Ticker

6/recent/ticker-posts

Ketika Bawang Merah dan Cabe Merah, Ngambek

By: M. Ridwan

Judul ini bukan tentang kisah 2 putri berbeda karakter yang selalu menjadi dongeng pengantar tidur anak-anak Indonesia. Itu lho, kisah seorang anak perempuan bernama Bawang Putih yang dizalimi ibu tirinya yang memiliki anak perempuan bernama Bawang Merah. Kisah rakyat ini adalah "made in" Indonesia. Tapi, saya amati, kok agak sedikit mirip dengan kisah Cinderella ala Eropa?. Entahlah...

Anda juga tidak akan mendapatkan judul artikel ini di kisah "1001 Arabian Nights" yang terkenal itu. Dongeng terkenal tentang raja zalim yang "ditaklukkan" oleh seorang puteri cerdas nan cantik yang hanya "bersenjatakan" kisah-kisah inspiratif yang diceritakannya kepada sang raja selama 1001 malam. Akhirnya, sang raja sadar dan berubah baik karena ternyata dalam cerita-cerita sang puteri, terselip pesan-pesan hikmah dan  kebaikan. Ending- nya, dapat ditebak. Si puteri dipersunting oleh sang raja dan mengantarkan kerajaan itu kepada puncak kejayaan dan kemakmurannya.

Kisah "1001 Malam" sangat menarik. Sampai-sampai saya dan isteri menjadikan nama sang puteri cerdas itu yaitu "Shaharazede" menjadi nama putri pertama kami, "Aisha Shahrazeida". Doanya, moga dia bisa sebijak Aisyah, isteri nabi dan secerdas "Shaharazede".

Sayangnya, Bawang Merah dan Cabe Merah dalam tulisan ini bukan cerita seperti itu. Lalu, apa?

Ini tentang "kisah" inflasi Sumatera Utara yang sampai akhir April 2016 ini menunjukkan angka fantastis. Telah menyentuh angka 2%. Padahal, kita baru memasuki April dan belum menyelesaikan tahun 2016. Target inflasi Indonesia di tahun 2016 adalah sekitar 4%+1% saja. Dengan "capaian" tersebut, maka tak heran, jika posisi Sumatera menjadi ranking  1 inflasi di Indonesia. Info ini saya dapatkan ketika menghadiri acara terbatas Forum Regional Economist minggu lalu, di Bank Indonesia.

Apa penyebabnya?
Ya, itu dia. Kenaikan komoditas rempah-rempah terutama bawang merah dan cabe merah menjadi biang keroknya. Kemitraan bawang merah dan cabe merah agaknya serasi ya. Pasangan ideal, chemistry mereka nyambung. Lho, apa hubungannya?

Sebenarnya, kenaikan pada sektor pangan lain juga terjadi, termasuk bawang putih yang merupakan "saudara tiri" bawang merah dalam dongeng di awal tulisan ini. Hehehe.

Jika inflasi ini tidak diantisipasi segera, maka tentu akan berpengaruh kepada harga-harga lain. Bukan tidak mungkin akan menurunkan daya beli dan meningkatkan pengangguran. Gawat. Sampai sebegitu ya? Off course, bro. Itulah kenyataan ekonomi.

Hari ini, saya mendapat info bahwa kenaikan si bawang merah dan cabe merah juga menjadi fenomena nasional. Betapa hebatnya si bawang merah dan cabe merah ini.

Saya, Anda dan para laki-laki di negeri ini mungkin tidak banyak yang tahu  atau "peduli" dengan hal yang berbau bawang atu rempah. Tahunya cuma makan saja sih:). Tapi, bagi para ibu, sudah pastilah mereka sangat konsen. Ini bukan bias jender ya. Tanyakan kepada mereka. Saya lihat, diskusi ibu-ibu di warung Agus, dekat rumah saya agak hangat beberapa minggu ini. :)

Apa faktor pemicu inflasi ini? Salah satunya adalah adanya hambatan dalam distribusi rempah ini dari petani ke pasar. Untuk mengatasinya? Ya hilangkan hambatan itu. Perbaki infrastruktur sehingga tata niaganya menjadi lancar. Mudah-mudahan Tim Penanggulangan Inflasi Daerah bisa mengatasinya. Amin.

Yang jelas, tanpa bawang merah dan cabe merah, apalah artinya sensasi sebuah acara makan, bukan?. Bisa-bisa Warung Nasi pada tutup.

Tapi, saya kira, mungkin ada satu hal yang harus kita pahami. Ternyata, masalah makan dan perut ini bisa menjadi pelik dan menaikkan tekanan darah. Bisa buat stress dan buat orang gelap mata.

Tapi, gimana lagi? Makan adalah kebutuhan. Makanya, harus disikapi dengan bijak. Makan tentu boleh apalagi yang halal dan menjadi energi untuk beribadah. Namun, alangkah lebih bijaknya kita bisa melakukan pengendalian sejak dini.

Kalau saya ditanya bagaimana caranya? Hmm, mengapa tidak mengamalkan ajaran Rasul saja untuk berpuasa?, entah itu puasa Senin Kamis atau puasa ala Nabi Daud, atau mengurangi konsumsi berlebih?

Nah, untuk rekomendasi puasa ini tentu tidak akan Anda temukan di rencana kerja TPID atau buku-buku ekonomi. Namanya juga, blog gaya-gaya. Iya kan? Kita tunggu saja bagaimana akhir cerita si bawang merah dan cabe merah ini, ya.

Post a Comment

0 Comments