By: M. Ridwan
Saya tidak mengetahui siapa yang pertama kali mencetuskan pembagian ini. Katanya, pelaksanaan 30 hari Ramadhan di Indonesia dapat dibagi ke dalam 3 tahapan. Sepuluh hari pertama ditandai dengan membludaknya jamaah di mesjid atau mushalla. Mesjid dan mushalla terlihat menjadi sempit menampung jamaah yang antusias melaksanakan qiyamul lail seperti tarawih, tadarus A-quran maupun sekedar iktikaf. Adapun, sepuluh hari kedua -masih katanya- ditandai dengan membludaknya masyarakat ke mall atau pusat-pusat perbelanjaan. Lagi ngapain? apalagi kalau bukan untuk berbelanja segala kebutuhan hari raya nanti. Sedangkan sepuluh hari ketiga, ditandai dengan membludaknya terminal dan bandara dikarenakan membludaknya para peserta mudik yang akan menuju kampung halamannya. Anda pernah mendengar pembagian ini juga, bukan?.
Makanya, saya membuat judul di atas. Ramadhan 2015: Misi yang Tak Pernah Diselesaikan?
Makanya, saya membuat judul di atas. Ramadhan 2015: Misi yang Tak Pernah Diselesaikan?
Lucunya, saya juga tidak pernah mendengar ada bantahan, protes atau demonstrasi atas klaim tahapan di atas. Saya juga tidak pernah mendengar atau melihat kebalikan dari kondisi itu. Misalnya, 10 hari pertama ditandai dengan membludaknya mesjid dan mushalla. Sepuluh hari kedua, mesjidnya bertambah membludak dan sepuluh hari ketiga semakin tak tertampung. Atau, tunjukkan kepada kita mana mesjid atau wilayah yang pelaksanaan Ramdhannya penuh dengan keseriusan dari hari pertama sampai hari ke tiga puluh?. Maksudnya, untuk wisata spiritual, lho, untuk benchmarking, mau kita jadikan percontohan dan mempelajari kiat-kiatnya.
Nah, jika tidak ada bantahan atau protes, artinya, kondisi ini bisa dikatakan benar adanya. Artinya pula, warga negeri ini memang tidak pernah berhasil menuntaskan pelaksanaan Ramadhan. Alias, kesan pertama begitu menggoda, kesan terakhir siapa sangka?:) Atau, jangan-jangan, fenomena ini bukan hanya dialami Indonesia, namun juga dunia?
Tunggu dulu.
Saya dengar, beberapa kota di Timur Tengah justru menunjukkan kondisi berbeda. Dari informasi yang kita terima, sebagian besar masyarakat di sana justru semakin membanjiri mesjid menjelang akhir Ramadhan. Mereka mengejar deadline Lailatul Qadr atau moment perpisahan dengan Ramadhan. Sholat dan iktikaf-nya diperbanyak. Membaca Al-qurannya di tingkatkan. Menariknya, ini dilakukan secara masif, turun-temurun, dari satu generasi ke generasi lainnya. Apa disana tidak ada mall dan tv ya? Bagi siapa yang sering melaksanakan Ramadhan di Timur Tengah?. Benar ngak info ini?
Tentu, kita tidak bisa serta merta menilai keberhasilan ibadah seseorang di bulan Ramadhan dari sekedar "penampakan" puasanya saja, bukan?. Puasa itu amalan rahasia. Hanya Allah dan dirinya yang tahu, termasuk kalau dia pura-pura berpuasa :)
So, jangan coba-coba menilai ibadah puasa seseorang dan menentukan kadar ketaqwaannya. Itu namanya takabbur dan mungkin riya. Sok hebat, gitu. Jangan-jangan, orang yang kita anggap tidak serius di bulan Ramadhan justru melakukan ibadah full dimalam harinya. Jangan-jangan dia berinfaq puluhan juta dan menyantuni fakir miskin dan orang tertindas. Jangan-jangan dia beristighfar sangat banyak melebihi kita dan smartphonenya digunakan untuk jalan kebaikan. So, jangan underestimate dengan ibadah orang lain ya..:)
Atau, mungkin saja, pembagian 3 tahapan per 10 hari di atas, hanya diperuntukkan bagi segelintir masyarakat Indonesia saja. Katakanlah 10-15% dari penduduk negeri ini saja. Sisanya yang 85-90% menjalankan puasa dengan SOP ala Rasul dan sahabat. Saya berdoa, hal ini yang terjadi. Amin.
Sehingga, bisa jadi, ibadah Ramadhan yang dilakukan jutaan kaum muslimin di Indonesia ini justru mendapat nilai A plus dari Allah alias diganjar langsung dari Allah. Bisa jadi, karena banyaknya godaan yang dialami para shaimin dan shaimat negeri ini, pahalanya juga menjadi tebal dan maksimal.
