Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#15 Seri Ramadhan 2016: Mewaspadai Hati Yang Letoy

By: M. Ridwan

Medio Ramadhan sudah datang. Kita telah menempuh setengah pendakian ke puncak Ramadhan. Itupun untuk tahun ini saja. Jika ditambahkan dengan Ramadhan tahun lalu dan insyallah, tahun-tahun depan, mungkin saja posisi kita msh tetap di lereng bukit, belum sampai di tengah apalagi puncak pendakian.

Lalu, apa indikator bahwa Ramadhan kita sudah on the track? Sudah tepat jalur dan teknis?

Gimana ya, pertanyaan ini sulit. Yang jelas, hanya Allah-lah yang berhak untuk menilai keseluruhan puasa kita. It's a big secret.

Tapi, indikator subjektif mungkin bisa kita rasakan. Apa itu? Tanyakan saja hati kita masing-masing. Apa yang ada di dalamnya pada tanggal 20 ini? Apakah rasa tenang sudah berhasil mengalahkan resah dan gelisah? Menjelang Lebaran dan mudik, bukan?

Apakah sabar berhasil mengalahkan amarah? Dan, syukur mengalahkan serakah?

Atau apakah giving mengalahkan buying? Kedermawaan mengalahkan kekikiran? Wallahu a'lam. Hanya kita yang tahu jawabannya.

Jangan sampai hati kita justru menjadi letoy -lemah dalam bahasa Medan- di tahapan ini. Atau, kita sudah asyik berfoto ria karena mulai melihat pemandangan indah di tengah pegunungan?

Ternyata, hati yang letoy itu lebih berbahaya dari fisik yang letoy. Banyak orang yang berbadan tegap dan tegar ternyata memiliki hati yang letoy. Cengeng dan penakut. Sebaliknya, sejarah mencatat orang-orang berhati kuat dan memiliki keterbatasan fisik mampu menunjukkan keperkasaan mengalahkan si letoy.

Lalu, hati letoy seperti apa yang saya maksudkan?

Tentu saja, lemah dalam i'tikad dan semangat, terutama dalam melakukan kebaikan dan mencegah kemunkaran.

Dalam kasus Warteg Ramadhan, misalnya. Siapa yang paling kuat semangatnya mengecam penertiban? Dan, siapa pula yang mendukung aktifitas warung yang membuka layanannya itu?

Siapa di bulan ini yang sudah terbiasa tidak tidur dan menggantinya dengan membaca Alquran dan ibadah lain?. Semakin hari, semakin letoy-kah?

Ramadhan harus melahirkan kekuatan. Dan, itu dimulai dari kuatnya hati. Kuatnya hati-lah yang memenangkan kaum muslimin di perang Badar, menghdapi pasukan musuh dengan jumlah 3 kali lipat dari mereka, meski mereka sedang berpuasa. Sama seperti tentara Thalut yang memenangkan perang dengan Jalut -Sang Goliat-.

Saya yakin kita akan berhasil melewati tahap ini. Meski kekurangan amunisi dan didera kelelahan fisik. Insyallah...

Post a Comment

0 Comments