By: M. Ridwan
Kalau mau jujur diakui, keberadaan kita di bumi ini tidaklah hebat hebat banget. So, jangan sombong, angkuh dan lupa diri. Demikian, pesan-pesan yang dapat kita temukan dalam kitab suci Alquran.
Artinya, andaikan kita meninggal dunia, detik ini juga, maka sistem dan mekanisme bumi niscaya tidak akan terganggu. Tanpa kitapun, dunia tetap adem ayem, berjalan tak kurang apapun. Berbagai problem yang mungkin ingin kita pecahkan semasa hidup juga akan tetap ada setelah kita pergi. Orang lain yang mungkin menyelesaikannya.
Tanpa kitapun, Tuhan kita tetaplah Allah dan Iblis serta setannya juga yang itu-itu juga. Entah itu dari kalangan jin atau manusia.
Demikian juga, orang miskin dan kaya tetap akan bermunculan, termasuk juga para durjana dan orang mulia, pasti muncul silih berganti. Sampai titik akhir kehidupan bumi ini. Bukankah demikian, sahabat? So, jangan gundah gulana, apalagi sampai stress ya,,Peace...hehe...
Apa maksud tulisan saya kali ini? Sepertinya, terbang tinggi sekali ya? "Beyond banget", meminjam kata teman saya, Mr. Syakir.
Tulisan ini nothing special, bro. Ini hanyalah artikel biasa kesekian kalinya dalam blog sederhana bertema "gaya-gayaan" ini. Polanya juga sama seperti tulisan ngalur ngidul sebelum-sebelumnya yaitu ditulis secepat dan se-ringan mungkin.
Makanya, saya akan segera men-delete sebuah tulisan jika akan menghabiskan waktu lebih dari yang saya perkirakan. Ngak ada gunanya lagi. Bagi saya, sebuah artikel ringan hanya boleh menghabiskan waktu paling lama 1 jam saja. Malah, seharusnya setengah jam. Jika lebih dari itu, saya pasti akan tinggalkan, dan mendapat tanda "draft" di blog ini. Wong tulisan ringan kok, seharusnya cepat ditulis dan di-publish. Kalau pakai lamanya, berarti saya punya kecendrungan atau tendensius tuh. Ada maksud "jeleknya". Jadi harus to the point saja, ngak pakai ribet. Tulis saja apa yang di keluar di pikiran. Selesai. Begitu sih, inginnya. :)
Memang, setiap artikel yang ditulis di blog ini, selalu memiliki konteks dan latar belakang tertentu. Misal, ketika menulis tentang Bisnis Pesisir Pantai terdahulu, saya terinspirasi dari polemik tentang reklamasi pantai yang terjadi di Indonesia. Atau lagi, ketika tulisan berjudul "Money Talks" diangkat, seingat saya, itu terinspirasi dari fenomena masyarakat Indonesia yang sudah mulai terjangkiti penyakit hedonisme dan materialisme termasuk saya. Namun, semua artikel yang ditulis pada dasarnya ditujukan untuk konsumsi pribadi kok, bukan untuk menyinggung apalagi mendeskreditkan orang lain. Ampun tuan, mana berani kita melakukannya. Bisa jadi noktah hitam dalam catatan langitku, susah menghapusnya. Hehe
Demikian juga tulisan kali ini. Ditujukan kepada diri pribadi. Syukur-syukur bisa menginspirasi sehingga bisa jadi amal jariyahku yang tak seberapa itu. Jikapun tidak, tentu juga bagus, biar daku tidak besar kepala dan kege-eran, merasa sok hebat atau kecewa, gitu...Menulis harus mengalir dari hati, kata bang Ali Murthado, jurnalis top di Kota Medan.
"Kehidupan Di Seberang Makam". Ya, itu adalah istilah dari Buya Syafi'i Ma'arif, yang pernah saya baca di Republika. Malam ini, saya teringat kembali dengan tulisan ini. Tokoh hebat ini menceritakan panjang lebar tentangnya pentingnya mendesain kehidupan dunia sehingga kita bisa memiliki bekal di kehidupan akhirat nanti, "kehidupan di seberang makam."
Saya teringat dengan tulisan Buya ini ketika malam ini menghadiri peringatan 40 hari wafatnya Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis, yang merupakan tokoh pendidik di Indonesia, khususnya Sumut. Secara kebetulan dan berbarengan pula dengan wafatnya tokoh besar hadis di Indonesia, KH Mustafa Ya"kub, sekaligus Imam Besar Mesjid Istiqlal, Jakarta.
Dua tokoh di atas adalah pencinta ilmu. Lebih dari itu, mereka juga penyebar ilmu. Amal jariyah mereka bejibun.Banyak sekali. Pahala mereka saya yakin tak terkira. Mereka layak dicemburui dan ditiru, sama seperti para ulama dan shalafus shaleh lainnya yang pernah diceritakan dalam buku-buku sejarah dunia.
Lalu, apa terjadi di kehidupan seberang makam itu? Wallahu a'lam. Kita hanya mengetahui secuil dari kemungkinan skenario yang terjadi. Kita tidak memiliki informan akurat yang menceritakan secara detail pengalamannya di sana.
Satu-satunya sumber tentulah informasi Alquran dan Hadist. Dengannya, kita tahu bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kita akrab dengan nama Nunkar dan Nakir. Kita hapal nama malaikat Ridwan dan Malik dan kita tahu ittenary perjalanan kita menuju surga. Tahap demi tahap. Kendati tidak detail.
"Kehidupan di Seberang Makam" bisa jadi menakutkan dan bisa sangat menyenangkan. Bagi praktisi dan penggemar amal shaleh, pastilah akan mendapatkan kehidupan yang membahagiakan. Sebaliknya, sang durjana dan pembangkang perintah-Nya, akan berjalan terseok-seok menuju neraka dan meratapi nasib tragisnya.
Entah seperti akhir kehidupan kita nantinya ketika memasuki dan melewati seberang makam. Akankah penuh cahaya atau justru kegelapan pekat dan menyiksa. Who knows? Berdoalah, bertindaklah sekarang juga.....!!!, lindungi kami Ya Allah....

0 Comments