By: M. Ridwan
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian Aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. (Al-A'raf 16-17)
Perjalanan kita menuju Tuhan
seharusnya menyenangkan. Bahkan, kendati ada aral melintang dan cobaan
kehidupan, perjalanan kita inipun seharusnya tetap membuat happy, enjoy
dan membahagiakan. Analoginya, mungkin seperti kita mendapatkan sebuah voucher
wisata dari Presiden. Voucher itu berisikan misi menikmati dan menaklukkan
puncak Himalaya. Menyenangkan dan menantang, bukan? Tentu saja. Tidak semua orang bisa mendapatkan
peluang ini. Puncak gunung dengan salju abadi dan indah ini layak diperjuangkan. Sensasinya, gimana gitu.
Mungkin, setelah nanti berada di puncak, kita bisa selfie
dan menggugah foto perjalanan di FB atau Instagram. Keren, bukan? Kita pasti bangga mendapatkan kesempatan
ini karena rekan-rekan kita yang lain mungkin tidak mendapatkannya.
Namun,
sesampainya di sana, apa yang kita hadapi?. Ternyata, di hadapan kita menghadang cuaca dingin tak bersahabat. Jalur pendakian sangat mengerikan dan maut setiap saat menanti. Banyak sekali korban yang telah jatuh. Menghadapi kondisi ini, kita pasti akan terus “memaksa
dan memotivasi” diri bahwa ini adalah perjalanan yang menyenangkan. Tantangan itu mengasyikkan. Kita
melakukan affirmasi kepada diri ini bahwa misi harus dituntaskan dan harus berhasil
sampai ke negeri asal kita, Indonesia.
Nah, masalah yang membuat
perjalanan kita menjadi menyulitkan biasanya terkait teknis dan rute perjalanan.
Mungkin, tidak ada orang yang memberitahukan rute terdekat dan ter-aman. Atau, kita
tidak memperdulikan rambu-rambu pendakian. Kita sok jagoan, gitu. Merasa pintar dengan otak kita.
Jika demikian kondisinya maka tentu saja perjalanan kita menaklukkan Himalaya akan sangat menyiksa, menakutkan dan pasti akan membuat kita benar-benar tergelincir ke jurang yang dalam. Pasti kita tak akan pernah berhasil kembali ke negeri asal. Apa mau dikata, bukan kesenangan dan kenikmatan yang diperoleh, namun justru kekecewaan, kesedihan dan ketidakmampuan untuk kembali ke Indonesia dalam keadaan bahagia.
Jika demikian kondisinya maka tentu saja perjalanan kita menaklukkan Himalaya akan sangat menyiksa, menakutkan dan pasti akan membuat kita benar-benar tergelincir ke jurang yang dalam. Pasti kita tak akan pernah berhasil kembali ke negeri asal. Apa mau dikata, bukan kesenangan dan kenikmatan yang diperoleh, namun justru kekecewaan, kesedihan dan ketidakmampuan untuk kembali ke Indonesia dalam keadaan bahagia.
Begitulah kondisi kita di dunia
ini. Rutenya sudah jelas yakni menuju akhirat. Guide perjalanan sudah lengkap
ada yaitu Alquran dan Hadis. Pengalaman para pejalan menapaki rute dunia juga
sudah kita ketahui. Termasuk juga para pendaki yang gagal dan jatuh ke jurang. Masalahnya,
jalur apa yang kita pilih dan petunjuk mana yang diikuti. Apakah kita akan
berlaku sok jago dan sok tahu sehingga justru tersesat dan jatuh ke jurang?
Wallahu ‘alam.
Namun, ada satu hal lain yang menyebabkan perjalanan kita
menuju Tuhan terhambat. Apa itu? tidak lain adanya makhluk pengganggu yang
dengan sigap akan menggelincirkan kita dari rute yang benar. Itulah Iblis dengan para setan pengikutmya.
Ayat di atas adalah “ancaman” Iblis kepada Allah. Lho, kok
berani sekali ya?
