Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#11 Seri Ramadhan 2016: Ramadhan Paket Hemat Vs Paket Jumbo?

By: M. Ridwan

Ramadhan paket hemat itu istilah yang saya buat sendiri, ya. Maksudnya, hemat dalam beribadah. :). Ramadhan minimalis. Misalnya, hanya sholat dengan kuantitas dan kualitas apa adanya. Atau, membaca Alquran sekian baris saja. Atau, bersedekah dari "sisa-sia" uang di kantong saja. Atau, hanya mencukupkan dengan menahan marah saja.

Lawannya adalah Ramadhan Paket Jumbo dimana semua menu Ramadhan "dibeli". Semua menu yang disediakan dilahap habis, tanpa sisa. Ada menu sedekah ya dimaksimalkan. Jumlahnya mungkin  jutaan atau ratusan juta perbulan. Ada menu membaca Alquran, disikat habis. Minimal 5-10 kali khatam tiap Ramadhan. Ada menu pengendalian emosi, dimaksimalkan. Tidak ada hari tanpa kesabaran, kelembutan dan keikhlasan. 
Ramadhan paket hemat adalah Ramadhan yang diisi dengan ibadah yang ringan, rutinitas dan sekedarnya saja. Tidak punya obsesi dan aksi lebih yang disengaja. Saya menyebutnya juga  dengan Ramadhan by accident not by design, karena kebetulan Ia datang, ya disambut. Sehingga,kalau ia pergi-pun ya tidak perlu ditangisi. Paling-paling ada air mata sedikit ketika Idul Fitri datang, karena ada keharuan kolektif teringat kenangan kebersamaan dengan keluarga yang satu-persatu telah pergi. Namun setelah itu?, Ya, mungkin happy -happy lagi. Apakah seperti itu?  

Tapi, jangan khawatir. Pertanyaan di atas bukan untuk Anda. Itu adalah bahan intropeksi diri saya sendiri.  Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengukur Ramadhan orang lain. Itu namanya sok hebat. Lagipula. Kita memiliki hati dan niat yang berbeda-beda, bukan?. Saya hanya berdoa bahwa Ramadhan yang Anda lakukan adalah Ramadhan Paket Jumbo alias maksimal. Ajarin caranya ya...")

Puasa Ramadhan itu sebenarnya bulan "berat".  
Bahkan, untuk sosok sesempurna Rasul saja, Ia melakukannya dengan maksimal dan paripurna,melebihi kadar ibadah pada bulan lainnya.  Bayangkan betapa maksimalnya. Wong, di bulan lain saja ia sedikit tidur dan makan, konon pula di bulan ini. Namun, sebagaimana yang saya tulis sebelumnya, manusia selalu memiliki pilihan untuk menentukan seperti apa hidupnya termasuk juga Ramadhan yang dilakukannya termasuk juga kehidupan akhirat bagaimana yang menjadi obsesinya.

Akan tetapi, dalam pandangan awam saya, Pelaksanaan Ramadhan model kini beda ya. 
Kini, pernak-pernik Ramadhan semakin banyak. Terutama pada aspek tradisi-nya. Saya membedakan antara Ramadhan Tradisi dan Ramadhan Hakiki. Ramadhan Hakiki adalah Ramadhan yang dilakukan dengan memaksimalkan kinerja spiritual organ-organ fisik dan hati. Misalnya, ketika mata, telinga, mulut, dan bagian tubuhnya lainnya didedikasikan untuk melakukan imsak. Fisik dikontrol oleh hati.

Sedangkan Ramadhan Tradisi adalah adalah model pelaksanaan ramadhan yang hanya bersentuhan dengan budaya atau adat kebiasaan. Ramadhan tradisi bisa saja berubah-ubah tergantung perubahan jaman dan waktu,  tapi tidak dengan Ramadhan Hakiki. Wah, wah...dalam ya...

Ramadhan tradisi boleh saja. Apalagi untuk syiar. Dengannya, kita mau menunjukkan, "Ini lho Ramadhan itu. Ini lho bulan latihan dan pencucian jiwa itu. Ini lho Islam yang memliki ajaran lengkap dan paripurna itu." Bla bla. Syukur-syukur, banyak yang tertarik untuk mengikuti jalan Islam. 

Tapi, Ramadhan Tradisi saja tidak cukup. Jalannya tidak berhenti sampai di situ. Harus ada terminal-terminal spiritual yang dilalui. Tanpa itu, kita ibarat orang mau mudik namun hanya menunggu di terminal bis namun bis nya tidak jalan-jalan. Lho, sampai kapan sampainya? Jangan-jangan malah ikut kendaraan laian dengan rute berbeda pula.

Saya tetap berhusnun zan bahwa nilai-nilai spiritualitas itu mungkin tetap terjaga ketika seorang sha'imin mengunjungi supermarket, misalnya. Mungkin, ia itu tetap memiliki kualitas puasa yang maksimal di waktu yang sama ia juga sibuk mengejar THR. Who knows? Jangan sepele !
  
Atau, terbuka peluang besar, ketika para ibu-ibu  sibuk mempersiapkan kue lebaran dan pernak-pernik penyambutannya di satu sisi, sekaligus ia juga mampu melakukan puasa hakikat dalam porsi yang sama. Bisa saja bukan?

Tapi, bagi sebagian orang, memadukan kedua aktifitas itu sulit. Selalu saja ada yang harus dikorbankan. Kita harus memilih. 

Jika kita memaksimalkan Ramadhan ala tradisi maka bersiaplah mendapatkan hasil minimal di puasa hakiki. Sebaliknya, jika kita memaksimalkan puasa hakiki, maka puasa model tradisi pastilah te-reduksi alias berkurang. Pilih yang mana?

Makanya, si Bapak seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, lebih suka memilih puasa hakiki. Baginya, biarlah tradisi ramadhan dari tahun ke tahun itu ia tinggalkan.Biarlah ia di cap orang sedikit aneh karena seperti tidak peduli dengan lebaran. Di saat orang berduyun-duyun ke mall dan pusat perbelanjaan, namun ia memilih enjoy menikmati Ramadhan. Yang jelas, bapak ini telah menjatuhkan pilihannya. Lalu bagaimana kita?

 Sudahlah, bro. Selamat memasuki hari ke-11. Silahkan pilih saja, mau Paket hemat atau Jumbo?
Mudah-mudahan, puasa kita semakin membaik adanya. Amin.  

Post a Comment

0 Comments