By: M. Ridwan
Film "Drunken Master" dipopulerkan pada tahun 1978 dengan bintang utamanya adalah Jackie Chan, aktor kawakan Hongkong. Film ini menceritakan tentang seorang pendekar mabuk. Ya, mabuk beneran. Meski "tenggen" (mabuk: bahasa Medan) dan melancarkan serangan seperti tidak tentu arah, namun ia justru berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.
Film ini sangat terkenal sehingga sekuelnya terus diproduksi pada tahun 1994 dan 2010. Film ini ditonton oleh jutaan manusia di planet ini. Hebat, orang mabuk saja bisa terkenal.:). Mungkin ada hubungannya dengan terjadinya peningkatan jumlah produksi minuman keras dan jumlah pemabuk di dunia.
Dalam dunia nyata, kita tahu, bahwa sosok pendekar mabuk ini pasti tidak ada. Itu adalah sosok fiktif. Mana mungkin ada orang mabuk yang bisa bertindak seperti orang waras. Apalagi jika sampai menenggak berguci-guci tuak atau arak seperti yang ditunjukkan dalam film. Orang mabuk pasti akan kehilangan pikiran warasnya, ia akan bertindak irrasional. Pikirannya rusak. Berbagai kasus kriminal biasanya diawali dengan aktifitas mabuk. Beberapa bule mabuk yang saya lihat -di sebuah kawasan wisata sangat terkenal di Indonesia-, justru sering terkapar di emper-emper toko atau di jalanan.
Tapi, namanya manusia kini. Semakin fiktif semakin seru. Hehe...
Tidak ada yang baik dari sebuah aktifitas mabuk. Alquran menyatakan bahwa daya rusaknya lebih besar ketimbang benefit-nya. Hadis nabi mempertegas keharaman minuman keras dengan menyatakan bahwa minuman memabukkan itu tetap haram meskipun dicicipi sedikit atau dengan dalih hanya memiliki kadar memabukkan yang sedikit. Wah, saya jadi teringat dengan minuman yang katanya, memiliki kadar alkohol 0% dipajang di etalase mini market di Indonesia.
Kita juga pasti pernah mendengar kisah seorang 'abid yang akhirnya melakukan tindakan keji dengan memperkosa dan membunuh seorang perempuan hanya karena ia lebih "memilih" menenggak" khamar karena berpikir bhwa dosanya masih " tidak seberapa" dibandingkan jika ia memperkosa dan membunuh. Tapi, apa lacur? Justru mabuklah yang memicu dirinya untuk melakukan kejahatan lebih besar dan menggerikan. Na'uzubillah.
Nah, kembali kepada Drunken Master tadi.
Pertanyaannya, apakah kita butuh pemimpin yang bertindak ala Drunken Master?. Seruduk sana sini, Tendang kanan kiri dan teriak ke sana kemari?. Wah, kok jadi kayak pantun nih,,,
Bisa saja orang berargumen bahwa Pendekar Mabuk itu oke-oke saja karena ia menumpas kejahatan para begundal di film itu. Orang mungkin mengatakan bahwa bertindak seperti Pendekar Mabuk itu, fine-fine saja. Toh, hasilnya bagus. Tujuannya baik dan tercapai.
Saya memang setuju, jika kita membutuhkan pemimpin yang bertindak tegas, berani kepada ketidakbenaran. Kita butuh pemimpin yang bertindak cepat, tanggap dan tangkas. Untuk negeri yang terjangkit berbagai penyimpangan ini, kita membutuhkan pemimpin yang mampu meluruskan yang "bengkok" dan memperkuat yang "lurus" atau "menghajar" semua kesemrawutan dan bertindak arif bijaksana.
Pemimpin seperti itu dibutuhkan di semua lini masyarakat kita. Tidak hanya tertuju kepada seorang Presiden atau Gubernur, misalnya. Kita butuh pemimpin yang berpikir melampaui (beyond) itu di instansi, di perusahaan, bahkan di rumah tangga kita. Pemimpin seperti ini akan berpikir melewati realitasnya sekaligus mampu bertindak tegas dan cepat. Yakinlah, pemimpin seperti ini selalu ada di setiap jaman dan tempat. Meskipun, tanda-tanda kepunahannya semakin nyata di aad kini.
Harap dicatat sekali lagi ya bahwa yang saya maksudkan adalah "Pemimpin", bukan sekedar "Pejabat," karena tidak semua pemimpin itu adalah "Pejabat" dan tidak setiap "Pejabat" itu adalah pemimpin. That's the reality. Jangan marah.
Negeri ini punya banyak petatah petitih tentang kepemimpinan. Ada Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani. Ini, pelajaran waktu SD lho. Intinya, jadi pemimpin itu, mengayomi membimbing dan mengawasi. Penuh kelembutan dan kearifan sekaligus tegas.
Saya memang setuju bahwa berbagai dimensi kehidupan masyarakat kita saat ini sudah parah. Lihat saja kesenjangan ekonomi, Gini Ratio. Lihat pula dekadensi moral. Amati dengan seksama kasus-kasus kriminalitas. Semakin bertambah dan aneh-aneh bukan? Atau, bersiap-siaplah memasuki era "narkoba community" atau " Sabu-Sabu Zone" karena banyaknya pecandu narkoba muncul di negeri ini. Menembus batas dan sekatan sehingga kasus narkoba bisa ditemukan di tempat-tempat yang rasanya mustahil bisa ditembus. Lihat saja berita tentang penggerebekan narkoba di lapas-lapas negeri ini. Lihat berapa banyak aparat yang dicokok sebagai pengedar. Benar-benar mabuk. Dalam kondisi ini, entah siapa yang harus disalahkan lagi. (Blaming mode: on)
Kita juga memasuki kondisi parah per-korupsian. Keren ya. Entah berapa orang yang sudah disekolahkan oleh KPK, tidak habis-habis juga. Mati satu tumbuh seribu.
Maka saya agak maklum jika ada orang yang menyatakan bahwa ia tidak peduli lagi siapapun yang menjadi Presiden, Gubernur ataupun pemimpin. Mau mabuk kek, mau tidak punya tuhan kek, yang penting semua kejahatan dan penyimpangan tadi sirna dari negeri ini.
Hemat saya.
Tidak perlu panik seperti itulah bro. Saya yakin pemimpin tegas, arif dan lembut itu masih ada di Indonesia. Kita tidak perlu pemimpin ala Drunken Master. Itu ngaco dan khayalan. Kita butuh pemimpin bergaya Umar bin Abdul Aziz dan setegas Umar bin Khattab.
Untuk mewujudkan pemimpin yang adil dan arif bijaksana itu butuh doa tulus dari kita. Doa yang tulus itu menembus 'Arasy dan menggetarkan langit.
Tentunya, berdoa yang dilakukan harus ikhlas dan tentu tidak dalam keadaan "mabuk". Nanti, malah diberikan pemimpin yang benar-benar suka "mabuk". Semoga tidak.

0 Comments