi mau, sih :). Kadang kita ini aneh juga. Seringnya "memaksa" Tuhan mewujudkan doa seketika, tapi ketika diminta Tuhan melakukan "ini itu" justru harus di-pending dan ditunda dulu. Kita bernego dengan Tuhan. :)
Kalau sudah begitu, maka satu-satunya cara mewujudkan doa ya dengan menjemput perubahan itu sendiri. Kita harus menjadi proaktif dan "memantik"nya dari dalam diri sendiri.
Katakanlah, kita ingin merubah nasib menjadi kaya dan sukses finansial dengan Ramadhan, maka silahkan "pancing" dengan mempraktikan kebiasaan orang-orang kaya terlebih dahulu. Apa misalnya? Misalnya, bersedekah dan terbiasa memakan harta yang halal..
Pingin berubah nasib supaya dicintai oleh orang lain?. Pingin menjadi pemimpin yang dicintai bawahan? Jadikan diri ini sebagai "pemantiknya" terlebih dahulu. Caranya? jadilah sosok yang mencintai makhluk lain dan bawahan. Bahkan, bukan hanya mencintai manusia. Sampai-sampai, kucing dan peliharaan di rumah juga harus merasakan cinta kita di bulan ini. Jangan sampai, "gara-gara" kita berpuasa para binatang-binatang di rumah kita juga berpuasa. :)
Irham man fil ardh, yarhamka man fi sama'. Cintai makhluk di bumi, niscaya kamu akan dicintai penghuni langit. Saya kok, jadi teringat dengan kucing-kucing peliharaan Aisha dan Raifa nih. Mereka menamakan keluarga kucing tanpa ayah itu dengan Tania House. Nama kucing yang keren ya.
Irham man fil ardh, yarhamka man fi sama'. Cintai makhluk di bumi, niscaya kamu akan dicintai penghuni langit. Saya kok, jadi teringat dengan kucing-kucing peliharaan Aisha dan Raifa nih. Mereka menamakan keluarga kucing tanpa ayah itu dengan Tania House. Nama kucing yang keren ya.
Ingin memiliki keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah? Pemantiknya? Mungkin saja dengan mulai menjadi sosok suami atau isteri penyebar rahmah. Kita berupaya menjadi suami isteri idaman, gitu. Atau, dengan mulai mengunjungi keluarga keluarga harmonis yang kita kenal. Kita belajar dari mereka.
Pendek cerita. Ramadhan ini memang bisa merubah nasib. Dan, awal perubahan itu pasti dimulai dari dalam diri kita sendiri. Perubahan awal ini yang akan menjadi bola salju perubahan dalam skala besar.
Tanpa upaya itu, maka niscya Ramadhan kita tidak akan bisa menjadi bulan perubah nasib. Bahkan, kalau momen Ramadhan disikapi dengan salah, justru perubahan nasib tragis yang akna terjadi. Misal, membengkaknya hutang pasca lebaran. Nunggak kredit nih ceritanya.
Selamat memasuki zona kedua pendakian. "Udara" segar puncak mungkin sudah tercium, namun jangan tergoda untuk melirik ke bawah apalagi membangun tenda nyaman di fase ini. Insyallah..

0 Comments