Kita tinggalkan cerita tentang Uttaran. Di tulisan kali ini kita membahas sebuah topik tentang amal dan dosa. Tapi, saya kira ada kaitannya juga dengan cerita Uttaran pada tulisan yang lalu.
Saya punya sebuah pertanyaan. Bukan ujian ya..Pertanyaanpun gak serius sih, tapi boleh juga dipikirkan.
Begini, kira-kira, apa penjelasan yang masuk akal mengapa Allah memberikan ganjaran surga dengan waktu yang begitu lama atau kekal?. Tidak cukupkh Allah hanya membatasi izin tinggal kita di surga sebatas usia di dunia saja?. Misalnya, seseorang yang meninggal pada usia 80 tahun, katakanlah, selama hidupnya ia terus melakukan kebaikan. Maka untuknya diberikan izin tinggal di surga selama 80 tahun saja. Atau, bolehlah 100 tahun dimana ia mendapat bonus 20 tahun lagi.
Atau, apa penjelasan cukup rasional memgapa Allah memberikan ganjaran neraka begitu lama?. Tidakkah "cukup" hanya sebatas usia di dunia saja? Mengapa siksaannya abadi?
Saya kira, penjelasan yang mungkin masuk akal mungkin terletak pada sustainability amal atau keberlanjutan efek perbuatan yang dilakukan. Dalam Islam disebut dengan amal jariyah yaitu perbuatan yang memberikan efek berlanjut kendati si pemilik amal telah meninggal. Perbuatannya memberikan kontribusi bagi manusia lain. Sehingga, meskipun ia telah meninggal, orang lain tetap merasakan "kebaikan" dan "kontribusinya" untuk memicu kebaikan orang lain. Bisa juga kita sebut multiplier effects of amal. Efek berantai dari sebuah perbuatan.
Makanya, Nabi menyatakan bahwa ada 3 jenis amal yang terus abadi, yaitu 1. Sedekah yang mengalir, misal wakaf, 2. Ilmu yang bermanfaat dan terus digunakan serta menjadi insiprasi atas munculnya kebaikan yang lain, dan 3. Doa anak sholeh terhadap orang tuanya.
Hemat saya, orang yang melakukan forward tausiyah di medsos dapat kita kategorikan sedang mengejar amal jariyah tuh....Amal yang mengalir layak dikejar. Abadi.
Kalau begitu, "wajar" bila seorang pelaku kebaikan mendapat surga dengan durasi waktu melebihi masa tinggalnya di dunia, bukan?. Kebaikan yang terus berganda ini-lah yang menjadi alasan kehidupan surganya juga berganda. Tentunya dengan adanya Rahmat Allah juga.
Begitu juga dengan neraka.
Saya kira, sebuah dosa yang memberikan efek berganda juga "layak" atas siksaan berganda di neraka. Saya menyebutnya "dosa jariyah". Dosa yang mengalir terus ke dalam pundi seorang manusia kendati ia telah terputus dengan kehidupan. Saya kira wajar-lah, soalnya orang lain mendapatkan multiplier effects dari dosa yang dibuatnya. Orang menjadi terobsesi dan terinspirasi, gitu. Ia menciptakan rantai dosa yang tak berkesudahan. Mungkin tak ia sadari.
Tapi, penjelasan saya di atas hanya sebuah hipotesis ya. Sekedar untuk mendekatkan pemahaman saja dan sebuah pesan bahwa kita memang harus sangat berhati-hati dengan amal perbuatan semasa hidup. Jangan-jangan ia menjadi dosa jariyah, gitu. Bahaya...
Oh, ya, saya pernah mendiskusikan hal ini dengan kru sebuah stasiun TV swasta yang cukup terkenal di Jakarta. Dan, saya sangat terkejut ketika mereka dengan terus terang mengatakan layak disebut melakukan dosa jariyah. Tentunya dari tayangan yang mereka produksi. Namun, mereka jujur mengakui bahwa hati mereka sebenarnya menolak meski mereka-lah yang memproduksi dan menayangkannya.
Menurut mereka, banyak tayangan yang memang tidak sesuai dengan hati nurani dan nilai keislaman yang diyakini. Entah itu karena mengeksploitasi aurat, menyuburkan hedonisme, takhyul, syirik termasuk juga menjadi ajang gosip. Namun, dikarenakan tuntutan pekerjaan menyebabkan mereka "terpaksa" melakukan itu. Sampai-sampai ada seorang kru menceritakan bahwa ia terlebih dahulu menelpon anaknya di rumah supaya jangan menonton acara yang ia produksi. Ia takut anaknya terkontaminasi. Bayangkan tuh..Saya tidak tahu acara apa yang ia maksud dan bagaimana keberlangsungan acara itu saat ini.
Wah, saya kira para kru TV itu harus melakukan "jihad" keras untuk memilih pekerjaan. Kita mendoakan mereka mendapatkan hidayah dan terketuk hatinya. Ini persoalan serius, bukan?. Menentukan masa depan akhirat kita, adalah hal paling serius yang harus dilakukan.
Makanya, saya jadi teringat dengan sinetron Uttaran lagi, nih. Salah siapa ya kalau si penonton akhirnya menunda sholat atau tidak sholat karena tayangan itu?. Dosa jariyah, toh?
Dalam kehidupan ini kita memang layak untuk intropeksi.
Jangan-jangan, foto-foto di media sosial yang kita unggah mengundang kejahatan dan dosa para viewer dan follower kita.
Atau, jangan-jangan, kata-kata dan perbuatan kita di dunia nyata juga berpotensi melahirkan dosa jariyah. Membuat orang bertengkar, stress dan terintimidasi, misalnya.
Belum lagi dari efek perbuatan dan dosa yang disengaja. Dosa sosial namanya.
Misal, jangan-jangan, banyaknya kejahatan di negeri ini terjadi karena efek dari dosa jariyah bernama korupsi itu?.
Logikanya, negara tidak bisa menjamin keamanan, dan kesejahteraan masyarakatnya karena uangnya ternyata habis di-tilep pelaku korupsi. Berarti, pelakunya melakukan dosa jariyah, tuh. Membersihkan dosa jaiyah ini sulit, gak cukup dengan sekedar tobat, sedekah, membangun mesjid atau menghajikan orang. Dia harus minta maaf ke banyak orang. Gawat, bukan?.
Mudah-mudahan, Ramadhan ini memberikan kemampuan kepada kita untuk lebih peka dan memiliki sistem peringatan dini atas dosa-dosa jariyah ini. Mematikannya sejak dini, bersama-sama. Amin.
Have A Peace Ramadhan...God Blesses Us...

0 Comments