Atau, mungkin saja, pembagian 3 tahapan per 10 hari di atas, hanya diperuntukkan bagi segelintir masyarakat Indonesia saja. Katakanlah 10-15% dari penduduk negeri ini saja. Sisanya yang 85-90% menjalankan puasa dengan SOP ala Rasul dan sahabat. Saya berdoa, hal ini yang terjadi. Amin.
Sehingga, bisa jadi, ibadah Ramadhan yang dilakukan jutaan kaum muslimin di Indonesia ini justru mendapat nilai A plus dari Allah alias diganjar langsung dari Allah. Bisa jadi, karena banyaknya godaan yang dialami para shaimin dan shaimat negeri ini, pahalanya juga menjadi tebal dan maksimal.
Bro, menjalankan ibadah di tengah jaman kini itu memang berat sekali. Godaannya buanyakkk. Baik dari sisi internal maupun eksternal. Terutama godaan dari makhluk bernama
si Hawa itu, hawa nafsu maksud-nya :). Entah itu, nafsu untuk bergosip
ria, hawa berbelanja, hawa cuci mata, hawa ketawa-ketiwi dan hawa
berduka karena karena tidak dapat THR dan tunjangan lebaran atau Hawa beneran. Hehe.
Belum lagi "hawa" dari tayangan media elektronik atau cetak termasuk juga media baru bernama medsos ini. Semuanya menggoda, mempesona dan -dalam konteks Ramadhan- sangat melenakan. Seperti puisi, ya :)
Belum lagi "hawa" dari tayangan media elektronik atau cetak termasuk juga media baru bernama medsos ini. Semuanya menggoda, mempesona dan -dalam konteks Ramadhan- sangat melenakan. Seperti puisi, ya :)
Dikarenakan menjalankan Ramadhan di era kini itu berat. Makanya. berbagai terma terkait Ramadhan biasanya dipoles dengan istilah yang terkesan ringan, santai atau easy going. Ramadhan dimaknai sebagai kegiatan enjoy, happy dan sekedar "no food or drink". Sehingga, tidak memberatkan. Apakah hal itu salah? Lalu, kalau Ramadhan dalam konteks happy-happy, ceria dan enjoy-enjoy itu salah, Ramadhan yang "berat" itu seperti apa?
Hehe..
Saya kira, pelaksanaan Ramadhan itu bisa saja dilakukan dengan dengan penuh keceriaan alias happy-happy tadi. Dan, bisa saja dilakukan dengan berat dan serius. Silahkan pilih saja. Tapi, tentunya ganjarannya juga berbeda. Madak sih penumpang eksekutif yang membayar lebih mahal harus duduk di bangku kelas ekonomi? :)
Adapun yang menjadi konsen kita tentu, apakah Ramadhan yang akan kita lalui di tahun 2016 ini berdampak untuk 11 bulan ke depan?. Bahasanya kerennya, apakah ia memiliki multiplier effect bagi Indonesia yang lebih baik. Lebih makmur, sejahtera, santun dan beradab.
Saya tidak mengada-ada, bahwa apa yang kita lihat, rasakan dan dapatkan di tahun 2016 ini, di negeri ini, adalah buah dari Ramadhan kita di tahun 2015 lalu. Logis, bukan?
Saya tidak mengada-ada, bahwa apa yang kita lihat, rasakan dan dapatkan di tahun 2016 ini, di negeri ini, adalah buah dari Ramadhan kita di tahun 2015 lalu. Logis, bukan?
Sehingga, untuk mendesain Indonesia yang mungkin lebih baik dari sekarang, minimal 11 bulan ke depan, maka cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan kualitas Ramadhan kita di tahun ini saja dulu. Seperti nasehat para ustaz. "Tingkatkan kualitas Ramadhan pada level individual dahulu, lalu merembet ke internal keluarga dan mudah-mudahan, berdampak sosial". Saya garis bawahi, berdampak sosial, ya, bukan ber-jejaring sosial atau bermedia sosial seperti si hawa tadi, Hehe. Lebih masuk akal, bukan?
Selamat melaksanakan Ramadhan. Mohon maaf atas kesalahan. Mudah-mudahan judul tulisan saya salah. Sehingga, Ramadhan kali ini insyallah bisa kita tuntaskan dengan baik. Kita menuntaskan puasa syariat dan hakikatnya secara lengkap, Kita tuntaskan puasa fisik dengan menahan lapar dan haus dan melakukan pengisian ruhani sisi lainnya. Easy talk ya,,,?
Taqabballhu minna wa minkum. Shiyamana qa shiyamakum. Amin
Taqabballhu minna wa minkum. Shiyamana qa shiyamakum. Amin

0 Comments