Ticker

6/recent/ticker-posts

Money Talks: Ketika Uang Bak Sabda Raja (bag. 2)

By: M.Ridwan

Ini lanjutan tulisan beberapa waktu lalu. Money Talks. Uang berbicara. Sebenarnya ini adalah judul film yang dilakonkan Chris Tucker, tapi sepertinya relevan dengan kejadian beberapa hari ini. Apa itu? Tentu saja terkait dengan peristiwa Panama Papers yang menghebohkan dunia saat.

Panama papers atau Dokumen Panama memberitakan modus yang dilakukan pemilik dana untuk menyimpan dananya di wilayah tax heaven. Bebas atau rendah pajak. Makanya disebut "surga pengemplang pajak"  dari berbagai negara. Misalnya British Virgin Island atau Panama.

Modus ini biasa dilakukan para pelaku cuci uang. Tekniknya dengan memakai jasa perusahaan lain untuk memasukkan dana seorang klien ke dalam instrumen investasi lain sehingga terkesan bersih dan halal.

Memangnya, apa yang menarik dari berita tentang Panama Papers ini? Tidak lain karena dengar-dengar, sih, banyak juga pengusaha Indonesia yang juga masuk ke dalam list ribuan tokoh di dengan kejadian ini. Jumlahnya diperkiraan ratusan trilyun. Indonesia hebat. Mudah-mudahan nama kita tidak ada di daftar itu, ya..:)

Kendati, dalam dokumen Panama disebutkan bahwa tidak semua pelaku bermaksud untuk melakukan aksi ilegal, namun informasi yang dibeberkan oleh gabungan jurnalis dari seluruh dunia ini menyebabkan otoritas negara-negara dunia turun tangan menyelidiki warganya. Wajar mereka curiga dan "marah". Mau enak-enak saja sih. Sebagian negara termasuk Indonesia bahkan akan memberikan pengampunan pajak (tax amnesty) bagi miliarder yang menyimpan dananya di luar negeri.

Money Talks.
Uang memang selalu memiliki pesona dan sering menyihir. Demi mengejarnya, orang tega berperang, menyebarkan kedengkian dan saling sikut sana-sini.

Mencari uang bagi banyak orang itu sulit, namun bagi sebagian orang lain, justru mudah apalagi bagi para manusia yang sering bersentuhan dengan sumber uang atau pengendalinya. Biasanya, para penguasa, pengusaha, kriminal, dan selebritis sering diidentikkan dengan para pemilik uang banyak ini.

Gap antara golongan the have (berpunya) dan the have not (tak berpunya) akan uang, selalu ada dalam setiap jaman. Makanya, Islam melarang keras uang hanya beredar di kalangan sebagian orang. Dikarenakan fungsinya sebagai alat tukar, maka menyimpannya dengan maksud untuk ditimbun hanya akan memperlambat dan bahkan merusak ekonomi masyarakat.

Allah sangat mengutuk penimbun uang yang tidak mau "menafkahkannya" untuk orang lain. Al-Ghazali menyebutnya sebagai air busuk yang harus disalurkan. Semakin ditimbun, maka semakin busuklah pemiliknya. Bukankah demikian?

Syukurlah, Tuhan tidak mengukur keistimewaan manusia dari uang yang dimilikinya. Seberapapun uang yang dimilikinya, manusia pasti terlihat miskin di hadapan Allah. "Apakah kamu mengira bahwa Aku akan minta rezeki dan makan darimu?". Akulah yang Maha Kaya", Aku yang memberimu makan," demikian kata Allah mengingatkan di surat Az-Zariyat.

"Ringankan bawaanmu menuju akhirat" kata Nabi mengingatkan. Maksudnya tentu bawaan atau bekal dalam bentuk pertanggungjawaban harta. Semakin ringan maka semakin bagus. Ringan yang dimaksud bukan dari sisi kuantitas tapi kualitas harta. Artinya, jika kita memiliki harta trilyunan rupiah sekalipun, namun diperoleh dari jalan halal dan dinafkahkan dengan maksimal, maka saya kira, itu tetap ringan dihadapan Allah.

Demi mencari uang, orang rela sibuk. Pagi siang, sore dan malam. Seolah-olah, mau memberi makan Tuhan, bukan?. "Soalnya sibuk sih, Tuhan. Maafin kalau aku ninggalin sholat dan melanggar aturan-Mu. Soalnya, enak sih Tuhan kalau makan uang haram. Maklumin kami ya Tuhan, karena masih miskin dan belum mapan". Dan, masih banyak lagi pembenaran (execuse) yang kita sampaikan.

Saya teringat saja dengan sebuah Hadis Qudsiy, (yaitu firman Allah yang tidak disebutkan dalam Alquran):
"Wahai hamba-Ku, luangkanlah waktumu untuk ingat dan beribadah kepadaKu, niscaya Aku akan memberikan kekayaan ke dalam dadamu dan menghindarkanmu dari kemiskinan. Namun, jika engkau tidak melakukannya (sok sibuk, pen-), maka Aku akan terus memberikan kesibukan itu ke dalam hidupmu dan tidak akan menghilangkan kemiskinan dalam hidupmu".

Mungkinkah kita yang dimaksudkan Allah?. Manusia yang sok sibuk ini?.
Bisa jadi..

Post a Comment

0 Comments