Ia sesumbar dan bertekad tidak akan
membiarkan manusia berada pada rute yang benar (shiratal mustaqim). Ia tidak
rela manusia membaca manual book pendakian. Dendamnya membuncah sampai ke
ubun-ubun. Dia tidak rela menusia merasakan nikmatnya perjalanan mendekat
Allah. Baginya, manusia adalah batu sandungan dan penyebab dirinya dicampakkan
dari surga.
Apa target utama Iblis?
Jawabannya ditemukan pula dalam ayat di atas yaitu supaya manusia tidak
bersyukur. Kata “aksarahum” bermakna “sebagian besar dari mereka”.
Artinya, Iblis mentarget korbannya pada kisaran angka 75%-90%. Sebuah jumlah
yang cukup banyak, bukan?. Sehingga, kalau kita masukkan ke dalam hitungan,
maka dari populasi manusia saat ini yang berjumlah 7 milyar, maka Iblis akan
mendapatkan korban sejumlah 4-6 milyar manusia. Sebuah jumlah yang fantastis, bukan?. Atau, kalau mau diperkecil, katakanlah korban
Iblis adalah 7 dari 10 orang manusia. Apakah perkiraan itu tidak terlalu berlebihan?.
Sebelum menjawab pertanyaan di
atas, maka kita harus mengetahui modus yang akan digunakan oleh mahkluk
terlaknat ini. Apa itu?
Iblis memiliki modus dengan
mempengaruhi dan merusak 5 sendi pertahanan manusia yaitu pada kemaluan, perut,
dada, mulut dan pikiran. Setidaknya 5 (lima) komponen ini disarikan dari
berbagai ayat dan hadis nabi yang
menunjuk pentingnya menjaga 5 kompoen ini, baik tersurat maupun tersirat.
Saya kira, berbagai kerusakan yang dilakukan
manusia di muka bumi ini pada dasarnya berpunca pada penyimpangan dalam
menggunakan atau utiiilisasi bagian tubuh ini.
Bagian fisikal ini sangat urgen bagi kehidupan manusia baik untuk mempertahankan hidup maupun meneruskan
keturunan dan kehidupan di planet ini. Namun, kelima bagian tubuh ini juga berpotensi
destruktif danmampu menghancurkan sendi-sendi kehidupan manusia. Tentunya,
kalau disalahgunakan .
Bagaimana cara memperkuat sendi pertahanan
manusia di 5 titik ini? Saya kira Ramadhan adalah jawabannya. Puasa di bulan
ini diharapkan mampu memperkuat atau tuning up komponen vital ini. Selama
proses tune up atau recovery, atau entah apalah nama lainnya,
maka utilisasi komponen ini seharusnya diminimalkan dahulu. Diistirahatkan
kalau bisa. Kemaluan, perut, dada, lisan dan pikiran diistirahatkan sejenak.
Bukan dimatikan ya, tapi diminimalisir penggunaannya.
Proses tuning up ini akan
sia-sia tanpa ada kemauan dan tekad yang kuat. Ibarat mobil, apakah mungkin
kita mengganti onderdil atau olinya sementara mobil dibiarkan terus berjalan
dan bergerak?. Tentu saja proses tuning up akan amburadul dan tidak
membuahkan hasil. Bisa-bisa malah merusak komponen mobil.
Ramadhan adalah proses tuning
up. Turun mesin atau service diri kita, secara fisikal, emosional dan spiritual. Kita melakukannya untuk memprkuat benteng pertahanan
dan melancarkan kinerja mesin diri kita sehingga serangan musuh utama manusia
tadi menjadi tak terasa. Invulnerabel. Tidak bisa diserang lagi.Outputnya adalah taqwa yang memancarkan semua kemampuan pertahanan terbaik dari segala ancaman kehidupan dunia.
Pertanyaan sekali lagi, apakah
kita telah memberikan waktu yang maksimal dan proses yang benar dalam
melakukan ibadah di bulan Ramadhan ini?. allahu a'lam. Mudah-mudahan demikian adanya. Beware of The Attack.
Berhati-hatilah dengan serangan Iblis. Kita berdoa Allah membantu kia dalam untuk proses penguatan itu.
Yuk, saling menjaga.
Insyallah, akan disambung di tulisan berikutnya.

0 Comments