By: M. Ridwan
Minggu lalu, saya pulang kampung. Rutinitas ini selalu memberikan moment reflektif bagi saya dan sekeluarga. Bukan saja karena kampung halaman adalah tempat daku dilahirkan, namun, dinamika kampung selalu memberikan tambahan-tambahan segar terhadap bagaimana kita memahami perjalanan sebuah kehidupan. Born, grow bigger, actuating and die. Lahir, besar, beraktualisasi dan mati. Tentu dalam keberkahan. Saya kira, kita semua merasakan hal yang sama ketika pulang kampung, bukan?
Di kampung, warga kami sedang menanti suksesi kepala desa. Calonnya ada 5 orang. Spanduk dan poster bakal calon bertebaran. Semuanya ingin menunjukkan kesan yang sama. Mungkin saja pesannya, "Aku lho, yang cocok jadi Kepala Desa," atau "Pilih aku ya, aku punya program yang hebat." Kendati dipajang di poster, namun dengar-dengar dari warga, para calon kades yang berlima ini kelihatan malu-malu dan lebih terkesan low profile. Tidak terdengar upaya saling menjatuhkan apalagi black campaign. Mereka monggo saja jika tidak terpilih. Syukurlah.
Terkait tulisan sebelumnya. Ada pertanyaan, "Apakah sindrome ini bisa diarahkan ke tujuan positif?. Misalnya, untuk memunculkan semangat berkompetisi dan melakukan yang terbaik? Atau keinginan untuk menunjukkan hal terbaik?. Misal, dalam pilkades di atas?
Saya kira, untuk konteks itu, kita bisa menggunakan istilah lain saja, bukan sindrome " Aku Lebih Baik Darimu". Mungkin, kita bisa menggunakan istilah seperti "Need for Achievement" atau juga "berlomba-lomba dalam kebaikan" seperti yang disampaikan Alquran.
"I am Better Than You" itu konotasinya negatif, merendahkan orang lain dan arogan, meskipun mungkin tidak diucapkan.
Islam memperkenalkan istilah takabbur atau sombong yang diungkapkan, baik dengan kata-kata ataupun perbuatan. Nah, selain itu, kita mengenal istilah 'ujub atau merasa takjub dengan kehebatan diri sendiri.
Bedanya dengan takabbur, 'ujub tidak kelihatan. Tidak ada kata dan ekspresi kesombongan. Dia hanya disimpan di dalam hati. "Aku ini hebat sekali. Kata-kataku, kok, selalu didengar ya. Keluargaku adalah turunan orang hebat ya. Aku berasal dari kelompok yang paling hebat. Usahaku kok lancar terus ya, berarti aku dekat Tuhan, nih."
Si pemilik 'ujub merasa hebat sendiri. Bangga sendiri dan tentu memandang remeh orang lain. Lagi-lagi, hanya tersimpan di hatinya dimana hanya ia dan Tuhan yang mengetahuinya.
'Ujub melahirkan takabbbur, yang ekspresif. Adapun gejalanya ini yang saya maksudkan dengan sindrome " I am Better Than You" tadi.
Bagaimana kalau kita tarik ke contoh riil?
Boleh saja.
Misal, ketika pemimpin Korea Utara, Kim Jon Un, berupaya memprovokasi Korsel, apakah ia terkena sindrome ini?. Bisa iya, bisa tidak juga.
Kalau itu dilakukan dengan penuh keyakinan bahwa Korut itulah negara terbaik dan harus menguasai, maka ia pasti kena sindrome itu. Namun, jika yang ia lakukan hanya untuk "mempertahankan" eksistensi negaranya dari ancaman hegemoni negara lain, maka saya, masih bisa memaafkan. Lho, kok saya sih. Memangnya, saya warga Korsel?. Hehe.
Sayangnya, kalau terkait hegemoni. Sejarah memang menunjukkan bahwa imperialisme atau kolonialisme yang melahirkan peperangan, selalu saja di awali dari sindrome "Aku/kami lebih hebat". Karena lebih hebat, maka kami bebas menginjak negara lain. We are the best, you harus ikuti aturan kami. Titik.
Tapi, mari kita lihat contoh lain.
Thailand adalah negara yang pernah belajar pertanian dari Indonesia. Mereka pernah menjadi murid kita. Tapi, jangan ditanya kini. Produksi pertanian mereka melimpah dan berhasil melakukan inovasi dan efisiensi.
Sehingga, seorang petani Thailand bisa memperoleh hasil pertanian yang lebih banyak dari petani Indonesia, meski areal yang mereka garap sama. Makanya, kita mengimpor beras, terus-menerus dari mereka. Kalau lebih menguntungkan dan efisien kalau diimpor, why not? Iya kan?
Nah, ketika Thailand lalu memgklaim " We are The Kitchen of The World, Kami adalah dapur dunia." Apakah mereka sombong dan terkena sindrome ini?
Saya kira tidak. Tag itu adalah upaya memberi semangat penduduknya supaya berorientasi pada efisiensi tadi.
Saya kira. Indonesia bisa juga sih. Kita bisa mengatakan misal "Kami adalah contoh negara multietnis yang (dulu) rukun dan damai. Kami adalah negeri yang (dulu) ramah dengan tamu. Kami (dulu) menjunjung etika dan kesopanan, dst. Harap dihilangkan kata "dulu" nya ya...:)
Terserahlah. Pokoknya, takabbur itu tidak boleh. Karena sifat itu dimiliki 'Azazil, maka ia dicampakkan dari surga. Dan, kata Nabi, seseorang tidak akan bisa masuk surga, jika ada kesombongan di hatinya. Meski setitik debu, sekalipun. Ngeri....
Saya kadang menduga saja. Apakah keruwetan dunia, negeri, tempat kerja, atau keluarga kita -dimana suasana surga tak terasa lagi- adalah indikaror bahwa kita memang sudah lama mengidap sindrome "Aku Lebih Baik Darimu?" ini?. Wallahu a'lam. Saya hanya berdoa, semoga calon kades di kampung saya tidak terkena sindrome ini. Tunjukkan bahwa kalian itu orang Islam sejati dan orang Indonesia asli, ya....

0 Comments