Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#2 Seri Ramadhan 2016: Beware of The Attack..!!!


By: M. Ridwan

“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian Aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. (Al-A'raf 16-17)

Perjalanan kita menuju Tuhan seharusnya menyenangkan. Bahkan, kendati ada aral melintang dan cobaan kehidupan, perjalanan kita inipun seharusnya tetap membuat happy, enjoy dan membahagiakan. Analoginya, mungkin seperti kita mendapatkan sebuah voucher wisata dari Presiden. Voucher itu berisikan misi menikmati dan menaklukkan puncak Himalaya. Menyenangkan dan menantang, bukan? Tentu saja. Tidak semua orang bisa mendapatkan peluang ini. Puncak gunung dengan salju abadi dan indah ini layak diperjuangkan. Sensasinya, gimana gitu.

Mungkin, setelah nanti berada di puncak, kita bisa selfie dan menggugah foto perjalanan di FB atau Instagram. Keren, bukan? Kita pasti bangga mendapatkan kesempatan ini karena rekan-rekan kita yang lain mungkin tidak mendapatkannya. 

Namun, sesampainya di sana, apa yang kita hadapi?. Ternyata, di hadapan kita menghadang cuaca dingin tak bersahabat. Jalur pendakian sangat mengerikan dan maut setiap saat menanti. Banyak sekali korban yang telah jatuh. Menghadapi kondisi ini, kita pasti akan terus “memaksa dan memotivasi” diri bahwa ini adalah perjalanan yang menyenangkan. Tantangan itu mengasyikkan. Kita melakukan affirmasi kepada diri ini bahwa misi harus dituntaskan dan harus berhasil sampai ke negeri asal kita, Indonesia.

Nah, masalah yang membuat perjalanan kita menjadi menyulitkan biasanya terkait teknis dan rute perjalanan. Mungkin, tidak ada orang yang memberitahukan rute terdekat dan ter-aman. Atau, kita tidak memperdulikan rambu-rambu pendakian. Kita sok jagoan, gitu. Merasa pintar dengan otak kita.

Jika demikian kondisinya maka tentu saja perjalanan kita menaklukkan Himalaya akan sangat menyiksa, menakutkan dan pasti akan membuat kita benar-benar tergelincir ke jurang yang dalam. Pasti kita tak akan pernah berhasil kembali ke negeri asal.  Apa mau dikata, bukan kesenangan dan kenikmatan yang diperoleh, namun justru kekecewaan, kesedihan dan ketidakmampuan untuk kembali ke Indonesia dalam keadaan bahagia.

Begitulah kondisi kita di dunia ini. Rutenya sudah jelas yakni menuju akhirat. Guide perjalanan sudah lengkap ada yaitu Alquran dan Hadis. Pengalaman para pejalan menapaki rute dunia juga sudah kita ketahui. Termasuk juga para pendaki yang gagal dan jatuh ke jurang. Masalahnya, jalur apa yang kita pilih dan petunjuk mana yang diikuti. Apakah kita akan berlaku sok jago dan sok tahu sehingga justru tersesat dan jatuh ke jurang? Wallahu ‘alam.

Namun, ada satu hal lain yang menyebabkan perjalanan kita menuju Tuhan terhambat. Apa itu? tidak lain adanya makhluk pengganggu yang dengan sigap akan menggelincirkan kita dari rute yang benar.  Itulah Iblis dengan para setan pengikutmya.

Ayat di atas adalah “ancaman” Iblis kepada Allah. Lho, kok berani sekali ya?
Ia sesumbar dan bertekad tidak akan membiarkan manusia berada pada rute yang benar (shiratal mustaqim). Ia tidak rela manusia membaca manual book pendakian. Dendamnya membuncah sampai ke ubun-ubun. Dia tidak rela menusia merasakan nikmatnya perjalanan mendekat Allah. Baginya, manusia adalah batu sandungan dan penyebab dirinya dicampakkan dari surga.  

Apa target utama Iblis? Jawabannya ditemukan pula dalam ayat di atas yaitu supaya manusia tidak bersyukur. Kata “aksarahum” bermakna “sebagian besar dari mereka”. Artinya, Iblis mentarget korbannya pada kisaran angka 75%-90%. Sebuah jumlah yang cukup banyak, bukan?. Sehingga, kalau kita masukkan ke dalam hitungan, maka dari populasi manusia saat ini yang berjumlah 7 milyar, maka Iblis akan mendapatkan korban sejumlah 4-6 milyar manusia. Sebuah jumlah yang  fantastis, bukan?.  Atau, kalau mau diperkecil, katakanlah korban Iblis adalah 7 dari 10 orang manusia. Apakah perkiraan itu tidak terlalu berlebihan?.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, maka kita harus mengetahui modus yang akan digunakan oleh mahkluk terlaknat ini. Apa itu?

Iblis memiliki modus dengan mempengaruhi dan merusak 5 sendi pertahanan manusia yaitu pada kemaluan, perut, dada, mulut dan pikiran. Setidaknya 5 (lima) komponen ini disarikan dari berbagai  ayat dan hadis nabi yang menunjuk pentingnya menjaga 5 kompoen ini, baik tersurat maupun tersirat.

Saya kira, berbagai kerusakan yang dilakukan manusia di muka bumi ini pada dasarnya berpunca pada penyimpangan dalam menggunakan atau utiiilisasi bagian tubuh ini.  Bagian fisikal ini sangat urgen bagi kehidupan manusia  baik untuk mempertahankan hidup maupun meneruskan keturunan dan kehidupan di planet ini. Namun, kelima bagian tubuh ini juga berpotensi destruktif danmampu menghancurkan sendi-sendi kehidupan manusia. Tentunya, kalau disalahgunakan .

Bagaimana cara memperkuat sendi pertahanan manusia di 5 titik ini? Saya kira Ramadhan adalah jawabannya. Puasa di bulan ini diharapkan mampu memperkuat atau tuning up komponen vital ini. Selama proses tune up atau recovery, atau entah apalah nama lainnya, maka utilisasi komponen ini seharusnya diminimalkan dahulu. Diistirahatkan kalau bisa. Kemaluan, perut, dada, lisan dan pikiran diistirahatkan sejenak. Bukan dimatikan ya, tapi diminimalisir penggunaannya.

Proses tuning up ini akan sia-sia tanpa ada kemauan dan tekad yang kuat. Ibarat mobil, apakah mungkin kita mengganti onderdil atau olinya sementara mobil dibiarkan terus berjalan dan bergerak?. Tentu saja proses tuning up akan amburadul dan tidak membuahkan hasil. Bisa-bisa malah merusak komponen mobil.

Ramadhan adalah proses tuning up. Turun mesin atau service diri kita, secara fisikal, emosional dan spiritual. Kita melakukannya untuk memprkuat benteng pertahanan dan melancarkan kinerja mesin diri kita sehingga serangan musuh utama manusia tadi menjadi tak terasa. Invulnerabel. Tidak bisa diserang lagi.Outputnya adalah taqwa yang memancarkan semua kemampuan pertahanan terbaik dari segala ancaman kehidupan dunia.

Pertanyaan sekali lagi, apakah kita telah memberikan waktu yang maksimal dan proses yang benar dalam melakukan ibadah di bulan Ramadhan ini?. allahu a'lam. Mudah-mudahan demikian adanya. Beware of The Attack. Berhati-hatilah dengan serangan Iblis. Kita berdoa Allah membantu kia dalam untuk proses penguatan itu. Yuk, saling menjaga.

Insyallah, akan disambung di tulisan berikutnya.

Post a Comment

0 Comments